Kenduri Sko adalah bentuk perayaan rasa syukur terhadap semua yang diwariskan para leluhur. Upacara itu juga termasuk mewariskan pusaka berupa senjata, keris, tombak, dan lainnya serta pengangkatan pemangku adat.
Tradisi ini hidup dan lestari dalam masyarakat suku Kerinci di Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Suku tertua di Sumatera ini yang memiliki beragam kekhasan budaya, sudah sejak zaman dahulu menggelar Upacara Adat Kenduri Sko.
Upacara adat ini digelar setiap lima tahun sekali sebagai bentuk perayaan dan rasa syukur atas hasil panen padi. Tradisi ini juga meliputi pengangkatan ketua adat serta pewarisan benda-benda pusaka adat yang harus dijaga oleh keluarga terpilih.
Selain sebagai melestarikan tradisi dan kebudayaan, upacara ini berfungsi sebagai mempererat tali silaturahmi, menjalin rasa kebersamaan dan kegotong-royongan, serta sebagai wujud rasa bangga masyarakat Kerinci.
Peran Perempuan dalam Kenduri Sko
Perempuan memiliki peranan penting dalam Kenduri Sko, tanpa perempuan upacara ini tidak dapat dilaksanakan. Alasannya karena batino atau anak perempuan menjadi satu-satunya pewaris sko yang dimiliki setiap desa.
Meski dalam pelaksanaannya anak batino dibantu oleh anak jantan atau Depati. Mulai dari persiapan hingga pelaksanaan kaum perempuanlah yang berperan.
Persiapan yang dilakukan seperti membuat lemang, memasak daging, hingga memastikan seluruh warga desa terlibat dalam acara tersebut.
Prosesi Ritual Kenduri Sko
Ritual Kenduri Sko dimulai dari Mendingin pada pagi hari setelah salat Subuh oleh seorang perempuan dayang atau dukun perempuan. Ritual Mendingin bertujuan meminta selamat dan sukses acara yang akan dilangsungkan siang harinya.
Selain itu, dilakukan juga penyiraman air yang sudah dicampur dengan bunga dan beras ke sekeliling lokasi acara. Selama proses ritual, akan diiringi oleh tetabuhan beduk dan gong dibunyikan oleh kaum laki-laki.
Inti kenduri sko adalah tari Iyo-iyo yang dipentakan kaum perempuan di halaman rumah adat.
Tarian yang dilakukan perempuan tua pewaris harta pusaka lebih sakral yang bertujuan untuk mengekspresikan kesetiaan dan penghormatan masyarakat kepada leluhur dan pemimpin negeri yaitu para Depati.
Gerakan tari iyo-iyo meniru aktivitas masyarakat dalam menggarap lahan persawahan, seperti mencangkul, memanen padi, dan lainnya.
Penari perempuan tampil menggunakan pakaian serba merah dan kuning. Warna ini melambangkan semangat yang membara, optimisme dan kebahagiaan.
Pujian kepada Leluhur
Prosesi selanjutnya dalam Kenduri Sko adalah Parapatoh. Tradisi paratoah berisi puji-pujian kepada leluhur dan pemimpin negeri yang dipertunjukkan dengan cara dinyanyikan atau betale.
Semua penutur parapatoh ini adalah kaum perempuan. Mereka menyanyikannya dengan cara mengulang-ulang syair.
Selain itu, dalam acara Kenduri sko juga banyak menampilkan kesenian, seperti tari sekapur sirih untuk menyambut tamu dan masyarakat sekitar. Ada juga arak-arakan.
Sebelum hari pelaksanaan, masyarakat desa tersebut pasti membuat “lemang” yang akan dibagi-bagikan kepada seluruh masyarakat yang menghadiri upacara. (Anisa Kurniawati-Berbagai sumber)