Tradisi

Mengkong Hujan, Cara Warga Bandung Barat Mengalihkan Hujan

Ritual meminta hujan mungkin sudah biasa terdengar di telinga masyarakat, namun Ritual Mengkong Hujan di Bandung Barat, Jawa Barat memiliki cerita berbeda. Kebiasaan unik ini bukan upaya meminta hujan, namun memindahkan rute hujan, agar hujan tidak turun di lokasi yang diinginkan. Ritual Mengkong Hujan merupakan warisan yang sudah dilakukan turun temurun. Ritual yang dilakukan warga […]

Oleh Anisa Kurniawati

Mengkong Hujan, Cara Warga Bandung Barat Mengalihkan Hujan
Proses penancapan lidi sebagai salah satu bagian dari prosesi mengkong hujan Foto: tangkapan layar youtube/Karimaca TV
Diterbitkan

Ritual meminta hujan mungkin sudah biasa terdengar di telinga masyarakat, namun Ritual Mengkong Hujan di Bandung Barat, Jawa Barat memiliki cerita berbeda. Kebiasaan unik ini bukan upaya meminta hujan, namun memindahkan rute hujan, agar hujan tidak turun di lokasi yang diinginkan.

Ritual Mengkong Hujan merupakan warisan yang sudah dilakukan turun temurun. Ritual yang dilakukan warga di Desa Bojongkoneng, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat ini konon bisa mengubah rute hujan.

Dari cerita masyarakat setempat, Mengkong Hujan bukanlah sebuah ritual. Melainkan sebuah panjatan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Tradisi ini juga bukan upacara adat untuk menghentikan hujan. Akan tetapi memindahkan hujan ke tempat lain terlebih dahulu.

Tradisi Memindahkan Hujan

Dalam pelaksanaannya, tradisi mengubah rute hujan dipimpin tokoh yang dituakan atau pemuka adat setempat. Tokoh adat ini memiliki peranan utama dalam pembacaan doa dan menjalankan acara pemindahan cuaca sesuai informasi dari nenek moyang.

Mengkong hujan biasanya dilaksanakan ketika ada hajat besar. Misalkan seperti acara pernikahan, khitanan. Selain itu, hajatan yang diadakan pemerintah desa maupun kecamatan saat akan melaksanakan hajat lembur atau panen raya.

Tujuan dari pelaksanaan ritual ini supaya yang memiliki hajat tidak turun hujan saat acaranya berlangsung. Tradisi ini sudah puluhan tahun dilaksanakan, dan acara hajat yang dibuka dengan ini hampir dipastikan berjalan lancar dan tidak diterpa hujan deras.

Simbol Langit

Pelaksanaan Mengkong Hujan melalui beberapa tahapan yang harus ditaati. Pertama, pemilik hajat perlu menyediakan sejumlah sesajen berupa makanan dan minuman untuk perantara harapan. Sesaji itu memiliki makna khusus yang mendalam. 

Sesaji dalam ritual ini meliputi buah naga, buah jeruk, kelapa, pir dan beberapa lainnya. Sesaji ini merupakan simbol langit. Kemudian ada juga, kemenyan, lidi, garam dan lada yang merupakan simbol bumi atau manusia. 

Ritual juga dilengkapi dengan doa yang berfungsi sebagai pembuka jalan. Dalam hal ini dimaksud agar keduanya saling terhubung dan saling memberikan manfaat.

Proses Mengkong Hujan dimulai dengan doa kepada Tuhan, kemudian dibacakan juga sesajen dari hasil bumi serta terdapat prosesi menancapkan lidi ke dalam tanah. Setelahnya, lidi dicabut dan diberikan kepada seseorang yang menjadi bagian dari acara hajatan.

Lidi itu selanjutnya ditanam di empat titik acara yang sudah ditentukan. Kemudian, dilanjutkan dengan menaburkan garam yang sudah dicampur dengan merica. Terakhir, lidi bisa dicabut saat acara telah selesai agar jalur hujan bisa kembali terbuka dan hujan bisa lekas turun.

Tradisi Mengkong hujan sendiri sudah dilindungi lewat Undang-Undang Khusus Pemajuan Kebudayaan Nomor 5 Tahun. Pada tahun 2017 tradisi ini didorong menjadi warisan budaya tak benda. (Dari berbagai sumber)

TopikTradisi
Tradisi22 DES 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Tradisi

Lihat semua →

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati