Ki Nartosabdo dikenal karena karya-karyanya yang inovatif dan menghibur yang mewarnai sejarah budaya Jawa. Salah seorang muridnya, Ki Manteb Soedharsono, mengakui bahwa Ki Nartosabdo adalah dalang wayang kulit terbaik yang pernah dimiliki dan belum tergantikan di Indonesia.
Lahir dengan nama asli Soenarto, di Wedi, Klaten, Jawa Tengah, 25 Agustus 1925, dayang wayang kulit ini merupakan bungsu dari delapan bersaudara. Ayahnya, Partiyono, bekerja sebagai mranggi atau pembuat rangka keris, sementara sang ibu, Madiah adalah seorang pengrawit.
Meski kedua orang tuanya bekerja, ia melewati masa kecil dengan keadaan yang serba kekurangan. Karena kesulitan ekonomi, ia hanya bisa mengenyam pendidikan formal sampai kelas 5 SD di Standard School Muhammadiyah.
Namun meski putus sekolah, bakat seninya terus tumbuh. Saat masih berusia 11 tahun, ia sudah mampu memainkan rebab, gendang, dan gender. Ia juga pernah menjadi pelukis, pemain biola, pembuat seruling hingga pengantar susu.
Dalang Otodidak
Beranjak remaja, pada tahun 1940, ia bergabung dengan grup ketoprak Budi Langen Wanodya selama 2 tahun. Bakat seninya kian berkembang ketika ia melanjutkan sekolah di Lembaga Pendidikan Katolik yang kemudian dilanjutkan ke Akademi Seni Karawitan Indonesia, Solo.
Pada 1945, ia sempat menjadi pemain gendang pada grup Sri Wandawa. Setelah itu ia berkenalan dengan Ki Sastrosabdo, pendiri grup Wayang Orang Ngesti Pandowo. Di bawah bimbingan Ki Sastrosabdo, ia belajar mendalang.
Hubungan guru dan murid itu ibarat bapak dan anak. Bahkan karena jasa-jasanya membuat banyak kreasi baru bagi grup tersebut, ia memperoleh gelar tambahan Sabdo di belakang nama aslinya pada tahun 1948. Sejak saat itu, namanya berubah menjadi Narto Sabdo.
Soal ilmu mendalang, Ki Nartosabdo lebih banyak belajar secara otodidak dan memilih teknik terbaik dari beberapa dalang terkemuka. Tawaran untuk mendalang sendiri datang pertama kalinya dari Kepala Studio RRI saat itu, Sukiman.
Bertempat di Gedung PTIK, Jakarta, pada 28 April 1958, Ki Nartosabdo memulai debutnya sebagai dalang. Ketika itu ia membawakan lakon Kresna Duta dengan gabrak Yogyakarta atau Banyumasan. Penampilan perdananya ketika itu langsung mengangkat namanya.
Sejak saat itu, tawaran tampil mendalang terus berdatangan dari Solo, Yogyakarta, Surabaya, dan kota-kota lain. Lahir pula cerita-cerita gubahannya, seperti Dasa Griwa, Mustakaweni, Ismaya Maneges, Gatutkaca Sungging, Gatutkaca Wisuda, Arjuna Cinoba, Kresna Apus, dan Begawan Sendang Garba.
Pada tahun 50-70an, Ki Nartosabdo kemudian merajai panggung wayang orang. Pertunjukannya, hampir selalu dibanjiri penonton. Karena selain menghibur, Ki Nartosabdo selalu memberikan nasihat, filosofi, dan perjalanan hidup.
Dikritik Karena Inovasinya
Ki Nartosabdo juga mendapat banyak kritik lantaran ia lebih banyak mementaskan cerita-cerita carangan, hasil apresiasi mendalam dari suatu cerita baku, atau gubahan baru yang bersumber dari pakem (cerita induk).
Ia juga dianggap terlalu menyimpang dari aturan yang sudah baku. Misalkan dengan menampilkan humor sebagai selingan dalam adegan keraton yang biasanya kaku dan formal. Kritikan itu tidak membuatnya gentar, justru kian giat berkarya.
Selain piawai mendalang, Ki Nartosabdo juga dikenal sebagai pencipta lagu-lagu Jawa yang sangat produktif. Pada tahun 1976, ia menggelar konser karawitan di Gedung Mitra Surabaya, 1976, yang menampilkan 14 komposisi ciptaannya.
Disamping karyanya yang bertema ringan dan menghibur, Ki Nartosabdo juga pernah menciptakan karya “berat”, misalnya Sekar Ngenguwung. Dia banyak memasukkan gending dalam setiap lakonnya. Hal ini membuat banyak dalang senior yang memojokkannya. Bahkan ada RRI di salah satu kota yang memboikot hasil karyanya.
Namun banyak juga yang mendukungnya seperti dalang muda yang menginginkan perubahan. Berkat inovasi yang diluncurkannya, Ki Nartosabdo kemudian dianggap sebagai pembaharu dunia pedalangan di tahun 80-an.
Melalui grup karawitan bernama Condong Raos yang ia dirikan, lahir sekitar 319 buah judul lagu (lelagon) atau gending. Karya-karya gendingnya memiliki karakter khas Ki Nartosabdo yang kemudian mendapat istilah Gending-gending Nartosabdhan.
Ki Nartosabdo wafat pada 7 Oktober 1985 dalam usia 60 tahun. Jasadnya disemayamkan di Gedung Ngesti Pandowo, yang berlokasi di Jalan Pemuda 116, Semarang, untuk selanjutnya dikebumikan di TPU Bergota. Beberapa saat sebelum kepergiannya, ia menciptakan sebuah gending yang ia beri judul Lelayu (kematian). (Anisa Kurniawati-Sumber: tokoh.id)