Budaya

Kolaborasi Seni, Spiritualitas dan Tradisi dalam Tari Bedaya

Tari Bedaya merupakan salah satu bentuk seni klasik Jawa yang memiliki akar mendalam dalam tradisi istana atau keraton pewaris takhta kerajaan Mataram. Tarian ini dikenal dengan gerakan-gerakan yang gemulai, penuh keharmonisan, dan suasana meditatif, mencerminkan nilai-nilai luhur budaya tradisional Jawa. Iringan musik gamelan minimalis mengiringi tarian ini, memberikan nuansa khidmat dan mendalam bagi penonton maupun […]

Oleh Achmad Aristyan

Kolaborasi Seni, Spiritualitas dan Tradisi dalam Tari Bedaya
Tari Bedaya yang berakar dari Keraton. Foto: wisatajawa.com
Diterbitkan

Tari Bedaya merupakan salah satu bentuk seni klasik Jawa yang memiliki akar mendalam dalam tradisi istana atau keraton pewaris takhta kerajaan Mataram.

Tarian ini dikenal dengan gerakan-gerakan yang gemulai, penuh keharmonisan, dan suasana meditatif, mencerminkan nilai-nilai luhur budaya tradisional Jawa. 

Iringan musik gamelan minimalis mengiringi tarian ini, memberikan nuansa khidmat dan mendalam bagi penonton maupun penari. Penari bedaya umumnya adalah wanita, meski ada variasi seperti Bedhaya Kakung yang ditarikan lelaki. 

Melansir dari kompasiana.com, tarian ini sering kali tercipta dari inspirasi raja mengenai peristiwa tertentu, disajikan dalam bentuk yang sangat stilistik dan simbolis.

Bedaya biasanya menjadi bagian penting dalam upacara keraton Mataram, seperti ulang tahun kenaikan takhta raja atau dikenal sebagai tingalan jumenengan dalem.  

Penari Tradisi Keraton

Jumlah penari dalam tarian Bedaya ditentukan berdasarkan tradisi keraton yang menaunginya. Di lingkungan Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta, tarian ini biasanya dibawakan sembilan penari perempuan. 

Sementara itu, di Kadipaten Mangkunegaran dan Pakualaman, penarinya berjumlah tujuh orang.

Persyaratan dan Nilai Sakral

Dilansir dari Wikipedia, selain jumlah penarinya yang berbeda, tari Bedaya juga dikenal memiliki persyaratan khusus yang mencerminkan nilai-nilai spiritualnya.

Beberapa versi tarian ini mensyaratkan penarinya masih perawan, tidak sedang dalam masa menstruasi, dan harus menjalani ritual puasa sebelum berpentas. 

Persyaratan ini menegaskan bahwa Bedaya bukan sekadar seni pertunjukan, tetapi juga bagian dari praktik spiritual yang mencerminkan kesakralan dan keagungan tradisi keraton.

Beberapa Tarian Bedaya yang Tersohor

  1. Bedaya Ketawang  

Merupakan pusaka Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Bedaya Ketawang menjadi bagian utama dalam perayaan jumenengan dalem atau pelantikan Sri Susuhunan. Konon, tarian ini diciptakan Sultan Agung Prabhu Hanyakrakusuma.  

Durasi awal Bedaya Ketawang adalah dua setengah jam, tetapi kini dipadatkan menjadi sekitar satu setengah jam.

Tarian ini mengisahkan pertemuan antara Panembahan Senopati dengan Kanjeng Ratu Kidul, menggambarkan perjanjian suci antara keduanya untuk saling menjaga dua kerajaan.  

  1. Bedaya Anglirmendhung  

Tarian ini merupakan pusaka Kadipaten Praja Mangkunegaran dan diciptakan Mangkunegara I (Raden Mas Said).

Tarian ini mengenang pertempuran besar yang dipimpin Mangkunegara I melawan pasukan gabungan Surakarta dan VOC di Ponorogo pada tahun 1752.

  1. Bedaya Semang  

Sebagai pusaka Karaton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Bedaya Semang juga ditarikan sembilan penari perempuan. Tarian ini mengisahkan pertemuan antara Panembahan Senopati dan Kanjeng Ratu Kidul, mencerminkan hubungan antara dunia spiritual dan duniawi. 

Tarian ini diperkirakan diciptakan pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwana I.  

  1. Bedaya Arjuna Wiwaha  

Pusaka dari Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini diciptakan Sri Sultan Hamengkubuwono X. Tarian ini menggambarkan kisah Arjuna dalam epos Mahabharata, di mana sang pahlawan melakukan perjalanan spiritual untuk mendapatkan wahyu dan kekuatan. (Diolah dari berbagai sumber)

TopikBudaya
Budaya09 JAN 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Budaya

Lihat semua →
Tradisi makan bajamba

Makan Bajamba di Meja Diplomasi

Makan bajamba bukan sekadar tradisi bersantap bersama, melainkan cerminan kebersamaan dan penghormatan yang dapat menginspirasi jamuan diplomatik.

Ridwan
ampilan gim Kenupi karya U-Lika Studio yang mengangkat budaya Dayak Kenyah melalui seni piksel.

Petualangan Dayak Kenyah di Kenupi

Kenupi menghadirkan budaya Dayak Kenyah melalui gim berbasis seni piksel yang dikembangkan U-Lika Studio sebagai bagian dari kampanye Jejak: Jelajah Dayak Kenyah

Ridwan

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan