Tradisi

Nyelamet Dowong, Ritual Sasak Selamatkan Padi dari Hama

Masyarakat Sasak di Kelurahan Denggen, Kecamatan Selong, Kabupaten Lombok Timur, memiliki tradisi turun-temurun yang bertujuan untuk menjaga hasil panen mereka dari serangan hama. Ritual yang dikenal dengan nama Nyelamet Dowong ini merupakan upacara adat yang digelar setiap tahun sebelum musim panen, sebagai bentuk doa dan harapan agar tanaman padi tetap terlindungi serta menghasilkan panen yang […]

Oleh Achmad Aristyan

Nyelamet Dowong, Ritual Sasak Selamatkan Padi dari Hama
Perempuan-perempuan Sasak membawa tembolaq dalam Nyelamet Dowong. Foto: detikBali/Sanusi Ardi W
Diterbitkan

Masyarakat Sasak di Kelurahan Denggen, Kecamatan Selong, Kabupaten Lombok Timur, memiliki tradisi turun-temurun yang bertujuan untuk menjaga hasil panen mereka dari serangan hama.

Ritual yang dikenal dengan nama Nyelamet Dowong ini merupakan upacara adat yang digelar setiap tahun sebelum musim panen, sebagai bentuk doa dan harapan agar tanaman padi tetap terlindungi serta menghasilkan panen yang melimpah.  

Prosesi Ritual Nyelamet Dowong

Melansir dari rri.co.id, Nyelamet Dowong memiliki serangkaian prosesi yang dilakukan selama dua hari. Ritual diawali pembersihan makam leluhur pada hari Jumat, kemudian dilanjutkan dengan pemotongan ayam pada hari Minggu.  

Sebelum pelaksanaan ritual utama, perempuan-perempuan Sasak membawa tembolaq, baki tradisional berisi hasil bumi dan aneka makanan khas seperti renggi, opak-opak, sumping walu,  nasi dan ketupat lengkap dengan lauk pauknya.

Setelah itu, mereka menuju makam leluhur untuk melakukan zikir dan doa, serta mengambil air suci dari mata air Merta Sari.  

Menurut Lalu Selamet, tokoh adat Kelurahan Denggen, ritual ini selalu dilaksanakan ketika padi telah berumur satu bulan, sebagai upaya untuk menjaga tanaman dari serangan hama dan memastikan keberkahan hasil panen.  

Makna Filosofis dan Teknik Pengendalian Hama Tradisional

Salah satu bagian unik dari Nyelamet Dowong adalah prosesi pemotongan ayam, yang memiliki makna simbolis sekaligus manfaat praktis. Darah ayam yang disembelih dialirkan ke daun bambu, lalu daun itu ditempatkan di tengah sawah.  

Lalu Selamet menjelaskan, metode ini digunakan leluhur masyarakat Sasak sebagai pestisida alami. Bau amis darah ayam menarik perhatian hama, yang akan menempel pada daun bambu. Setelah hama itu kenyang, mereka mati secara alami.  

Setelah proses ini selesai, air suci dari Merta Sari dialirkan ke sawah, sehingga hama yang mati akan terbawa aliran air.

Tradisi ini tidak hanya memiliki unsur spiritual, tetapi juga menunjukkan masyarakat lokal memanfaatkan metode alami untuk mengendalikan hama sebelum adanya pestisida modern.  

Baca juga: Tradisi Bekayat Cara Membaca Hikayat Masyarakat Suku Sasak

Nyelamet Dowong sebagai Wujud Syukur dan Kebersamaan

Selain sebagai perlindungan tanaman, Nyelamet Dowong juga ajang kebersamaan bagi warga.

Amaq Muslihin, salah satu warga yang mengikuti ritual ini, mengungkapkan rasa antusiasnya dalam menyediakan makanan dan buah-buahan secara swadaya untuk dinikmati bersama.  

“Kami di sini secara swadaya menyajikan semua ini, Untuk kami nikmati bersama. Apalagi padi saya saat ini mulai menguning, jadinya berharap hasil panennya berlimpah,” ujarnya dilansir detik.com.  

Bagi masyarakat Denggen, Nyelamet Dowong bukan sekadar ritual adat, tetapi juga manifestasi rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki yang diberikan.

Tradisi ini mengajarkan pentingnya menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta dalam kehidupan sehari-hari.  

Ritual Nyelamet Dowong menjadi bukti kearifan lokal masyarakat Sasak dalam menjaga kelestarian pertanian mereka. Dengan perpaduan unsur spiritual dan teknik pengendalian hama alami, tradisi ini tetap bertahan dan diwariskan dari generasi ke generasi.  

Di tengah perkembangan zaman, Nyelamet Dowong tetap menjadi warisan budaya yang memperkuat identitas masyarakat Lombok Timur serta mengajarkan nilai-nilai kebersamaan, rasa syukur, dan kepedulian terhadap alam. (Diolah dari berbagai sumber)

TopikTradisi
Tradisi17 FEB 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Tradisi

Lihat semua →

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan