By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
emmanus.comemmanus.comemmanus.com
  • Beranda
  • Berita
  • Profil
  • Event
  • Tradisi
  • Warisan Budaya
  • Cerita Rakyat
  • Pariwisata
Reading: Menyelisik Mak Yong, Kesenian Teater Tradisional Riau
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
emmanus.comemmanus.com
Font ResizerAa
Search
  • Berita Kategori
    • Berita
    • Profil
    • Event
    • Tradisi
    • Pariwisata
    • Cerita Rakyat
    • Warisan Budaya
Follow US
©2024 PT Emma Media Nusantara. All Rights Reserved.
emmanus.com > Blog > Warisan Budaya > Menyelisik Mak Yong, Kesenian Teater Tradisional Riau
Warisan Budaya

Menyelisik Mak Yong, Kesenian Teater Tradisional Riau

Anisa Kurniawati
Last updated: 12/11/2024 08:02
Anisa Kurniawati
Share
Foto: wikimedia commons/ Amrivadibahar
SHARE

Mak Yong, sebuah seni teater tradisional yang mengandung unsur-unsur ritual. Mak yong sangat di gemari oleh masyarakat Riau, terutama di wilayah Kepulauan Riau. Kesenian ini awalnya merupakan bentuk pertunjukan rakyat yang kemudian digemari kalangan istana. 

Menurut sumber laman kemdikbuk.go.id, asal mula pertunjukan Mak Yong adalah Dewa Hindu Jawa yang bernama Semar dan puteranya Turas. Sumber lain mengatakan, Makyong berasal dari “Mak Hyang”, yaitu Dewi Sri, sebutan bagi orang jawa. 

Bentuk kesenian Mak Yong masuk ke Kepulauan Riau semasa kekuasaan Sultan Sulaiman pada abad ke-18 Masehi. Cerita-cerita dalam pertunjukan ini merupakan warisan lisan para tukang cerita. 

Dialog antar pemain di lakukan secara improvisasi dan tanpa patokan tetap. Cerita Mak Yong berkembang sesuai kekuatan imajinatif sang pemain. Beberapa cerita yang biasa ditampilkan adalah “Tuan Putri Ratna Emas, Gunung Intan, Putri Makyang Emas, Timun Muda. 

Cerita Mak Yong berkisar tentang kehidupan kerajaan. Misalkan cerita raja, permaisuri, atau tuan putri, putri mahkota yang tertimpa musibah, kemudian berjuang dan berakhir dengan kemenangan. 

Baca juga:Ginggung, Seni Musik Tiup Tradisional dari Madura

Pertunjukan Makyong

Peralatan dalam pertunjukan adalah rotan, parang, keris, kapak, panah, tongkat kayu (untuk dijadikan sakti), cangai (kuku palsu yang panjang) di buat dari bahan yang berkilat seperti emas dan lain-lain. 

Sedangkan alat-alat musik yang di perlukan adalah nafiri, gong, gedombak, gendang, mong dan breng-breng. Bertabik, selendang awang, timang-timang anak, dan saridam. Tari yang dibawakan yakni menjunjung sambah, gembak, memanggil awang, tanduk dan lain-lain.

Penampilan tari dan lagu diiringi alat-alat musik yang disesuaikan dengan cerita. Terkadang setiap pemeran Mak Yong memegang peran lebih dari satu. Pemain laki-laki biasanya memakai topeng.

Macam topeng tersebut adalah topeng nenek betara guru, topeng awang pengasuh, topeng wak dukun, topeng raja jin dan topeng pembatak. Sementara pakaian yang digunakan tidak terlalu mengikat. Pakaian tersebut yang penting dapat di bedakan setiap perannya. 

Baca juga: Festival Pacu Jalur, Tradisi Dayung Tradisional Riau

Dulunya, Pertunjukan tradisional ini biasanya dapat berlanjutnya hingga berhari-hari bahkan sampai 15 dan 44 malam. Saat ini, sebuah cerita Makyong berlangsung hanya 1-3 jam saja. Sebelum di tampilkan, terlebih dahulu harus di adakan upacara semah atau “ buka tanah “. Upacara dipimpin seorang Syekh atau alim ulama.

Saat ini, pertunjukan Mak Yong dibawakan semenarik mungkin. Misalkan dengan diberi diberi pencahayaan. Ceritanya yang dibawakan juga boleh kekinian namun tak meninggalkan tradisi asli. Sehingga generasi muda dapat banyak mengetahui teater Mak Yong. Beberapa kabupaten/kota di Riau, seperti Batam sudah mulai rutin mengadakan pertunjukan ini. Hal ini dimaksudkan supaya seni bersejarah ini etap lestari.

You Might Also Like

Sejarah Mi Ayam dan Makna di Balik Warna Gerobaknya

Para Biksu Ambil Air Suci di Umbul Jumprit untuk Waisak

Lestarikan Warisan Budaya, Sleman DIY Gelar Festival Rujak

Perjalanan Getuk Goreng Khas Kabupaten Banyumas Sejak 1918

Senjata Tradisional Rencong, Kebanggaan dan Identitas Aceh

Sign Up For Daily Newsletter

Be keep up! Get the latest breaking news delivered straight to your inbox.
[mc4wp_form]
By signing up, you agree to our Terms of Use and acknowledge the data practices in our Privacy Policy. You may unsubscribe at any time.
Share This Article
Facebook X Copy Link Print
Share
By Anisa Kurniawati
Content Writer
Previous Article Kisah Joko Lelono dalam Legenda Umbul Naga
Next Article Mencicipi Sajian Mi Koclok Berkuah Kental Khas Cirebon
1 Comment 1 Comment
  • Pingback: Maelo Jalur, Tradisi Gotong Royong Menyeret Kayu dari Hutan - emmanus.com

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media

2kFollowersLike
4kFollowersFollow
2.4kSubscribersSubscribe
18kFollowersFollow
- Advertisement -
Ad imageAd image

Berita Terbaru

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar
Berita 30/05/2025
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik
Berita 29/05/2025
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto
Berita 29/05/2025
penulisan ulang sejarah Indonesia
DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027
Berita 28/05/2025
- Advertisement -

Quick Link

  • Kontak Kami
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber

Top Categories

  • Profil
  • Event
  • Tradisi
  • Warisan Budaya

Stay Connected

200FollowersLike
4kFollowersFollow
2.4kSubscribersSubscribe
18kFollowersFollow
emmanus.comemmanus.com
Follow US
© 2024 PT Emma Media Nusantara. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Nama Pengguna atau Alamat Email
Kata Sandi

Lupa kata sandi Anda?