Dinamika geopolitik global boleh saja membayangi pergerakan wisatawan dunia, namun geliat dari pelosok desa-desa wisata Nusantara tak pernah surut. Di balik sunyinya bentang alam dan hangatnya kearifan lokal, para pengelola pariwisata berbasis masyarakat kini bersiap melangkah jauh melebihi batas wilayahnya: menjemput pasar mancanegara secara langsung.
Semangat berdikari dan adaptasi tersebut menemukan ruang pijaknya pada perhelatan Wonderful Indonesia Tourism Fair (WITF) 2026.
Memasuki tahun ketiga penyelenggaraannya, pameran dagang pariwisata B2B (Business-to-Business) ini hadir bukan sekadar sebagai ajang kumpul industri, melainkan sebagai jembatan hidup yang menghubungkan pesona lokal dengan ratusan pengambil keputusan dari belahan dunia lain.
Panggung Setara untuk Desa Wisata dan UMKM Lokal
Menjadikan JIExpo Kemayoran, Jakarta, sebagai titik temu pada 15–17 Oktober 2026 mendatang, pameran ini secara khusus merajut keterlibatan ekosistem pariwisata akar rumput.
Berbeda dengan konvensi bisnis berskala besar yang acap kali hanya didominasi jaringan hotel berbintang atau maskapai raksasa, fasilitasi booth khusus Wonderful Indonesia memberi ruang setara bagi desa wisata, travel agent lokal, penyelenggara wisata sekolah, hingga pegiat industri wellness.
Kesempatan ini membuka jalan bagi para pelaku lokal untuk memaparkan narasi autentik dan paket wisata unggulan mereka. Di sinilah kisah tentang keramahan desa, keasrian alam, dan ritual tradisi ditawarkan langsung kepada lebih dari 100 international buyers yang datang dari 34 negara.

Menyambung Asa di Tengah Tantangan Geopolitik
Tahun 2026 membawa tantangan tersendiri bagi industri pelesiran global. Fluktuasi ekonomi, dinamika keamanan antarnegara, hingga pergeseran preferensi wisatawan menuntut para pelaku bisnis di Indonesia untuk tidak tinggal diam menunggu bola.
Pentingnya menjaga daya tahan dan keterhubungan dengan pasar dunia di tengah lanskap global yang berubah ini digarisbawahi oleh pimpinan sektor pariwisata nasional.
“Penguatan promosi dan perluasan akses pasar merupakan bagian penting dalam menjaga pertumbuhan pariwisata Indonesia. Kehadiran forum B2B seperti WITF memberikan ruang bagi industri untuk berinteraksi secara langsung dengan buyer, memahami kebutuhan pasar, serta memperkenalkan beragam destinasi dan produk pariwisata Indonesia kepada pasar internasional,” ungkap Menteri Pariwisata RI, Widiyanti Putri Wardhana di Jakarta, Rabu (23/9).
Inisiatif menghadirkan business matching yang mempertemukan ratusan pembeli internasional dan lebih dari 200 corporate buyers domestik menjadi angin segar.
Lewat program Familiarization Trip (Fam Trip), para pembeli mancanegara diajak merasakan secara langsung dentam kehidupan dan keindahan destinasi Nusantara sebelum menuntaskan transaksi bisnis di meja pameran.
“Dalam kondisi global yang penuh tantangan, industri tidak boleh berhenti bergerak. Kita perlu terus membuka pasar, membangun hubungan dengan buyer, memahami perubahan kebutuhan wisatawan, dan memastikan produk pariwisata Indonesia tetap relevan serta kompetitif,” tegas Budi Tirtawisata, Ketua Steering Committee WITF 2026.
Jakarta sebagai Hub Menuju Pintu Dunia
Perjalanan mempertemukan pasar global dengan kearifan lokal ini juga tidak terlepas dari peran Jakarta sebagai gerbang utama.
Bertepatan dengan momen strategis “Menuju 5 Abad Jakarta”, sinergi antara Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI), Kementerian Pariwisata, dan Pemprov DKI Jakarta makin memperkokoh posisi ibu kota sebagai great hub perjalanan bisnis dan wisata nasional.
Aksesibilitas yang kuat di Jakarta memungkinkan produk-produk kreatif dari pulau terluar hingga pelosok Jawa dan Sumatra berinteraksi langsung tanpa sekat birokrasi yang rumit dengan para penikmat pariwisata dunia.
“Jakarta memiliki posisi yang sangat strategis sebagai gateway sekaligus hub bagi pariwisata Indonesia. Melalui WITF di Jakarta, berbagai destinasi dan pelaku industri dari seluruh Indonesia dapat bertemu langsung dengan pasar internasional. Kolaborasi ini sekaligus menjadi bagian dari perjalanan Jakarta menuju lima abad, dengan semangat untuk terus memperkuat perannya sebagai kota global dan pusat aktivitas ekonomi serta pariwisata,” ungkap Hariyadi Sukamdani, Ketua Umum GIPI.
Mengusung tema besar “Beyond Borders: Shaping the Future of Indonesian Tourism”, ajang WITF 2026 memancarkan optimisme baru. Pariwisata berkelanjutan tak lagi sekadar wacana di ruang seminar, melainkan diwujudkan dalam kerja sama konkret yang memberi dampak ekonomi langsung bagi masyarakat lokal.
Langkah ini membuktikan bahwa pesona Indonesia tak pernah kehilangan dayanya. Melalui kolaborasi lintas sektor dan konsistensi menjaga mutu layanan, pariwisata berbasis masyarakat siap berdiri tegak, mandiri, dan berdaya saing di panggung internasional.






