Tradisi

Mengenal Tamuni, Tradisi Celup Bayi Suku Bajo ke Air Laut

Masyarakat Suku Bajo memiliki tradisi unik yakni Tamuni, terkait pengasuhan keluarga. Tradisi ini adalah ritual pencelupan bayi yang baru lahir ke dalam air laut. Namun, sebelumnya, keluarga memastikan bahwa kondisi fisik dan psikisnya dalam keadaan baik. Tradisi ini dilakukan sebagai bagian dari proses adaptasi anak terhadap lingkungan maritim serta untuk memastikan kesehatan dan kekuatan fisik […]

Oleh Anisa Kurniawati

Mengenal Tamuni, Tradisi Celup Bayi Suku Bajo ke Air Laut
Ilustrasi anak-anak Suku Bajau sedang bermain dan berenang di laut. Foto: Shutterstock
Diterbitkan

Masyarakat Suku Bajo memiliki tradisi unik yakni Tamuni, terkait pengasuhan keluarga. 

Tradisi ini adalah ritual pencelupan bayi yang baru lahir ke dalam air laut. Namun, sebelumnya, keluarga memastikan bahwa kondisi fisik dan psikisnya dalam keadaan baik.

Tradisi ini dilakukan sebagai bagian dari proses adaptasi anak terhadap lingkungan maritim serta untuk memastikan kesehatan dan kekuatan fisik mereka sejak dini.

Di Indonesia, mayoritas Suku Bajo bermukim di Kalimantan dan Sulawesi. Suku Bajo, sebagai komunitas yang menjalani kehidupan nomaden di atas laut, sering dijuluki sebagai “gipsi laut.”

Kehidupan mereka sangat erat kaitannya dengan laut. Mulai dari pola permukiman yang dibangun di atas air, hingga tradisi yang masih dipertahankan yaitu Tamuni.

Prosesi Tradisi Tamuni 

Pelaksanaan tradisi tamuni dimulai dengan mempersiapkan alat penerang yaitu suluh atau obor yang terbuat dari serabut kelapa, kulit kayu dan kemenyan.

Bahan lainnya 4 batang pinang muda, dan 4 helai daun sirih yang melambangkan penguasa laut. 

Bayi yang lahir di atas perahu akan langsung mengalami prosesi ini. Sementara yang lahir di daratan, pencelupan ke air laut biasanya dilakukan pada hari ketiga setelah kelahiran. Setelah itu, bayi akan dimandikan kembali pada hari ke-40.

Prosesi dilakukan dengan dukun dan keluarga bayi menuju ketepian laut.

Kemudian ibu dan bayinya duduk diatas tikar membasuh wajah dan seluruh tubuh dengan air laut. Dilanjutkan dengan mencelupkan bayi ke laut dan menghanyutkan ari-ari ke dasar laut.

Masyarakat Suku Bajo mempunyai kepercayaan bahwa ari-ari merupakan saudara kembar bayi.

Setiap kelahiran anak pasti bersama kembarannya yang langsung hidup di laut. Sehingga ketika salah satu menderita sakit keras, mereka percaya semangatnya telah diambil.

Semangat itu diambil saudara kembarnya dan dibawa ke laut, sebagian lagi diambil dewa dan dibawa naik di langit ke tujuh. Maka dari itu, prosesi ini dilakukan untuk meminta kembali semangat hidup yang dibawa ke laut dan ke langit.  

Selain itu, menghanyutkan ari-ari bertujuan agar sang anak tumbuh sehat, dan kuat. Serta memiliki keberanian dalam menghadapi kehidupan di lingkungan maritim.

uku Bajo juga percaya bahwa ari-ari yang berada didasar laut, akan menolong bayi ketika ia besar dan saat berada dalam bahaya di tengah laut. 

Tradisi Tamuni dilakukan agar di usia dini, bayi menjadi kuat, tidak cengeng, tidak mudah sakit-sakitan dan mengenal identitas dirinya sebagai masyarakat maritim.

Tradisi Tamuni bukan sekadar ritual kesehatan, tetapi juga simbol identitas budaya. Melalui warisan ini, mereka terus menjaga hubungan erat dengan laut dan melestarikan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.

TopikTradisi
Tradisi07 FEB 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Tradisi

Lihat semua →

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati