Tradisi

Merayakan Natal dalam Tradisi Marbinda di Sumatera Utara

Bagi Suku Batak di Sumatera Utara, perayaan Natal sudah berbaur menjadi budaya dan tradisi, salah satunya yaitu Marbinda. Tradisi ini memiliki makna sebagai menyembelih hewan bersama-sama dengan asas gotong royong. Tradisi Marbinda biasanya dilakukan di tanggal 24 Desember, sehari menjelang puncak perayaan Natal. Dalam menyembelih hewan biasanya dilakukan atas kesepakatan sekelompok masyarakat. Selain menyambut hari […]

Oleh Anisa Kurniawati

tradisi marbinda
Tradisi Marbinda biasanya dilakukan di tanggal 24 Desember, sehari menjelang puncak perayaan Natal. Foto: shutterstock.com_tatan+daniel via kemenparekraf.go.id
Diterbitkan

Bagi Suku Batak di Sumatera Utara, perayaan Natal sudah berbaur menjadi budaya dan tradisi, salah satunya yaitu Marbinda. Tradisi ini memiliki makna sebagai menyembelih hewan bersama-sama dengan asas gotong royong. 

Tradisi Marbinda biasanya dilakukan di tanggal 24 Desember, sehari menjelang puncak perayaan Natal. Dalam menyembelih hewan biasanya dilakukan atas kesepakatan sekelompok masyarakat. Selain menyambut hari Natal, Tradisi Marbinda juga dilaksanakan untuk menyambut tahun baru. 

Hewan yang biasa disembelih adalah hewan berkaki empat. Misalkan seperti babi, kerbau, kuda atau sapi sesuai kesepakatan bersama. Hewan ini dibeli dari dana patungan dari beberapa keluarga atau dalam kumpulan marga yang sama. 

Marbinda dan Marhobas

Dalam pelaksanaannya, tradisi dipersiapkan sejak lama. Hal ini karena proses pengumpulan dana patungan dilakukan secara bertahap. Bahkan ada yang ditabung sejak awal tahun. 

Awalnya masyarakat menentukan dahulu jenis hewan yang akan disembelih. Kemudian tiap keluarga atau kelompok membayar iuran tiap bulan hingga hari marbinda tiba. Dulunya, pembayaran dibayar dengan padi saat panen. Seiring waktu, dibayar menggunakan uang. 

Sebelum acara Marbinda, diawali dengan menyampaikan kata-kata ajakan untuk bersatu. Lalu dilanjutkan berdoa bersama. Kegiatan memasak daging bersama-sama ini dinamakan marhobas. 

Kaum lelaki akan memotong daging, dan perempuan menyediakan bumbu dapur untuk memasak bersama. Biasanya daging hasil sembelihan dibagi menjadi 2 kelompok. Sebagian akan dimasak bersama dan sebagian lagi dibagi dalam bentuk daging mentah.

Kegitan marbinda dan marhobas akan diakhiri dengan perayaan dan makan bersama. Dalam pelaksanaannya juga ada proses ibadah. Hal ini dilakukan seperti doa bersama sebagai ucapan syukur kepada Tuhan.  

Semangat Kebersamaan

Tradisi Marbinda merupakan cara Suku Batak menjaga nilai-nilai kebersamaan, keadilan, saling menghargai dan senasib sepenanggungan. Maksud dari adil dan saling menghargai karena hewan yang disembelih akan dibagi secara rata kepada setiap anggota. 

Kebersamaan dan gotong royong karena dalam proses menyembelih perwakilan setiap  keluarga harus terlibat. Sayangnya, tradisi ini perlahan mulai terkikis. Terlebih masyarakat perkotaan sudah jarang melakukan tradisi ini. 

Padahal marbinda tidak hanya kegiatan menyembelih hewan dan merayakan natal, namun menunjukkan semangat kebersamaan. Hal ini ditandai dengan daging yang semua anggota kelompok harus mendapat bagian meski sedikit. Selain itu pembiayaan yang ditanggung bersama. 

Di lain sisi, ada yang melakukan tradisi Marbinda tanpa menjalankan kebiasaan patungan. Marbinda yang selama ini banyak ditemui lebih kepada pelaksanaan kurban satu pihak yang hasilnya dibagikan kepada jemaat kurang mampu. (Dari berbagai sumber)

TopikTradisi
Tradisi18 DES 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Tradisi

Lihat semua →

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati