Budaya

Perisai Suku Dayak Talawang, dari Senjata hingga Benda Seni

Perisai atau Tameng khas Suku Dayak atau Talawang, salah satu benda budaya yang mencerminkan kepercayaan, seni, dan tradisi masyarakat Dayak di Kalimantan. Seperti halnya mandau, Talawang tidak hanya berfungsi sebagai alat pertahanan dalam pertempuran, tetapi juga memiliki nilai magis dan estetika yang tinggi. Bahan dan Bentuk Talawang Dilansir dari Wikipedia, Talawang umumnya dibuat dari kayu […]

Oleh Achmad Aristyan

Perisai Suku Dayak Talawang, dari Senjata hingga Benda Seni
Perisai khas Dayak bernama Talawang. Tangkapan Layar YouTube/Thealna Alodia
Diterbitkan

Perisai atau Tameng khas Suku Dayak atau Talawang, salah satu benda budaya yang mencerminkan kepercayaan, seni, dan tradisi masyarakat Dayak di Kalimantan.

Seperti halnya mandau, Talawang tidak hanya berfungsi sebagai alat pertahanan dalam pertempuran, tetapi juga memiliki nilai magis dan estetika yang tinggi.  

Bahan dan Bentuk Talawang  

Dilansir dari Wikipedia, Talawang umumnya dibuat dari kayu ulin, yang juga dikenal sebagai kayu besi, atau kayu liat. Kedua jenis kayu ini dipilih karena ringan namun sangat tahan lama, bahkan mampu bertahan hingga ratusan tahun. 

Talawang memiliki bentuk persegi panjang dengan ujung atas dan bawah yang meruncing. Ukurannya bervariasi, dengan panjang sekitar 1-2 meter dan lebar maksimal 50 sentimeter.

Bagian luar dari Tameng Talawang, dihiasi dengan ukiran tradisional khas Dayak, sementara bagian dalam dilengkapi dengan pegangan agar mudah digunakan. 

Ukiran ini tidak hanya mempercantik tampilan Talawang, tetapi juga dipercaya memiliki kekuatan magis yang dapat membangkitkan semangat dan melindungi pemiliknya.  

Baca juga: Senjata Tradisional Kujang, Pusaka Ikon Budaya Jawa Barat

Motif Ukiran dengan Nilai Filosofis  

Motif ukiran pada Talawang mencerminkan kebudayaan dan kepercayaan masyarakat Dayak. Motif yang sering digunakan adalah burung tingang, burung yang dianggap suci Suku Dayak. 

Motif lain yang tak kalah populer adalah ukiran kamang, yang menggambarkan roh leluhur Dayak dalam bentuk seseorang memakai cawat dengan wajah berwarna merah.

Setiap sub-suku Dayak memiliki variasi motif dan warna yang berbeda, sehingga ukiran pada Talawang juga menjadi penanda identitas budaya masing-masing komunitas. 

Keindahan dan makna mendalam dari ukiran pada perisai Talawang ini menunjukkan keterampilan serta filosofi hidup masyarakat suku Dayak di Kalimantan.  

Dari Alat Perang ke Benda Seni  

Melansir dari tribunkalteng.com, pada masa lalu, Talawang menjadi pertahanan terakhir dalam pertempuran. Namun, seiring perubahan zaman, fungsi Talawang bergeser dari alat perang menjadi benda seni dan pajangan. 

Talawang bermotif indah kini memiliki nilai ekonomis tinggi, dihargai mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Meski begitu, Talawang masih berperan dalam melestarikan budaya Dayak. 

Benda ini sering digunakan sebagai properti dalam pertunjukan tari tradisional seperti tari mandau dan tari pepatay, yang menggambarkan keberanian serta kehidupan masyarakat Dayak di masa lalu.  

Warisan Budaya yang Tetap Hidup  

Talawang bukan sekadar perisai fisik, tetapi juga simbol kekuatan, semangat, dan kepercayaan masyarakat Dayak. Dalam setiap ukirannya terkandung pesan filosofi dan cerita leluhur yang diwariskan dari generasi ke generasi. 

Keberadaan Talawang dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Dayak menjadi bukti betapa kaya dan beragamnya warisan budaya yang mereka miliki. 

TopikBudaya
Budaya06 JAN 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Budaya

Lihat semua →
Tradisi makan bajamba

Makan Bajamba di Meja Diplomasi

Makan bajamba bukan sekadar tradisi bersantap bersama, melainkan cerminan kebersamaan dan penghormatan yang dapat menginspirasi jamuan diplomatik.

Ridwan
ampilan gim Kenupi karya U-Lika Studio yang mengangkat budaya Dayak Kenyah melalui seni piksel.

Petualangan Dayak Kenyah di Kenupi

Kenupi menghadirkan budaya Dayak Kenyah melalui gim berbasis seni piksel yang dikembangkan U-Lika Studio sebagai bagian dari kampanye Jejak: Jelajah Dayak Kenyah

Ridwan

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan