Sebuah tradisi sakral yang masih dilestarikan masyarakat Tegallalang, Gianyar, Bali adalah Ngerebeg.
Tradisi ini mencerminkan hubungan mendalam antara manusia, alam, dan roh-roh halus dalam kosmologi Hindu-Bali. Biasanya dilaksanakan setiap 210 hari (6 bulan kalender Bali).
Bagi masyarakat Tegallalang, Ngerebeg adalah simbol kekuatan spiritual dan kultural.
Di tengah kemajuan zaman, tradisi ini tetap bertahan sebagai pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam semesta.
Menjaga Keseimbangan Alam dan Manusia
Kata Ngrebeg sendiri berasal dari kata Gerebeg yang artinya melakukan upacara besar, kemudian dalam bahasa Balinya mendapat angsuran sehingga menjadi Ngerebeg.
Tradisi Ngrebeg ini merupakan ritual unik khas di Daerah Tegallalang yang dilaksanakan setiap 210 hari (6 bulan kalender Bali) di Pura Kahyangan Jagat Penataran Duur Bingin, Desa Tegallalang.
Upacara ini dilaksanakan sebagai rangkaian upacara keagamaan yang disebut Puja Wali atau Piodalan di Pura Kahyangan Jagat Penataran Duur Bingin.
Tujuan dari ritual ini untuk menjaga keseimbangan antara Bhuana Alit (alam mikro) dan Bhuana Agung (alam makro), atau menekankan pada keharmonisan alam serta manusia.
Masyarakat desa Tegallalang meyakini bahwa energi negatif dari roh jahat bisa mengganggu keseimbangan alam dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, ritual Ngerebeg dilakukan untuk membersihkan pengaruh buruk tersebut.
Sejarah Tradisi Ngerebeg
Sejarah Ngrebeg berawal pada abad ke-17 dari pendirian Pura Kahyangan Jagat Penataran Duur Bingin pada masa pemerintahan Raja I Dewa Agung Made.
Dahulu, pura tersebut masih berupa hamparan alang-alang sehingga disebut Tegallalang. Hamparan itu kemudian dibangun Pura berpenghuni Wong Samar yang pimpinan oleh Kelian.
Dipilihnya area itu sebagai tempat suci karena Raja I Dewa Agung Made sering melihat di tempat tersebut muncul sinar suci yang terang.
Sebagaimana diketahui tempat itu sudah berpenghuni Wong Samar. Maka terjadi negosiasi antara Cokorda Ketut Segara dengan Wong Samar.
Cokorda Ketut Segara menjelaskan bahwa tujuan dari pembangunan Pura tersebut adalah untuk memuliakan Sang Hyang Luhuring Akasa.
Kemudian para Wong Samar mendukungnya namun dengan syarat pimpinan mereka yaitu Jero Pan Sunari juga di istana kan di Pura itu.
Sebagai imbalannya para pekerja diberi upah berupa hidangan yang disebut Paica Alit dan setelah selesai dikembalikan secara kirab yang disebut Ngrebeg. Hingga saat ini masyarakat sekitar masih menggelar tradisi ini.
Prosesi Ritual Ngerebeg
Ritual Ngerebeg dimulai dengan membuat barong-barongan, yakni replika barong yang akan diarak.
Anak-anak dan remaja desa akan mengenakan pakaian dari dedaunan dan kadang dilukis menyerupai karakter mistis. Mereka mengusung barong-barongan sambil berkeliling desa untuk mengusir roh-roh jahat.
Prosesi arak-arakan itu secara filosofis merupakan rangkaian upacara ucap syukur dan terima kasih kepada Panjak Hana Tan Hana/Wong Samar serta mengembalikan ke asalnya masing-masing.
Selain itu, juga sering diiringi dengan kegiatan gotong royong membersihkan desa, baik dari sampah maupun dari energi negatif yang dipandang dapat mempengaruhi kesejahteraan masyarakat.
Proses ini disertai dengan doa-doa dan sesajen kepada para dewa. Mereka percaya bahwa, lingkungan yang bersih dapat menjauh dari malapetaka.
Menjadi Daya Tarik Pulau Dewata
Prosesi Ngerebeg tidak hanya sebatas ritual adat, tetapi juga menjadi ajang untuk memperkuat kebersamaan masyarakat desa. Ritual ini juga simbol kekuatan spiritual dan kultural.
Terlebih lagi, upacara ini semakin dikenal oleh wisatawan dan menjadi daya tarik budaya di Bali. Meski demikian, bagi masyarakat lokal, esensi Ngerebeg tetaplah sakral. (Anisa Kurniawati- dari berbagai sumber)