Profil

Maria Walanda Maramis, Pelopor Gerakan Pendidikan Perempuan

Maria Yosephine Catherina Maramis, yang dikenal sebagai Maria Walanda Maramis, adalah seorang pahlawan nasional Indonesia. Maria dikenal atas dedikasinya meningkatkan pendidikan dan peran wanita Indonesia di awal abad ke-20. Dia dilahirkan tahun 1872 di Minahasa, Sulawesi Utara. Masa Belia Sarat Tantangan Dilansir dari Perpustakaan Museum Pergerakan Wanita Indonesia, Maria kehilangan kedua orang tuanya pada usia […]

Oleh Achmad Aristyan

Maria Walanda Maramis, Pelopor Gerakan Pendidikan Perempuan
Pahlawan Nasional Maria Walanda Maramis (Kiri-Foto: budaya.jogjaprov.go.id), Gedung sekolah PIKAT tahun 1956 (Kanan-Foto: pikat1917.blogspot.com)
Diterbitkan

Maria Yosephine Catherina Maramis, yang dikenal sebagai Maria Walanda Maramis, adalah seorang pahlawan nasional Indonesia. Maria dikenal atas dedikasinya meningkatkan pendidikan dan peran wanita Indonesia di awal abad ke-20. Dia dilahirkan tahun 1872 di Minahasa, Sulawesi Utara.

Masa Belia Sarat Tantangan  

Dilansir dari Perpustakaan Museum Pergerakan Wanita Indonesia, Maria kehilangan kedua orang tuanya pada usia enam tahun. Sejak itu, ia diasuh paman dan bibinya. 

Pada masa itu, adat di Minahasa masih membatasi pendidikan bagi anak perempuan, yang hanya diizinkan menamatkan sekolah dasar sebelum diarahkan untuk membantu pekerjaan rumah tangga atau menikah. Namun, Maria menunjukkan minat besar pada pengetahuan dan terus belajar dari lingkungan sekitarnya.

Paman Maria, Rotinsulu, adalah seorang tokoh terpandang dengan jaringan pergaulan yang luas. Hal ini memberi Maria kesempatan untuk berinteraksi dengan berbagai kalangan.

Maria pun berkesempatan menghadiri pesta-pesta yang diadakan masyarakat Belanda. Di situ, Maria tidak hanya mempelajari tata cara menerima tamu berpangkat tinggi, tetapi juga seni memasak dan mengurus rumah tangga. 

Sekolah Rumah Tangga

Pada tahun 1890, Maria menikah dengan Yoseph Frederik Calusung Walanda. Selain mendidik anak-anaknya dengan baik, Maria mulai menyadari pentingnya pendidikan bagi perempuan di Minahasa. 

Keterbatasan jumlah sekolah di wilayah itu membuat banyak anak tidak dapat melanjutkan pendidikan, terutama ke Pulau Jawa yang biayanya mahal. Untuk menjawab tantangan ini, Maria mengumpulkan sejumlah perempuan dan mendirikan organisasi “Percintaan Ibu Kepada Anak Turunannya” (PIKAT) pada tahun 1917. 

Organisasi ini bertujuan memajukan pendidikan perempuan melalui kegiatan nyata. Salah satu pencapaian besar PIKAT adalah mendirikan sekolah rumah tangga bernama Huishoudschool PIKAT pada tahun 1918 di Manado. 

Sekolah ini menerima lulusan sekolah dasar dan mengajarkan mereka keterampilan rumah tangga, memasak, dan membuat kerajinan tangan.  

Perjuangan Melalui Media 

Maria juga memanfaatkan surat kabar sebagai media propaganda untuk menyebarkan cita-cita PIKAT. Pendanaannya diperoleh dari penjualan hasil masakan, kue, dan kerajinan para murid. 

Meskipun banyak mendapat tantangan dan kritik, Maria tidak gentar. Pada tahun 1920, kunjungan Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum ke sekolah PIKAT menjadi momen bersejarah. 

Sang istri gubernur Van Limburg Stirum sangat terkesan dan memberikan sumbangan sebesar 40.000 gulden untuk mendukung berbagai kegiatan sekolah yang didirikan Maria Maramis.  

Warisan yang Abadi  

Kesehatan Maria mulai menurun di usia senja, tetapi ia tetap aktif memperjuangkan nasib organisasi dan sekolah yang telah didirikannya. Kata-kata terakhirnya kepada Kepala Sekolah PIKAT, Nona H. Sumoleng, “Jangan lupakan PIKAT, anak-anak yang bungsu,” menjadi pesan yang sarat makna. 

Maria meninggal pada Maret 1924, dalam usia 52 tahun. Sebagai penghargaan atas jasa-jasanya, Pemerintah Indonesia memberikan gelar Pahlawan Pergerakan Nasional kepada Maria Walanda Maramis pada 20 Mei 1969. (Dari berbagai sumber)

TopikProfil
Profil15 DES 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Profil

Lihat semua →

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan