Di puncak Candi Borobudur, bagian yang menjulang di atas stupa induk menyimpan persoalan yang tidak selalu terlihat oleh pengunjung. Susunan batu pada bagian yasti mengalami pergeseran, sementara pemeriksaan teknis menemukan rongga dan rekahan yang membuat strukturnya perlu ditangani.
Di bagian lain Mahastupa, pelapukan dan penggaraman turut menjadi perhatian dalam upaya menjaga ketahanan material candi. Temuan tersebut mendorong Kementerian Kebudayaan melalui Museum dan Cagar Budaya (MCB) melakukan pemugaran yasti dan konservasi Mahastupa.
Pekerjaan yang ditargetkan selesai pada 24 Oktober 2026 ini bukan sekadar memperbaiki bagian bangunan yang mengalami kerusakan. Penanganan tersebut juga menjadi upaya mempertahankan keaslian material salah satu warisan budaya terpenting Indonesia.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menjelaskan bahwa pemugaran yasti dilakukan berdasarkan hasil pemantauan dan kajian teknis pada Agustus 2026.
Pemeriksaan mengidentifikasi pergeseran susunan batu, rongga, serta rekahan pada bagian yasti dan harmika. Sementara itu, material pada stupa induk menunjukkan tanda-tanda kerusakan yang membutuhkan konservasi.
Dalam taklimat media bertajuk “Pemugaran Yasti Mahastupa Candi Borobudur” di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, Senin (13/10/2026), Fadli menegaskan bahwa penanganan tersebut mengutamakan penggunaan material asli. Setiap batu didokumentasikan, diberi nomor, lalu dipasang kembali pada posisi semula.
“Hingga saat ini, belum ada batu yang diganti karena setiap tindakan harus didasarkan pada pemeriksaan yang cermat dan sesuai dengan prinsip pelestarian cagar budaya,” ujar Fadli.
Pendekatan ini memperlihatkan bahwa pemugaran cagar budaya tidak selalu berarti mengganti bagian yang dianggap rusak dengan material baru.
Sebelum tindakan dilakukan, tim harus memahami kondisi batu, susunan bangunan, serta riwayat penanganannya. Keputusan mengenai tindakan konservasi perlu mengikuti hasil pemeriksaan, bukan semata-mata pertimbangan untuk membuat bangunan terlihat kembali utuh.
Membaca kondisi batu di puncak candi
Untuk mengetahui kondisi yasti, tim melakukan serangkaian pemeriksaan dengan metode ilmiah. Ketua Tim Penyusun Heritage Impact Assessment (HIA), Ali Akbar, menjelaskan bahwa pemeriksaan melibatkan sejumlah teknik, antara lain Ground Penetrating Radar (GPR), pemindaian ultrasonik, dan hammer test.
Metode tersebut membantu para ahli menelaah kondisi struktur dan material tanpa hanya mengandalkan pengamatan visual. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa bagian yasti masih utuh, tetapi kondisinya rapuh dan memiliki sejumlah rongga serta rekahan yang perlu ditangani.
Posisi yasti di bagian paling atas Mahastupa membuat temuan tersebut perlu mendapat perhatian. Penanganannya membutuhkan perencanaan yang terukur karena keputusan terhadap satu bagian bangunan harus mempertimbangkan keutuhan keseluruhan struktur.
Menurut Ali, pekerjaan ini sekaligus membuka kesempatan untuk memahami lebih jauh kondisi bagian atas Borobudur yang sudah lama tidak mendapatkan pemugaran menyeluruh.
Evaluasi tersebut juga dapat memperkaya pemahaman mengenai material dan metode penanganan yang pernah digunakan, seiring perkembangan ilmu konservasi.
Di luar persoalan struktur, konservasi Mahastupa mencakup penanganan pelapukan batu, rongga, rekahan, dan penggaraman. Perubahan kondisi lingkungan serta paparan cuaca dalam jangka panjang menjadi tantangan yang tidak dapat diabaikan.
Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha juga mengingatkan pentingnya kesiapan menghadapi perubahan iklim dan risiko bencana yang dapat memengaruhi kelestarian cagar budaya.
Karena itu, pemugaran tidak berhenti pada pekerjaan fisik. Pemantauan berkala dan kajian ilmiah dibutuhkan untuk mengenali perubahan kondisi bangunan serta menentukan langkah penanganan yang sesuai.
Melanjutkan perjalanan panjang pemugaran Borobudur
Borobudur telah melewati sejumlah tahap pemugaran dan konservasi sejak dibangun sekitar abad ke-8 hingga ke-9 Masehi. Pemugaran besar pertama berlangsung pada 1907–1911 di bawah pimpinan arkeolog Theodoor van Erp.
Beberapa dekade kemudian, pemugaran besar berikutnya dilaksanakan pada 1973–1983 melalui kerja sama Pemerintah Indonesia dan UNESCO.
Pada 2010, penanganan intensif kembali dilakukan setelah erupsi Gunung Merapi menyelimuti kawasan candi dengan abu vulkanik dan mengganggu sistem drainase.
Riwayat tersebut memperlihatkan bahwa pelestarian Borobudur merupakan pekerjaan lintas generasi.
Setiap periode menghadirkan tantangan berbeda, mulai dari kondisi struktur dan material hingga dampak lingkungan. Kemajuan metode pemeriksaan juga memberi kesempatan kepada para ahli untuk mengevaluasi kondisi bangunan secara lebih terukur.
Giring menegaskan bahwa Borobudur merupakan mahakarya peradaban Nusantara yang menjadi warisan Indonesia sekaligus warisan dunia.
Pelestariannya, menurut dia, perlu memperhatikan nilai sejarah, ilmu pengetahuan, dan spiritualitas, sekaligus membuka manfaat bagi masyarakat sekitar melalui pengembangan ekonomi budaya yang berkelanjutan.
Persoalan pelestarian juga bersinggungan dengan aspirasi umat Buddha mengenai rencana pemasangan chattra di puncak Mahastupa.
Fadli menyatakan bahwa pemerintah menghargai aspirasi tersebut dan memandang dialog sebagai bagian penting dalam pembahasannya. Setiap langkah tetap perlu mempertimbangkan kajian yang cermat serta ketentuan pelestarian Borobudur sebagai Warisan Dunia.
Tetap dibuka untuk pengunjung
Selama pemugaran berlangsung, Candi Borobudur tetap menerima kunjungan dengan penyesuaian akses demi keselamatan pengunjung dan pekerja.
Kunjungan reguler dan pilgrim dapat mencapai lantai 8 atau teras 1, sedangkan kunjungan sunrise dan sunset tetap dapat berlangsung hingga lantai 9 atau teras 2. Pelataran utara ditutup sementara untuk digunakan sebagai zona kerja.
Pekerjaan ditargetkan rampung pada 24 Oktober 2026, meskipun jadwalnya dapat menyesuaikan kondisi teknis di lapangan. Area yang ditutup akan dibuka kembali secara bertahap setelah pemeriksaan akhir memastikan keamanan.
Pemugaran yasti dan konservasi Mahastupa pada akhirnya menjadi pengingat bahwa menjaga Borobudur tidak cukup hanya dengan mempertahankan bentuknya.
Keaslian batu, kestabilan struktur, nilai sejarah, dan makna spiritualnya merupakan bagian dari warisan yang harus dirawat bersama.
Di puncak candi, setiap batu menyimpan bagian dari perjalanan panjang bangunan ini. Memastikan batu-batu tersebut tetap terjaga berarti memberi kesempatan kepada generasi mendatang untuk mempelajari Borobudur bukan hanya sebagai monumen yang megah, melainkan juga sebagai jejak peradaban yang terus dirawat.






