Masyarakat Sasak di Kelurahan Denggen, Kecamatan Selong, Kabupaten Lombok Timur, memiliki tradisi turun-temurun yang bertujuan untuk menjaga hasil panen mereka dari serangan hama.
Ritual yang dikenal dengan nama Nyelamet Dowong ini merupakan upacara adat yang digelar setiap tahun sebelum musim panen, sebagai bentuk doa dan harapan agar tanaman padi tetap terlindungi serta menghasilkan panen yang melimpah.
Prosesi Ritual Nyelamet Dowong
Melansir dari rri.co.id, Nyelamet Dowong memiliki serangkaian prosesi yang dilakukan selama dua hari. Ritual diawali pembersihan makam leluhur pada hari Jumat, kemudian dilanjutkan dengan pemotongan ayam pada hari Minggu.
Sebelum pelaksanaan ritual utama, perempuan-perempuan Sasak membawa tembolaq, baki tradisional berisi hasil bumi dan aneka makanan khas seperti renggi, opak-opak, sumping walu, nasi dan ketupat lengkap dengan lauk pauknya.
Setelah itu, mereka menuju makam leluhur untuk melakukan zikir dan doa, serta mengambil air suci dari mata air Merta Sari.
Menurut Lalu Selamet, tokoh adat Kelurahan Denggen, ritual ini selalu dilaksanakan ketika padi telah berumur satu bulan, sebagai upaya untuk menjaga tanaman dari serangan hama dan memastikan keberkahan hasil panen.
Makna Filosofis dan Teknik Pengendalian Hama Tradisional
Salah satu bagian unik dari Nyelamet Dowong adalah prosesi pemotongan ayam, yang memiliki makna simbolis sekaligus manfaat praktis. Darah ayam yang disembelih dialirkan ke daun bambu, lalu daun itu ditempatkan di tengah sawah.
Lalu Selamet menjelaskan, metode ini digunakan leluhur masyarakat Sasak sebagai pestisida alami. Bau amis darah ayam menarik perhatian hama, yang akan menempel pada daun bambu. Setelah hama itu kenyang, mereka mati secara alami.
Setelah proses ini selesai, air suci dari Merta Sari dialirkan ke sawah, sehingga hama yang mati akan terbawa aliran air.
Tradisi ini tidak hanya memiliki unsur spiritual, tetapi juga menunjukkan masyarakat lokal memanfaatkan metode alami untuk mengendalikan hama sebelum adanya pestisida modern.
Baca juga: Tradisi Bekayat Cara Membaca Hikayat Masyarakat Suku Sasak
Nyelamet Dowong sebagai Wujud Syukur dan Kebersamaan
Selain sebagai perlindungan tanaman, Nyelamet Dowong juga ajang kebersamaan bagi warga.
Amaq Muslihin, salah satu warga yang mengikuti ritual ini, mengungkapkan rasa antusiasnya dalam menyediakan makanan dan buah-buahan secara swadaya untuk dinikmati bersama.
“Kami di sini secara swadaya menyajikan semua ini, Untuk kami nikmati bersama. Apalagi padi saya saat ini mulai menguning, jadinya berharap hasil panennya berlimpah,” ujarnya dilansir detik.com.
Bagi masyarakat Denggen, Nyelamet Dowong bukan sekadar ritual adat, tetapi juga manifestasi rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki yang diberikan.
Tradisi ini mengajarkan pentingnya menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta dalam kehidupan sehari-hari.
Ritual Nyelamet Dowong menjadi bukti kearifan lokal masyarakat Sasak dalam menjaga kelestarian pertanian mereka. Dengan perpaduan unsur spiritual dan teknik pengendalian hama alami, tradisi ini tetap bertahan dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Di tengah perkembangan zaman, Nyelamet Dowong tetap menjadi warisan budaya yang memperkuat identitas masyarakat Lombok Timur serta mengajarkan nilai-nilai kebersamaan, rasa syukur, dan kepedulian terhadap alam. (Diolah dari berbagai sumber)