Kerbau sakti Tolelembunga adalah salah satu legenda khas Desa Sedoa, Kecamatan Lore Utara, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Legenda ini berkisah tentang seekor kerbau betina yang sangat disayangi Puteri Bunga Manila, putri kerajaan yang terkenal di wilayah itu.
Melansir dari laman kebudayaan.kemdikbud.go.id, dalam kepercayaan masyarakat Desa Sedoa, leluhur mereka awalnya mendiami lembah Napu sebelum menetap di Desa Sedoa. Mereka menjaga legenda ini agar tetap hidup dan dikenal generasi selanjutnya.
Dahulu kala, terdapat sebuah kerajaan makmur bernama Kerajaan Sigi, di daerah Sigi-Biromaru, sekira 12 kilometer sebelah selatan Kota Palu. Kerajaan ini dipimpin Ratu Ngilinayo yang bijaksana dan adil. Ratu Ngilinayo memiliki putri bernama Bunga Manila, yang sangat menyayangi seekor kerbau betina bertanduk panjang bernama Tolelembunga. Kerbau tersebut dipercaya memiliki tanduk sepanjang dua meter.
Suatu hari, Tolelembunga menghilang tanpa jejak, tidak kembali ke kandangnya selama beberapa hari. Khawatir akan keselamatan kerbau kesayangannya, Puteri Bunga Manila memerintahkan 40 orang pria untuk mencari Tolelembunga dan membawanya pulang. Mereka akhirnya menemukan kerbau itu di tepi sungai Sopu. Namun saat sampai di tempat bernama Petiro Ue atau Tawaelia, Tolelembunga menolak bergerak lebih jauh karena merasa nyaman di tempat itu.
Baca Juga: Legenda Arya Panoleh di Balik Kelezatan Sate Ayam Madura
Puteri Bunga Manila pun datang menyusul dan memutuskan membangun perkampungan di sana bersama dengan rakyatnya. Namun, setelah tujuh tahun, Tolelembunga kembali menghilang tanpa sepengetahuan Puteri Bunga Manila.
Dalam petualangannya, Tolelembunga menemukan sumber air panas di Wombo, sebuah lokasi dengan pemandangan indah dikelilingi gunung dan padang rumput subur. Ketika Puteri Bunga Manila mengetahui keberadaan kerbau itu, ia menyusulnya dan terpesona keindahan alamnya.
Dari atas gunung, Puteri Bunga Manila dapat melihat lembah Pekurehua (Napu) yang subur dan hijau. Ia kemudian memerintahkan rakyatnya membangun perkampungan yang kemudian dikenal dengan nama Wakabola.
Di sana, Puteri Bunga Manila mendirikan rumah adat “Sowa” sebagai istananya dan “Dusunga” sebagai tempat untuk musyawarah bersama para tetua adat. Di tempat inilah ia bertemu dengan pemuda tampan bernama Sadunia, yang kemudian menjadi suaminya. Di sisi lain, Tolelembungabertemu dengan seekor kerbau jantan besar bernama Beloiliwa, dan dari pertemuan itu, lahirlah keturunan kerbau yang banyak.
Baca Juga: Cerita Rakyat Kota Balikpapan, Asal-Usul Nama Penuh Makna
Seiring waktu, Wakabola berkembang menjadi kerajaan besar di lembah Pekurehua. Dari pernikahan antara Puteri Bunga Manila dan Sadunia, lahirlah Puteri Posuloa, yang kelak menjadi simbol penerus keluarga kerajaan.
Hingga kini, legenda Tolelembunga bukan hanya sekadar cerita rakyat, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya Desa Sedoa dan masyarakat di sekitarnya. Melalui kisah ini, nilai-nilai tentang kepedulian, kesetiaan, dan hubungan erat antara manusia dan alam tercermin, sekaligus menunjukkan kekayaan budaya Sulawesi Tengah. (Diolah dari berbagai sumber)