Cerita Rakyat

Kisah Amat Mude, Putra Mahkota yang Terbuang

Amat Mude merupakan salah satu erita rakyat yang berasal dari Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang mengalir dari generasi ke generasi. Cerita mengisahkan putra mahkota yang terbuang karena kelicikan pamannya. Namun, atas kebaikan dan kerja kerasnya, akhirnya Amat Mude mendapat jabatan yang seharusnya ia genggam. Dibalik cerita rakyat ini tersimpan makna mendalam yang mengajarkan kejujuran dan […]

Oleh Anisa Kurniawati

Kisah Amat Mude, Putra Mahkota yang Terbuang
Ilustrasi kisah Pangeran Amet Muda dari Aceh. Foto: Tangkapan layar Youtube/ Dongeng Kita.
Diterbitkan

Amat Mude merupakan salah satu erita rakyat yang berasal dari Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang mengalir dari generasi ke generasi. Cerita mengisahkan putra mahkota yang terbuang karena kelicikan pamannya.  Namun, atas kebaikan dan kerja kerasnya, akhirnya Amat Mude mendapat jabatan yang seharusnya ia genggam. Dibalik cerita rakyat ini tersimpan makna mendalam yang mengajarkan kejujuran dan kerja keras akan berbuah hasil baik. 

Dirangkum dari buku Cerita Tanah Alas yang di susun Hasbullah. Pada zaman dahulu, alkisah hidup seorang raja yang sudah lama berkuasa namun belum juga memiliki keturunan. Kemudian sang Raja bersumpah, apabila memiliki seorang anak laki-laki dia rela untuk mati. 

Tidak lama kemudian, permaisurinya hamil dan melahirkan anak laki-laki yang diberi nama Amat Mude. Sayangnya hidup raja berakhir sesuai sumpahnya menjadi nyata. Setelah raja tiada, kekuasaannya dipegang adiknya, karena sang penerus raja saat itu masih bayi.

Akan tetapi, Paman Amat Mude sebenarnya berniat jahat. Dia  tidak mau mengembalikan kekuasaannya ketika Amat Mude dewasa kelak. Dengan dalih mengganggu ketenangan istana, bayi Amat Mude dan permaisuri raja dipindahkan ke pondok di belakang istana.

Suatu saat, sang paman menyuruh pengawalnya membuang Amat Mude kecil dengan permaisuri almarhum raja ke dalam hutan. Beruntung, permaisuri dan Amet  Muda mampu bertahan hidup di hutan.  Demi bertahan hidup, Amet Muda memancing ikan di sungai Lawe Alas. Suatu hari, Amet Muda mendapat tangkapan tidak biasa yakin ikan-ikan besar. 

Baca juga: Raja Berekor, Hikayat Tragis Raja Bengis Dari Belitung

Ikan-ikan itu kemudian dibawa ibunya ke pasar untuk dijual. Sebagian ikan itu disimpan untuk makanan mereka. Dalam perjalanan ke pasar, ibu Amat Mude tanpa sengaja bertemu dengan sahabat suaminya. Ikan-ikan yang dibawanya akhirnya dibeli saudagar yang kaya itu dan mengajak ibu Amet ke rumahnya. Ikan yang besar itu membuat penasaran sang saudagar. Ikan itu pun langsung dipotong. Dari dalam perut ikan-ikan itu ternyata berisi emas berbentuk telur ikan. Saudagar itu pun senang dan memberi ibu Amat Mude bekal dan barang berharga. 

Amat Mude makin sering pergi memancing dan telur emas itu pun terus dikumpulkan ibunya. Suatu hari, sang raja mendengar keberadaan Amat Mude. Dia pun dipanggil ke Istana dan diperintahkan pergi ke pulau di tengah laut memetik kelapa gading. Amat Mude pun mematuhi perintah. 

Dalam perjalanan, pemuda itu dibantu ikan bernama Si Lenggang Raye, Raja Buaya dan Naga yang mengantarnya  ke pulau di tengah laut. Saat Amat Mude memetik kelapa, tiba-tiba muncul Putri Niwer Gading, lalu berkata, “Siapa yang dapat memetik buah kelapa gading itu, akan menjadi suami saya”.

Baca juga: Kisah Datuk Letang dan Bayi Sakti Dari Belahan Kayu

Ternyata, Amat Mude dapat memetik buah kelapa gading itu,  Ia pun menikah dengan Putri Niwer Gading. Sesampainya di istana raja, diserahkannya kelapa gading itu pada Raja Muda. Melihat perilaku Amat Mude yang sangat baik, sadarlah Raja Mude pada kelicikannya selama ini. la pun meminta Amat Mude menggantikannya menjadi raja. Amet Muda pun menjadi raja yang sebenarnya menjadi haknya sejak lama. 

TopikCerita Rakyat
Cerita Rakyat13 NOV 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Cerita Rakyat

Lihat semua →

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati