Siapa yang tidak mengenal Madura, wilayah di Propinsi Jawa Timur yang dikenal luas karena memiliki tradisi Karapan Sapi. Pulau seluas 5.500 kilometer persegi ini juga disebut pulau garam, karena menjadi salah satu penghasil garam terbesar di Indonesia.
Karapan sapi atau Karaben Sape dalam bahasa Madura telah melegenda sebagai salah satu budaya, permainan juga seni tradisi masyarakat Pulau Madura hingga kini. Di sisi lain, bagi masyarakat Madura, Karapan bisa jadi bukan hanya sekedar adu pacu Sapi semata namun juga ikon atau simbol seni kebanggaan mereka.
Lomba Karapan yang dikenal sejak lama, biasanya digelar di Kabupaten, Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep pada Agustus atau September, kemudian babak finalnya digelar akhir September atau Oktober.
Saat pacuan berlangsung, sepasang sapi menarik semacam kereta kayu tempat joki berdiri untuk mengontrol, dipacu adu cepat menghadapi pasangan sapi lainnya di lintasan sepanjang 100 meter menuju garis finis. Di setiap pacuan, waktunya bisa berlangsung hingga 60 detik atau 1 menit. Sebelum pertandingan, peserta Karapan Sapi mengelilingi arena lomba diiringi musik tradisional.
Saat perlombaan berlangsung, banyak masyarakat dilibatkan, antara lain pemilik sapi pacuan, tukang Tongko atau pengendali sapi pacuan di atas Kaleles, tukang Tambeng yang tugasnya menahan tali kekang sapi, serta tukang Gettak yang bekerja menggertak sapi agar berlari kencang.
Pacuan ini tak hanya digemari warga lokal namun juga para wisatawan asing yang ingin merasakan sensasinya dari dekat.
Baca Juga: Mengintip Jamasan, Ruwatan Anak Berambut Gimbal Di Gunung Dieng
Saat ini Karaben Sape seolah berevolusi, dari sekedar hiburan rakyat sebagai penanda awal tanam menjadi olahraga populer dan digemari di Madura.
Sementara sapi yang awalnya dipelihara untuk dipekerjakan di lahan pertanian, kini naik kasta menjadi satwa lomba bernilai tinggi. Sapi jawara karapan bahkan mampu menaikan status pemiliknya.
Tak heran, bila Karapan Sapi bukan saja terkait soal budaya atau seni tapi bisa jadi juga menyangkut harga diri. Di sisi lain, masih eksisnya lomba tradisional ini hingga kini menjadi bukti masyarakat Madura tetap setia merawat kearifan lokal daerahnya.