Berita

Menapak Jejak Sriwijaya, Membaca Kembali Kejayaan Maritim Nusantara

Narasi kebesaran bahari Nusantara kembali mendapatkan panggung kehormatan di jantung ibu kota. Pada Sabtu, 26 September 2026, Museum Nasional Indonesia (MNI) resmi meluncurkan program publik interaktif terbarunya bertajuk BERANDA (Berbincang Ragam Budaya). Bertempat di Ruang Teater Gedung C Museum Nasional Indonesia, Jakarta, momen perdana ini ditandai dengan peluncuran buku sejarah maritim terbaru karya penulis dan […]

Oleh Ridwan

Herald van der Linde saat pemaparan buku Srivijaya di Gedung C Museum Nasional Indonesia Jakarta
Penulis Herald van der Linde membedah peradaban dan kejayaan maritim Sriwijaya dalam peluncuran buku “SRIVIJAYA” di Museum Nasional Indonesia. Foto: Dok. Museum Nasional Indonesia
Diterbitkan

Narasi kebesaran bahari Nusantara kembali mendapatkan panggung kehormatan di jantung ibu kota. Pada Sabtu, 26 September 2026, Museum Nasional Indonesia (MNI) resmi meluncurkan program publik interaktif terbarunya bertajuk BERANDA (Berbincang Ragam Budaya).

Bertempat di Ruang Teater Gedung C Museum Nasional Indonesia, Jakarta, momen perdana ini ditandai dengan peluncuran buku sejarah maritim terbaru karya penulis dan peneliti Herald van der Linde yang berjudul “SRIVIJAYA: Power, Trade, and Faith in Indonesia’s First Maritime Empire”.

Berbeda dari diskusi-diskusi terbatas sebelumnya, peluncuran buku kali ini dibuka secara luas untuk publik. Langkah ini menandai komitmen Kementerian Kebudayaan dan pihak pengelola museum dalam membuka pintu ruang diskusi sejarah agar dapat diakses oleh masyarakat umum, akademisi, hingga pencinta budaya.

Membuka Ruang Publik lewat Program BERANDA

Melalui program BERANDA, Museum Nasional Indonesia berupaya mengubah wujud museum yang kaku menjadi ruang dialog yang hidup dan inklusif. Kepala Museum dan Cagar Budaya, Indira Estiyanti Nurjadin, menegaskan pentingnya keterbukaan ini dalam sambutan pembukanya.

Indira memberikan apresiasi tinggi kepada Herald van der Linde yang memilih Museum Nasional Indonesia sebagai lokasi peluncuran resmi bukunya bagi khalayak luas.

“Acara kali ini merupakan book launching, karena menurut Pak Herald, acara-acara sebelumnya mengenai buku Sriwijaya merupakan acara yang digelar terbatas. Jadi ini adalah acara pertama yang dibuka secara resmi untuk masyarakat umum,” ujar Indira.

Kehadiran para tokoh penting—seperti Ketua Umum Perkumpulan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) Marsis Sutopo serta Presiden Indonesian Heritage Society Christine Kristiati—semakin memperkuat bobot diskusi kontekstual mengenai peninggalan peradaban bahari ini.

Menelusuri Jejak Kekuasaan, Perdagangan, dan Keagamaan Sriwijaya

Dalam penjelasannya, Herald van der Linde mengungkapkan bahwa penyusunan buku SRIVIJAYA memakan waktu dan riset mendalam dengan menelaah ratusan literatur serta sumber sejarah primer maupun sekunder. Buku ini membedah bagaimana kejayaan imperium kemaritiman Sriwijaya tumbuh menjadi benteng perdagangan dan pusat peradaban intelektual terkemuka di Asia Tenggara pada abad ke-7 hingga ke-13 Masehi.

Herald menelusuri narasi sejarah mulai dari catatan perjalanan biksu Tiongkok, I Tsing, yang singgah pada tahun 670 Masehi untuk mempelajari tata bahasa Sanskerta dan ajaran Buddha. Tak hanya itu, buku ini mengaitkan dokumen sejarah tersebut dengan peninggalan arkeologis imperium ini, termasuk jejak Raja Dapunta Hyang Sri Jayanasa yang terekam abadi dalam pelbagai prasasti peninggalan era Sriwijaya yang kini tersimpan rapi di Museum Nasional Indonesia.

Naskah ini juga membedah konektivitas geopolitik yang kuat antara Kedatuan Sriwijaya di Sumatra dengan Wangsa Syailendra di Jawa—era emas yang melahirkan mahakarya arsitektur dunia seperti Candi Borobudur—hingga benang merah hubungan historisnya dengan asal-usul pendirian Singapura (Singapura Kingdom).

Muara Jambi dan Jejaring Diplomasi Global Nusantara

Salah satu poin penting yang menjadi sorotan utama dalam diskusi ini adalah kedudukan universitas kuno Muara Jambi di Sumatra. Kompleks percandian Muara Jambi pada masa keemasannya berfungsi bukan hanya sebagai sarana peribadatan, melainkan sebagai pusat pembelajaran agama dan sains (universitas) tertua dan terbesar di dunia pada zamannya.

Pelabuhan-pelabuhan geopolitik yang tersebar di sepanjang Selat Malaka dan wilayah perairan Nusantara terbukti bertindak sebagai jembatan penting dalam jejaring diplomasi global. Kerajaan Sriwijaya sukses memadukan tiga elemen vital: kekuatan militer perairan (power), penguasaan rute rempah dan perdagangan lintas benua (trade), serta pertukaran spiritual dan ilmu pengetahuan (faith).

Melalui inisiatif seperti program BERANDA dan terbitnya karya literatur mendalam seperti buku SRIVIJAYA, Museum Nasional Indonesia terus membuktikan komitmennya untuk menghidupkan kembali narasi koleksi bersejarahnya.

Sejarah kemaritiman Nusantara tidak lagi sekadar menjadi pajangan etalase kaca, melainkan menjadi sumber inspirasi yang relevan, kontekstual, dan inklusif dalam memperkokoh identitas serta jati diri bangsa.

Kepala Museum dan Cagar Budaya, Indira Estiyanti Nurjadin (kiri), dan Herald van der Linde menunjukkan buku SRIVIJAYA saat peluncuran di Museum Nasional Indonesia, Jakarta (26/9/2026). Foto: Dok. MNI

Herald van der Linde, Menulis Indonesia dari Dekat

Herald van der Linde datang kepada Indonesia bukan hanya sebagai pengamat dari kejauhan. Sejak dekade 1990-an, penulis dan analis keuangan asal Belanda ini telah bepergian, tinggal, dan bekerja di Indonesia serta Hong Kong.

Pernikahannya dengan seorang warga negara Indonesia turut mempererat kedekatannya dengan negeri yang kemudian menjadi salah satu sumber ketertarikannya dalam menelusuri sejarah, masyarakat, dan kebudayaan.

Ketertarikan itu kemudian menemukan jalannya melalui buku. Ia menulis Jakarta: History of a Misunderstood City (2020), yang menelusuri perjalanan ibu kota melalui lapisan sejarah dan perubahan masyarakatnya.

Perhatiannya kemudian bergerak lebih jauh ke masa lampau melalui Majapahit: Intrigue, Betrayal and War in Indonesia’s Greatest Empire (2024) dan SRIVIJAYA: Power, Trade, and Faith in Indonesia’s First Maritime Empire. Di luar sejarah, van der Linde juga menulis tentang dunia pasar modal melalui Asia’s Stock Markets From the Ground Up (2021).

Lintasan karyanya menunjukkan ketertarikan yang bergerak dari angka dan pasar menuju manusia serta peradaban. Ia juga menjadi penulis pendamping untuk buku edukasi tentang wine, A Very Good Year To Learn About Wine (2012) dan A(nother) Very Good Year to Learn About Wine (2013).

Bagi van der Linde, Indonesia tampaknya bukan sekadar tempat yang pernah ia tinggali dan bekerja, melainkan ruang yang terus menghadirkan lapisan cerita untuk dipahami—dari kota modern dan pasar finansial hingga kerajaan, perdagangan, agama, dan masyarakat yang membentuk sejarah kepulauan ini.

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT