Cerita Rakyat

Kerbau Sakti Tolelembunga, Legenda Masyarakat Sulawesi Tengah

Kerbau sakti Tolelembunga adalah salah satu legenda khas Desa Sedoa, Kecamatan Lore Utara, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Legenda ini berkisah tentang seekor kerbau betina yang sangat disayangi Puteri Bunga Manila, putri kerajaan yang terkenal di wilayah itu. Melansir dari laman kebudayaan.kemdikbud.go.id, dalam kepercayaan masyarakat Desa Sedoa, leluhur mereka awalnya mendiami lembah Napu sebelum menetap di […]

Oleh Achmad Aristyan

Kerbau Sakti Tolelembunga, Legenda Masyarakat Sulawesi Tengah
Ilustrasi kerbau “Tolelembunga”, cerita rakyat dari Desa Sedoa, Sulawesi Tengah. Foto: Pixabay/Asia Esso
Diterbitkan

Kerbau sakti Tolelembunga adalah salah satu legenda khas Desa Sedoa, Kecamatan Lore Utara, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Legenda ini berkisah tentang seekor kerbau betina yang sangat disayangi Puteri Bunga Manila, putri kerajaan yang terkenal di wilayah itu. 

Melansir dari laman kebudayaan.kemdikbud.go.id, dalam kepercayaan masyarakat Desa Sedoa, leluhur mereka awalnya mendiami lembah Napu sebelum menetap di Desa Sedoa. Mereka menjaga legenda ini agar tetap hidup dan dikenal generasi selanjutnya.

Dahulu kala, terdapat sebuah kerajaan makmur bernama Kerajaan Sigi, di daerah Sigi-Biromaru, sekira 12 kilometer sebelah selatan Kota Palu. Kerajaan ini dipimpin Ratu Ngilinayo yang bijaksana dan adil. Ratu Ngilinayo memiliki putri bernama Bunga Manila, yang sangat menyayangi seekor kerbau betina bertanduk panjang bernama Tolelembunga. Kerbau tersebut dipercaya memiliki tanduk sepanjang dua meter.

Suatu hari, Tolelembunga menghilang tanpa jejak, tidak kembali ke kandangnya selama beberapa hari. Khawatir akan keselamatan kerbau kesayangannya, Puteri Bunga Manila memerintahkan 40 orang pria untuk mencari Tolelembunga dan membawanya pulang. Mereka akhirnya menemukan kerbau itu di tepi sungai Sopu. Namun saat sampai di tempat bernama Petiro Ue atau Tawaelia, Tolelembunga menolak bergerak lebih jauh karena merasa nyaman di tempat itu.

Baca Juga: Legenda Arya Panoleh di Balik Kelezatan Sate Ayam Madura

Puteri Bunga Manila pun datang menyusul dan memutuskan membangun perkampungan di sana bersama dengan rakyatnya. Namun, setelah tujuh tahun, Tolelembunga kembali menghilang tanpa sepengetahuan Puteri Bunga Manila.

Dalam petualangannya, Tolelembunga menemukan sumber air panas di Wombo, sebuah lokasi dengan pemandangan indah dikelilingi gunung dan padang rumput subur. Ketika Puteri Bunga Manila mengetahui keberadaan kerbau itu, ia menyusulnya dan terpesona keindahan alamnya.

Dari atas gunung, Puteri Bunga Manila dapat melihat lembah Pekurehua (Napu) yang subur dan hijau. Ia kemudian memerintahkan rakyatnya membangun perkampungan yang kemudian dikenal dengan nama Wakabola.

Di sana, Puteri Bunga Manila mendirikan rumah adat “Sowa” sebagai istananya dan “Dusunga” sebagai tempat untuk musyawarah bersama para tetua adat. Di tempat inilah ia bertemu dengan pemuda tampan bernama Sadunia, yang kemudian menjadi suaminya. Di sisi lain, Tolelembungabertemu dengan seekor kerbau jantan besar bernama Beloiliwa, dan dari pertemuan itu, lahirlah keturunan kerbau yang banyak.

Baca Juga: Cerita Rakyat Kota Balikpapan, Asal-Usul Nama Penuh Makna

Seiring waktu, Wakabola berkembang menjadi kerajaan besar di lembah Pekurehua. Dari pernikahan antara Puteri Bunga Manila dan Sadunia, lahirlah Puteri Posuloa, yang kelak menjadi simbol penerus keluarga kerajaan.

Hingga kini, legenda Tolelembunga bukan hanya sekadar cerita rakyat, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya Desa Sedoa dan masyarakat di sekitarnya. Melalui kisah ini, nilai-nilai tentang kepedulian, kesetiaan, dan hubungan erat antara manusia dan alam tercermin, sekaligus menunjukkan kekayaan budaya Sulawesi Tengah. (Diolah dari berbagai sumber)

 

 

Cerita Rakyat07 NOV 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Cerita Rakyat

Lihat semua →

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan