Pada abad ke-16, Ternate bukan sekadar pulau di ujung peta perdagangan. Kesultanan di Maluku Utara itu berada dalam jaringan niaga yang menghubungkan kepulauan Nusantara dengan pedagang Asia dan Eropa. Cengkih menjadi komoditas bernilai tinggi, tetapi perdagangan itu juga membawa persaingan untuk menguasai pelabuhan, jalur pelayaran, dan keputusan politik setempat.
Sultan Khairun memimpin Ternate di tengah keadaan tersebut. Ia harus berhadapan dengan Portugis, yang telah hadir di Maluku sebelum dirinya naik takhta, sekaligus menjaga kedudukan kesultanan di antara penguasa-penguasa regional. Hubungan kedua pihak berubah-ubah: kerja sama dan diplomasi berjalan berdampingan dengan ketegangan serta perebutan pengaruh.
Ternate dan Persaingan Rempah
Sultan Khairun, yang juga dikenal dengan nama Khairun Jamil, merupakan salah satu penguasa Ternate pada pertengahan abad ke-16. Rincian mengenai awal pemerintahannya tidak selalu seragam dalam tulisan-tulisan yang tersedia. Karena itu, pembahasan tentang dirinya lebih kuat jika berfokus pada peristiwa politik yang tercatat menjelang akhir hidupnya dan dampaknya terhadap kesultanan.
Kedudukan Ternate tidak bisa dilepaskan dari perdagangan cengkih. Komoditas ini menghubungkan para penguasa Maluku dengan pedagang dari berbagai wilayah, sementara kekuatan Eropa berusaha mengendalikan pembelian, pengiriman, dan titik-titik persinggahan. Bagi Ternate, perdagangan bukan hanya sumber kekayaan, tetapi juga bagian dari kedaulatan: siapa yang mengatur perdagangan ikut menentukan kekuatan kerajaan.
Portugis telah membangun kehadiran di Maluku sejak awal abad ke-16. Hubungan dengan penguasa lokal memberi mereka ruang untuk berdagang dan mendirikan benteng, tetapi keberadaan itu juga memunculkan pertentangan mengenai wewenang dan kendali atas wilayah. Ternate bukan pihak pasif dalam hubungan tersebut; kesultanan memiliki kepentingan dan strategi sendiri untuk menjaga pengaruhnya.
Jaringan semacam itu juga menjadikan keputusan politik Ternate berpengaruh di luar pulau. Perubahan hubungan dengan Portugis dapat berdampak pada jalur niaga, sekutu regional, dan keamanan pelayaran. Karena itu, konflik pada masa Khairun perlu dibaca sebagai bagian dari dinamika kawasan, bukan peristiwa yang berdiri sendiri.
Diplomasi yang Semakin Rapuh
Kajian Darmawijaya tentang Sultan Khairun menyoroti upayanya menjaga hubungan dengan Portugis melalui perundingan dan sikap diplomatik. Namun, kesediaan untuk berunding tidak berarti bahwa Khairun menerima dominasi Portugis. Di balik pembicaraan damai, kedua pihak tetap membawa kepentingan yang tidak selalu dapat dipertemukan.
Kekuatan Ternate juga bertumpu pada hubungan dengan kerajaan-kerajaan lain di Maluku. Persaingan antara Ternate dan Tidore, serta hubungan dengan wilayah-wilayah di sekitarnya, membuat diplomasi menjadi kebutuhan yang terus berubah. Penguasa Ternate harus mempertimbangkan perdagangan, keamanan, dan dukungan politik dalam waktu bersamaan.
Karena itu, hubungan Ternate dengan Portugis tidak tepat dibaca hanya sebagai pertemuan antara bangsa Eropa yang kuat dan kerajaan lokal yang lemah. Kedua pihak bernegosiasi, membangun aliansi, dan saling menilai manfaat maupun risiko dari hubungan tersebut. Ketika kepentingan mereka bertabrakan, ketegangan itu dapat berkembang menjadi konflik terbuka.
Ketegangan meningkat pada masa Gubernur Portugis Diego Lopes de Mesquita. Perselisihan menyangkut pengaruh politik dan keamanan di kawasan Maluku memperburuk hubungan dengan kesultanan. Dalam keadaan seperti itu, perundingan bukan sekadar urusan pribadi antara sultan dan gubernur, melainkan bagian dari persaingan lebih besar mengenai siapa yang berhak menentukan aturan di wilayah perdagangan rempah.
Sikap Khairun memperlihatkan keterbatasan diplomasi ketika salah satu pihak menggunakan perundingan tanpa menjamin keselamatan pihak lainnya. Sumber-sumber sejarah menggambarkan bahwa ia menerima undangan Portugis untuk membicarakan kesepakatan baru. Pertemuan tersebut kemudian menjadi peristiwa terakhir dalam hidupnya.
Pembunuhan di Benteng Kastela
Pada 27 Februari 1570, Sultan Khairun datang ke benteng Portugis di Ternate, yang dikenal sebagai Benteng Kastela. Menurut publikasi Direktorat Jenderal Kebudayaan tentang peninggalan sejarah Maluku, pertemuan itu berkaitan dengan pembicaraan mengenai kelanjutan hubungan kedua pihak. Perundingan tersebut berakhir dengan pembunuhan sang sultan.
Sumber yang sama menyebut Diego Lopes de Mesquita memerintahkan anak buahnya, Antonio Pimental, untuk membunuh Khairun setelah sultan tidak menyetujui kesepakatan yang diajukan. Penelitian akademik tentang perjuangan Sultan Baabullah juga menghubungkan pembunuhan Khairun dengan perintah Mesquita, meskipun ejaan nama pelaku dalam sumber berbeda-beda. Karena itu, rincian adegan yang tidak didukung sumber tidak perlu ditambahkan untuk membuat kisah ini terasa dramatis.
Kematian Khairun mengguncang hubungan antara Ternate dan Portugis. Peristiwa itu bukan hanya kehilangan seorang penguasa, melainkan juga pelanggaran terhadap ruang perundingan yang semestinya memungkinkan kedua pihak mencari kesepakatan. Setelah pembunuhan tersebut, konflik terbuka semakin sulit dihindari.
Baabullah dan Perubahan Arah Sejarah
Putra Khairun, Baabullah, kemudian naik takhta pada 1570 dan memimpin perlawanan terhadap Portugis. Penelitian Johan Setiawan dan Dyah Kumalasari dalam jurnal Historia menjelaskan bahwa pasukan Ternate menyerang pos-pos Portugis dan mengepung benteng utama mereka. Perlawanan itu bertahan selama beberapa tahun, dengan dukungan jaringan kekuasaan di kawasan Maluku.
Pada 1575, Portugis akhirnya menyerahkan benteng mereka dan meninggalkan Ternate. Keberhasilan tersebut tidak semata-mata hasil kemarahan atas kematian Khairun, tetapi juga mencerminkan kemampuan Baabullah menggalang kekuatan militer dan dukungan politik. Pembunuhan ayahnya menjadi pemicu penting, sementara keberhasilan perlawanan ditentukan oleh perjuangan yang berlangsung lebih luas.
Sultan Khairun dikenang melalui peristiwa tragis yang mengakhiri hidupnya, tetapi kisahnya tidak seharusnya berhenti pada kematian di dalam benteng. Ia memimpin di masa ketika perdagangan rempah berhubungan erat dengan kekuasaan, dan ketika perundingan dapat berubah menjadi alat tekanan. Riwayatnya memperlihatkan bahwa kerajaan-kerajaan Nusantara memiliki kepentingan politik sendiri saat berhadapan dengan ekspansi Eropa.
Sejarah Ternate juga mengingatkan bahwa rempah bukan sekadar barang dagangan yang menggerakkan kapal-kapal dari negeri jauh. Di baliknya ada masyarakat, penguasa, dan keputusan yang menentukan siapa yang mengendalikan pelabuhan serta masa depan wilayahnya. Dalam konteks itulah Sultan Khairun menjadi bagian penting dari sejarah Maluku dan persaingan kekuasaan pada abad ke-16.
CATATAN REDAKSI
Artikel ini menelusuri Sultan Khairun sebagai penguasa Ternate pada abad ke-16, dengan fokus pada perdagangan rempah, hubungan diplomatik dengan Portugis, pembunuhannya di Benteng Kastela pada 1570, serta dampaknya terhadap perlawanan yang dipimpin Sultan Baabullah.
Naskah mengacu pada penelitian akademik dan publikasi Direktorat Jenderal Kebudayaan. Informasi mengenai tanggal pembunuhan mengikuti publikasi tentang peninggalan sejarah Maluku. Ejaan nama pelaku berbeda dalam sejumlah sumber; karena itu, redaksi perlu mempertahankan kehati-hatian dalam penulisan nama dan tidak menambahkan rincian adegan yang tidak terverifikasi.
Artikel menempatkan Ternate sebagai kekuatan politik yang memiliki kepentingan sendiri, bukan sekadar latar kedatangan bangsa Eropa. Hubungan dengan Portugis dibahas melalui kepentingan perdagangan, diplomasi, dan kedaulatan. Perlawanan Baabullah diposisikan sebagai proses politik dan militer yang lebih luas, bukan hanya tindakan balas dendam pribadi.
Sebelum publikasi, redaksi perlu memastikan bahwa metadata referensi, ejaan nama tokoh Portugis, dan atribusi foto sesuai dengan sumber aslinya. Naskah ini merupakan artikel sejarah populer, bukan biografi akademik lengkap.
Sumber referensi
1. Darmawijaya. “Tafsir Islami atas Perjuangan Sultan Khairun dalam Melawan Portugis di Kawasan Maluku Utara.”
Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 14, No. 1, 2016.
https://jlka.kemenag.go.id/index.php/lektur/article/view/473
2. Johan Setiawan dan Dyah Kumalasari. “The Struggle of Sultan Babullah in Expelling Portuguese from North Maluku.”
Historia: Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah, Vol. 2, No. 1.
https://ejournal-social.upi.edu/historia/article/view/635
3. Edward, Malessy, dan penulis lainnya. “Sekilas Jejak Peninggalan Sejarah Purbakala di Kepulauan Maluku.”
Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
https://repositori.kemendikdasmen.go.id/14584/1/Buku%20jejak%20peninggalan%20sejarah%20purbakala%20di%20kepulauan%20maluku.pdf
4. Leirissa, R. Z., Shalifiyanti, dan Restu Gunawan. “Ternate sebagai Bandar Jalur Sutra.”
Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan, 1999.
https://repositori.kemendikdasmen.go.id/7445/
5. “Sejarah Sosial Kesultanan Ternate.”
Badan Litbang dan Diklat, Pusat Penelitian dan Pengembangan Lektur Keagamaan, Kementerian Agama RI, 2010.
https://books.google.com/books?id=o95RAQAAMAAJ
6. Pemerintah Kota Ternate. “Wali Kota Ternate: Sultan Baabullah Pantas Jadi Pahlawan Nasional.”
13 Desember 2019.
https://ternatekota.go.id/news/wali-kota-ternate-sultan-baabullah-pantas-jadi-pahlawan-nasional
7. Wikimedia Commons. “Monumen Benteng Kastela.jpg.”
Fotografer: Ana Ainina. Lisensi CC BY-SA 4.0.
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:M onumen_Benteng_Kastela.jpg





