Budaya

Melihat Kejayaan Cirebon di Gedung Pusaka Keraton Kanoman

Wilayah pesisir utara Jawa Barat diketahui menyimpan warisan budaya yang begitu kaya yang salah satunya dapat ditemukan di Gedung Pusaka Keraton Kanoman Cirebon. Gedung ini merupakan museum yang berada di kompleks Keraton Kanoman. Museum ini menjadi tempat penyimpanan dan perawatan benda-benda kuno peninggalan keraton, sekaligus destinasi wisata sejarah. Berlokasi di Jalan Winaon, Kampung Kanoman, Kecamatan […]

Oleh Achmad Aristyan

Melihat Kejayaan Cirebon di Gedung Pusaka Keraton Kanoman
Salah satu koleksi penting Keraton Kanoman Cirebon. Foto: Instagram/raden.rezapramadia
Diterbitkan

Wilayah pesisir utara Jawa Barat diketahui menyimpan warisan budaya yang begitu kaya yang salah satunya dapat ditemukan di Gedung Pusaka Keraton Kanoman Cirebon. Gedung ini merupakan museum yang berada di kompleks Keraton Kanoman. 

Museum ini menjadi tempat penyimpanan dan perawatan benda-benda kuno peninggalan keraton, sekaligus destinasi wisata sejarah. Berlokasi di Jalan Winaon, Kampung Kanoman, Kecamatan Lemah Wungkuk, museum ini memamerkan berbagai koleksi berharga mulai dari gamelan, tombak, ukiran dinding, hingga kereta kencana yang penuh cerita.

Kereta Kencana

Memasuki area museum, dua kereta kencana yang legendaris yakni Kereta Kencana Paksi Naga Liman dan Kereta Jempana akan langsung terluhat. Kedua kereta ini dibuat pada tahun 1428 M atas prakarsa Pangeran Losari dan menjadi simbol kemegahan masa lampau.

Sedangkan Kereta Kencana Paksi Naga Liman dengan bentuk unik, menggabungkan unsur budaya Islam, Cina, dan Hindu. Kereta ini berbentuk hewan bersayap dengan kepala naga dan belalai gajah. 

Filosofinya melambangkan harmoni dari tiga budaya besar yang memengaruhi Cirebon. Selain itu, teknologi kereta ini dianggap maju untuk zamannya, dengan sayap yang dapat bergerak saat kereta berjalan, berfungsi sebagai pendingin alami bagi sultan yang menaikinya.

Di sisi lain, Kereta Jempana adalah simbol kebesaran permaisuri kesultanan. Dalam bahasa Cirebon, “Jempana” berarti Jemjeming Pengagem Manahayang yang menggambarkan keteguhan hati. 

Motif mega mendung yang menghiasi kereta ini juga menjadi dasar dari motif batik Cirebon yang terkenal di seluruh Nusantara.

Baca juga: Hasan Nawi, Maestro Pengrajin Legendaris Topeng Cirebon

Koleksi Kuno dengan Nilai Sejarah Tinggi

Selain kereta kencana, Gedung Pusaka Keraton Kanoman menyimpan berbagai benda kuno yang sarat akan nilai sejarah. Salah satu koleksi istimewa adalah ukiran dinding Paksi Naga Jalma, yang menggambarkan manusia berbadan burung dan berkulit naga. Ukiran ini menunjukkan kekayaan seni budaya Cirebon yang penuh simbolisme.

Di sudut lain, terdapat sebuah peti berharga yang berasal dari Mesir. Peti ini dihiasi ornamen khas Timur Tengah dan dahulu digunakan Sunan Gunung Jati bersama ibunya, Nyai Mas Ratu Rarasantang, saat hijrah dari Mesir ke Cirebon.

Museum ini juga menampilkan kursi kerajaan berusia hampir 700 tahun bernama Gading Gilang Kencana. Kursi ini merupakan peninggalan Kerajaan Padjajaran yang pernah digunakan Pangeran Walangsungsang, salah satu tokoh penting dalam sejarah awal Kesultanan Cirebon.

Baca juga:Museum Kujang Pusaka Kampung Budaya Paseban Bogor Dibuka

Tak kalah menarik, di dekatnya terpajang patung cupid hadiah dari jenderal Inggris, Sir Thomas Raffles, yang memperkuat hubungan diplomatik masa lalu.

Bagi yang ingin berkunjung, Keraton Kanoman buka setiap hari dari pukul 09.00 hingga 17.00 WIB. Bagi yang masuk area utama Keraton Kanoman tidak dikenakan biaya. Namun, untuk masuk ke museum, pengunjung membayar tiket sebesar Rp10.000.

Saat ini, Gedung Pusaka Keraton Kanoman menjadi  jendela menuju masa lalu yang memperlihatkan kejayaan Cirebon sebagai pusat budaya dan perdagangan. (Diolah dari berbagai sumber)

TopikBudaya
Budaya03 DES 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Budaya

Lihat semua →
Tradisi makan bajamba

Makan Bajamba di Meja Diplomasi

Makan bajamba bukan sekadar tradisi bersantap bersama, melainkan cerminan kebersamaan dan penghormatan yang dapat menginspirasi jamuan diplomatik.

Ridwan
ampilan gim Kenupi karya U-Lika Studio yang mengangkat budaya Dayak Kenyah melalui seni piksel.

Petualangan Dayak Kenyah di Kenupi

Kenupi menghadirkan budaya Dayak Kenyah melalui gim berbasis seni piksel yang dikembangkan U-Lika Studio sebagai bagian dari kampanye Jejak: Jelajah Dayak Kenyah

Ridwan

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan