Kolonialisme dan Pergerakan

Saat VOC Menghancurkan Banda demi Pala

Demi monopoli pala, VOC membunuh, mengusir, dan memperbudak warga Banda.

Oleh Narendra

Saat VOC Menghancurkan Banda demi Pala
Benteng Belgica di Banda Neira, Maluku, dengan latar perbukitan hijau dan permukiman pesisir di Kepulauan Banda. Dok pexel
Diterbitkan

Pada 1621, Kepulauan Banda di Maluku menjadi sasaran penaklukan besar-besaran oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), perusahaan dagang Belanda yang memiliki kekuatan militer dan kewenangan politik. Sasaran utamanya bukan sekadar menduduki pelabuhan, melainkan mengendalikan perdagangan pala dan fuli, selaput biji pala yang bernilai tinggi di pasar dunia. Penaklukan di bawah Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen berujung pada pembunuhan, pengusiran, dan perbudakan masyarakat Banda.

Peristiwa ini dikenal sebagai Pembantaian Banda 1621 dan oleh sejumlah sejarawan dikategorikan sebagai genosida. Dampaknya melampaui jatuhnya sebuah kepulauan: masyarakat yang sebelumnya terlibat dalam perdagangan antardaerah kehilangan banyak penduduk, tanah, dan kebebasan menentukan hubungan dagangnya sendiri.

Pala yang Mengundang Penaklukan

Sebelum VOC berusaha menguasai Banda, masyarakat setempat telah menjadi bagian dari jaringan perdagangan rempah yang menghubungkan kepulauan Maluku dengan pedagang dari berbagai kawasan Asia. Pala dan fuli merupakan komoditas utama. Pedagang datang membawa barang pertukaran, sementara masyarakat Banda menjual hasil kebun mereka melalui jaringan niaga yang tidak bergantung pada satu perusahaan saja.

Kapal Belanda pertama kali mendatangi Banda pada 1599. Hubungan dagang kemudian berkembang menjadi upaya politik untuk memperoleh hak istimewa pembelian rempah. Dalam perjanjian 1602 dan perjanjian-perjanjian berikutnya, VOC berusaha mendapatkan hak membeli pala dan fuli secara eksklusif. Namun, sebagian masyarakat Banda tetap berdagang dengan pihak lain, termasuk pedagang Inggris dan jaringan niaga Asia.

Bagi VOC, perdagangan bebas tersebut menggagalkan tujuan monopoli. Perusahaan menginginkan kendali atas pembelian, harga, dan jalur penjualan agar pesaing tidak memperoleh rempah langsung dari produsen. Ketika perjanjian tidak menghasilkan kepatuhan yang diharapkan, kekuatan militer semakin sering digunakan untuk memaksakan kehendak.

Ketegangan meningkat pada 1609 ketika armada Belanda di bawah Laksamana Pieter Willemsz Verhoeff datang ke Banda Neira dan membangun benteng meskipun masyarakat setempat menolak pelanggaran terhadap kemandirian mereka. Verhoeff kemudian terbunuh dalam sebuah perundingan yang berubah menjadi penyergapan. VOC membalas dengan operasi militer dan penghancuran permukiman. Setelah itu, konflik dan upaya pemaksaan monopoli terus berlangsung selama lebih dari satu dekade.

Serangan Coen dan Kehancuran Banda

Pada akhir Februari 1621, Jan Pieterszoon Coen tiba di Banda dengan armada yang menurut kajian sejarah terdiri atas 15 kapal dan sekitar 1.655 orang. Pasukannya menyerang Lontor, pulau besar yang menjadi salah satu pusat masyarakat dan produksi pala. Perlawanan penduduk berlangsung sengit, tetapi pasukan VOC akhirnya berhasil merebut permukiman utama melalui serangan dari sisi darat yang pertahanannya lebih lemah.

Penaklukan tidak berhenti setelah permukiman jatuh. Banyak penduduk mengundurkan diri ke perbukitan dan membangun pertahanan, sementara sebagian lainnya melarikan diri melalui laut. VOC kemudian menjalankan kebijakan pengosongan penduduk secara paksa. Pada akhir April 1621, sekitar 1.200 orang dibawa keluar dari Kepulauan Banda. Angka ini merujuk pada satu tahap deportasi yang tercatat dalam kajian sejarah, bukan jumlah keseluruhan korban.

Kekerasan juga menyasar pemimpin masyarakat. Sebanyak 47 orang kaya—sebutan bagi para pemuka atau elite setempat—ditangkap dan diperiksa atas tuduhan pengkhianatan. Empat puluh empat orang yang selamat dari pemeriksaan dieksekusi pada 8 Mei 1621 di dekat Benteng Nassau di Banda Neira. Peristiwa ini memperlihatkan bahwa penaklukan bukan hanya menghancurkan pertahanan militer, tetapi juga menyingkirkan tokoh yang dapat memimpin perlawanan dan mempertahankan kemandirian masyarakat.

Nasib penduduk Banda tidak seragam. Sebagian terbunuh, sebagian melarikan diri ke pulau lain, dan sebagian ditangkap, dipindahkan, atau diperbudak. Karena sumber sejarah mencatat kelompok dan tahap kejadian yang berbeda, jumlah korban keseluruhan tidak sebaiknya ditulis sebagai angka pasti tanpa penjelasan tentang dasar penghitungannya.

Tanah, Kerja Paksa, dan Monopoli

Setelah penaklukan, VOC mengubah penguasaan atas tanah dan produksi pala. Lahan dibagi menjadi petak-petak perkebunan yang dikenal sebagai *perken*, lalu dikelola oleh pemegang sewa atau *perkenier*. Hasil pala dan fuli diarahkan ke sistem perdagangan yang dikendalikan perusahaan, sehingga masyarakat setempat tidak lagi memiliki kebebasan seperti sebelumnya dalam menentukan pembeli dan hubungan dagang.

Sistem perkebunan tersebut bergantung pada tenaga kerja yang diperbudak. VOC mendatangkan orang-orang dari berbagai wilayah untuk bekerja di Banda, termasuk penduduk yang dipindahkan secara paksa. Sebagian orang Banda sendiri juga menjadi korban perbudakan dan deportasi. Dengan demikian, penguasaan pala tidak hanya dilakukan melalui benteng dan senjata, tetapi juga melalui pengaturan tanah, tenaga kerja, dan distribusi hasil panen.

Monopoli memberi VOC kendali yang jauh lebih besar terhadap pasokan rempah. Perusahaan dapat membatasi akses pesaing dan mengatur penjualan ke pasar yang lebih luas. Keuntungan dagang itu dibangun di atas kerusakan kehidupan masyarakat Banda, hilangnya kebebasan berdagang, serta pemaksaan sistem produksi kolonial.

Meski demikian, masyarakat Banda tidak lenyap seluruhnya. Sebagian penyintas bertahan di pulau-pulau sekitar atau kembali berusaha mendekati tanah asal mereka. Karena itu, kisah 1621 bukan cerita tentang sebuah masyarakat yang hilang tanpa sisa, melainkan tentang penghancuran besar-besaran yang disusul perjuangan untuk bertahan dan meneruskan identitas mereka.

Pembantaian Banda memperlihatkan bagaimana kepentingan ekonomi dapat mendorong kekuasaan kolonial menggunakan kekerasan ekstrem. Pala yang tumbuh di kebun-kebun Banda menjadi komoditas bernilai tinggi bagi pasar dunia, tetapi penguasaan atasnya dibayar dengan nyawa, pengusiran, perbudakan, dan perampasan tanah. Peristiwa 1621 tetap penting dalam sejarah Indonesia karena menunjukkan bahwa monopoli rempah bukan semata urusan perdagangan: ia juga merupakan perebutan kekuasaan atas manusia dan ruang hidupnya.

CATATAN REDAKSI 

Peristiwa Banda 1621 merupakan penaklukan VOC yang disertai pembunuhan massal, pengusiran, deportasi, perbudakan, dan pengambilalihan lahan. Sejumlah kajian akademik mengategorikannya sebagai genosida. Angka korban keseluruhan masih perlu diperlakukan hati-hati karena sumber mencatat tahap dan kelompok korban yang berbeda. Angka 1.200 orang merujuk pada deportasi pada akhir April 1621, sedangkan 44 orang kaya dieksekusi pada 8 Mei 1621.

Tentang Penulis

Narendra

Narendra

Pendiri EMMANUS, platform media dan pengetahuan yang berfokus pada pelestarian, pengembangan, dan pewarisan sejarah serta kebudayaan Nusantara. Berkomitmen menghadirkan informasi, cerita, dan pengetahuan yang bermakna melalui jurnalisme, teknologi digital, dan literasi budaya agar warisan leluhur tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang.

Lihat semua tulisan

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT

Lainnya dari Kolonialisme dan Pergerakan

Lainnya dari Narendra

Lihat semua →