Budaya

Mengenal Ludruk, Kesenian Guyonan Rakyat dari Jawa Timur

Ludruk, adalah seni teater rakyat yang berasal dari Jawa Timur. Dalam pertunjukan ludruk biasanya terdapat unsur tari remo, dagelan, selingan, dan cerita. Kisahnya diangkat dari kehidupan Masyarakat sehari-hari dengan bahasanya mudah dimengerti dan bahkan diselingi guyonan. Pada era 70-90 an di Jawa Timur, pertunjukan Ludruk sering dapat ditemui. Pada masa itu, di kota Malang, yang terkenal […]

Oleh Anisa Kurniawati

Mengenal Ludruk, Kesenian Guyonan Rakyat dari Jawa Timur
Kesenian Ludruk identik dengan guyonan. Awalnya sering diselingi dagelan slapstick (lawak kasar fisik). Foto: wikimedia commons
Diterbitkan

Ludruk, adalah seni teater rakyat yang berasal dari Jawa Timur. Dalam pertunjukan ludruk biasanya terdapat unsur tari remo, dagelan, selingan, dan cerita.

 Kisahnya diangkat dari kehidupan Masyarakat sehari-hari dengan bahasanya mudah dimengerti dan bahkan diselingi guyonan. Pada era 70-90 an di Jawa Timur, pertunjukan Ludruk sering dapat ditemui.

Pada masa itu, di kota Malang, yang terkenal adalah Ludruk Wijaya Kusuma dengan pelawaknya Cak Tamin, Nurbuat dan Cak Subur. Kemudian muncul Cak Kartolo dan kawan-kawannya di era 80-90 an.

Hampir seluruh masyarakat Jawa Timur mengenal kesenian ini. 

Pemain Ludruk Harus Berimpovisasi

Ludruk sendiri adalah kesenian teater rakyat Jawa Timur yang berasal dari kalangan rakyat jelata. Menurut Sunaryo H.S. dkk dalam Perkembangan Ludruk di Jawa Timur, ludruk mulai dikenal pada abad ke-12 dengan nama Ludruk Bandhan. 

Biasanya, Ludruk Bandhan ditampilkan di tanah lapang dengan diiringi musik pengiring kendang dan jidor. Kemudian Ludruk Bandhan berkembang menjadi Lerok Pak Santik selama abad ke-17 sampai 18. 

Pak Santik sendiri merupakan seorang petani dari Jombang, Jawa Timur yang memperbaharui kesenian ludruk. Biasanya pertunjukan ini ditampilkan Pak Santik dalam pesta pernikahan, sunatan, dan kelahiran di kampung-kampung. 

Seiring dalam berkembangnya, pertunjukan juga ditambahkan dengan guyonan dan bahasa tubuh. Kemudian, mulai ada unsur dialog dan cerita (lakon) dalam ludruk.

Pertunjukan semacam ini diikuti seniman lain dan berkembang di Surabaya, Malang, dan Mojokerto.

Dalam pertunjukan ludruk tidak ada pakem khusus. Semua pemain dituntut berimprovisasi dan mengembangkan jalan cerita yang sudah dibuat terlebih dahulu. 

Baca juga: Kesenian Ebeg Banyumas, Antara Peperangan Dan Kesurupan

Media Penyampai Kritik

Ludruk kemudian identik dengan guyonan. Awalnya sering diselingi dagelan slapstick (lawak kasar fisik). Pada 1920-an setelah muncul ludruk Cak Gondo Durasim, ludruk lebih cenderung ke lawak halus, dengan permainan kata-kata dan sindiran sosial-politik. 

Cak Durasim melalui kelompoknya, Ludruk Gondo adalah tokoh yang melegenda. Ia dikenal sering menyampaikan ide-ide nasionalisme dan perlawanan di pertunjukannya.

Pada masa Jepang, Cak Durasim menciptakan kidungan yang legendaris: “Pegupon omahe doro, melok Nipon tambah soro.” Artinya, “pegupon rumah burung dara, ikut Nipon tambah sengsara.”

Sebagai akibatnya, dia disiksa oleh tentara Jepang dan kemudian meninggal dunia pada 1944. Kemudian ludruk tersebut dilanjutkan oleh Wibowo atau Cak Gondo bersama Ludruk Marhaen yang terkenal pada era 1950-an hingga 1965. 

Pada masa penjajahan, ludruk dikenal sebagai media penyalur kritik sosial kepada pemerintah. Kritik sosial ini ditampilkan melalui pantun yang berisi sindiran terselubung.

Kemudian ceritanya berkembang dengan menampilkan adegan cerita yang mencerminkan situasi kehidupan masyarakat dan lingkungannya.

Cerita tersebut berisi mengenai keprihatinan masyarakat yang terjajah. Di samping itu, juga mengandung unsur-unsur yang mendorong perjuangan. Kesenian ini juga sempat berfungsi menjadi penyampai kebijaksanaan pemerintah.

Baca juga:Menyelisik Mak Yong, Kesenian Teater Tradisional Riau

Sempat redup di awal Orde Baru

Kesenian ini sempat redup di awal Orde Baru. Sebelum kemudian sejumlah seniman ludruk seperti Kartolo dan kawan-kawan muncul dan mampu mengangkat pamor ludruk yang sempat redup. 

Mungkin dikarenakan generasi penerus setelah Cak Kartolo, kualitasnya berbeda. Ditambah lagi kalah dengan tayangan-tayangan dari berbagai media, seperti film-film asing dan sinetron.

Sekarang ini, boleh dikatakan bahwa kesenian Ludruk hampir punah. Meski begitu, ludruk masih kerap dipentaskan meski hanya dimainkan oleh beberapa puluh orang.

Panggung teater ludruk bisa bertahan karena cerita yang dipentaskan sangat dekat dengan kehidupan dan budaya masyarakat setempat. Selain itu, disampaikan dengan bahasa yang mudah dimengerti dan disertai lawakan yang menghibur. (Dari berbagai sumber)

TopikBudaya
Budaya28 OKT 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Budaya

Lihat semua →
Tradisi makan bajamba

Makan Bajamba di Meja Diplomasi

Makan bajamba bukan sekadar tradisi bersantap bersama, melainkan cerminan kebersamaan dan penghormatan yang dapat menginspirasi jamuan diplomatik.

Ridwan
ampilan gim Kenupi karya U-Lika Studio yang mengangkat budaya Dayak Kenyah melalui seni piksel.

Petualangan Dayak Kenyah di Kenupi

Kenupi menghadirkan budaya Dayak Kenyah melalui gim berbasis seni piksel yang dikembangkan U-Lika Studio sebagai bagian dari kampanye Jejak: Jelajah Dayak Kenyah

Ridwan

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati