Pariwisata

Legenda Mata Air Purba Tuk Bima Lukar di Dieng Wonosobo

Tuk Bima Lukar adalah salah satu situs purbakala yang terletak di Desa Dieng Wetan, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Mata air ini dipercaya sebagai sumber awal dari Kali Serayu, yang mengalir melalui wilayah Jawa Tengah bagian barat. Berdasarkan keterangan dari papan informasi yang ada di Tuk Bima Lukar, situs ini merupakan sebuah petirtaan kuno […]

Oleh Achmad Aristyan

Legenda Mata Air Purba Tuk Bima Lukar di Dieng Wonosobo
Pintu masuk menuju Tuk Bima Lukar. Foto: Aristyan
Diterbitkan

Tuk Bima Lukar adalah salah satu situs purbakala yang terletak di Desa Dieng Wetan, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Mata air ini dipercaya sebagai sumber awal dari Kali Serayu, yang mengalir melalui wilayah Jawa Tengah bagian barat. 

Berdasarkan keterangan dari papan informasi yang ada di Tuk Bima Lukar, situs ini merupakan sebuah petirtaan kuno yang berasal dari masa Kerajaan Mataram Hindu.

Keberadaan situs ini terkati erat dengan kompleks percandian Dieng, tidak jauh dari lokasi ini.

Sejarah dan Fungsi Tuk Bima Lukar

Menurut Dhimas, pemandu wisata di Tuk Bima Lukar, dalam bahasa Jawa “tuk” berarti mata air, dan situs ini menyimpan jejak sejarah sebagai sumber air yang ada sejak zaman purba.

“Tuk Bima Lukar memiliki dua jaladwara (pancuran air) yang masih mengalirkan air,” kata Dhimas.

Keberadaan tuk ini sangat mungkin terkait dengan kompleks percandian Dieng, yang berfungsi sebagai tempat penyucian diri bagi para peziarah sebelum memasuki kawasan candi.

Situs Tuk Bima Lukar masuk dalam daftar objek wisata di Dataran Tinggi Dieng, namun keberadaannya sering terlewatkan pengunjung karena letaknya cukup rendah dan ada di tepi jalan. 

“Meski demikian, Tuk Bima Lukar tetap menjadi tempat yang penting bagi masyarakat setempat, yang memanfaatkannya tidak hanya untuk ritual keagamaan, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,” Dhimas menambahkan.

Struktur dan Arsitektur

Bangunan di sekitar mata air ini memiliki tiga undakan. Undakan pertama, yang paling atas, dianggap sebagai bagian yang suci dan menjadi tempat untuk menaruh sesaji. 

Di bawahnya terdapat sebuah kolam penampung air, sementara bagian undakan paling bawah memiliki dua pancuran yang mengalirkan air.

Keberadaan pancuran ini digunakan masyarakat setempat dan pengunjung untuk mencuci muka atau mandi, dengan keyakinan bahwa air dari tempat ini memiliki kekuatan spiritual.

Pancuran air yang berasal langsung dari Tuk Bima Lukar. Foto: Aristyan

Mitos dan Legenda

Tuk Bima Lukar tidak hanya kaya akan sejarah, tetapi juga menyimpan mitos yang menarik. Nama “Bima” diambil dari tokoh dalam pewayangan, Bimasena atau Werkudara, salah satu dari Pandawa. 

Sedangkan “Lukar” berarti melepas pakaian, yang merujuk pada ritual pembersihan diri sebelum menerima wejangan. Dalam cerita pewayangan, Bima melakukan ritual penyucian dengan cara yang unik, yakni dengan menggali sungai menggunakan alat vitalnya, sebagai bentuk pengorbanan dan pembersihan diri. 

Konon, sungai yang digali Bima kemudian dinamakan “Sira Ayu” (sungai yang indah) karena Bima terpesona melihat seorang gadis cantik yang sedang mandi di sungai ini.

Berkaitan dengan mitos yang ada, air dari Tuk Bima Lukar dipercaya memiliki khasiat untuk menjaga kecantikan dan awet muda. “Masyarakat setempat meyakini bahwa mencuci muka atau mandi di pancuran Tuk Bima Lukar akan membawa keberuntungan, kesehatan, dan awet muda,” ujar Dhimas.

Tuk Bima Lukar Sebagai Tempat Ritual

Selain berfungsi sebagai sumber air kehidupan, Tuk Bima Lukar juga memiliki peran penting dalam ritual keagamaan masyarakat Hindu. Sebagai sumber mata air suci, tempat ini digunakan untuk pembersihan diri sebelum melakukan kegiatan keagamaan lainnya. 

Hingga kini, ritual keagamaan yang melibatkan air dari Tuk Bima Lukar masih dilestarikan warga. Keberadaan Tuk Bima Lukar juga sangat signifikan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat sekitar. 

Airnya yang melimpah tidak hanya digunakan untuk kebutuhan ritual, tetapi juga memenuhi kebutuhan air bersih bagi kehidupan sehari-hari. Tuk Bima Lukar Wonosobo dalah sebuah situs purba yang menyimpan banyak nilai sejarah, budaya, dan spiritualitas. 

Sebagai salah satu sumber mata air yang penting bagi masyarakat Dataran Tinggi Dieng, Tuk Bima Lukar bukan hanya menjadi tempat yang menarik untuk dikunjungi wisatawan, tetapi juga menjadi saksi bisu dari perjalanan panjang sejarah Kerajaan Mataram Hindu.

TopikPariwisata
Pariwisata05 JAN 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Pariwisata

Lihat semua →

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan