Budaya

Perjalanan Seni Wayang Topeng dari Masa Hindu ke Islam

Wayang Topeng merupakan salah satu warisan seni budaya Indonesia yang sarat makna. Pertunjukan ini dimainkan para penari yang mengenakan topeng, yang sepenuhnya menutupi wajah mereka. Penampilannya diperkaya dengan iringan gamelan dan tarian, menciptakan suasana yang memukau. Dalam acara budaya atau pesta pernikahan, Wayang Topeng sering disuguhkan sebagai hiburan dengan durasi sekitar 20 hingga 30 menit. […]

Oleh Achmad Aristyan

Perjalanan Seni Wayang Topeng dari Masa Hindu ke Islam
Pementasan wayang topeng di halaman rumah warga Malang, Jawa Timur. Foto: Wikimedia Commons/ Anom Harya
Diterbitkan

Wayang Topeng merupakan salah satu warisan seni budaya Indonesia yang sarat makna. Pertunjukan ini dimainkan para penari yang mengenakan topeng, yang sepenuhnya menutupi wajah mereka. 

Penampilannya diperkaya dengan iringan gamelan dan tarian, menciptakan suasana yang memukau. Dalam acara budaya atau pesta pernikahan, Wayang Topeng sering disuguhkan sebagai hiburan dengan durasi sekitar 20 hingga 30 menit.  

Perkembangan dan Makna Wayang Topeng  

Melansir dari sastra.um.ac.id, dalam budaya Jawa, Wayang Topeng telah mengalami berbagai perkembangan, baik sebagai bagian dari seni pertunjukan maupun ritual.

Pada awalnya, topeng dianggap simbol wajah leluhur yang telah tiada seperti kepala keluarga, marga, atau pemimpin suku. Keterkaitan ini mencerminkan penghormatan terhadap roh leluhur.

Tradisi unik seperti membawa topeng ke makam khusus (disebut Pundhen) untuk tujuan magis juga pernah dilakukan masyarakat setempat. Aktivitas ini dikenal sebagai stren.  

Tata Urutan Pertunjukan  

Pementasan Wayang Topeng memiliki struktur yang khas, dengan tahapan berikut:  

  1. Gending Giro: Diawali dengan tabuhan gending seperti Eleng-eleng, Krangean, Loro-loro, Gondel, hingga Sapujagad.  
  2. Tari Pembukaan: Menampilkan tari Beskalan Lanang (dengan topeng Bangtih).  
  3. Adegan Jejer Jawa: Mengisahkan kisah dari Kediri.  
  4. Parang Gagal: Diselingi dengan tari Bapang.  
  5. Adegan Gunungsari-Patrajaya.  
  6. Adegan Jejer Sabrang: Menampilkan tokoh Klana Sewandana.  
  7. Adegan Perang Brubuh dan Bubaran: Sebagai penutup pertunjukan. 

Baca juga: Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma, Wisata Edukasi di Bali

Sejarah Wayang Topeng  

Dilansir dari malangan.com, Wayang Topeng berakar pada tradisi budaya dan religiusitas masyarakat Jawa sejak zaman Kerajaan Kanjuruhan pada abad ke-8 Masehi, di bawah Raja Gajayana.

Kala itu, topeng terbuat dari batu dan digunakan dalam upacara keagamaan. Pada masa Raja Erlangga, fungsi topeng bergeser menjadi bagian dari seni tari.

Penggunaan topeng mempermudah penari, karena saat itu sulit mendapatkan riasan wajah.  

Pengaruh sastra India yang dominan pada masa itu tercermin dalam cerita-cerita Wayang Topeng, seperti kisah Mahabharata dan Ramayana.

Wayang Topeng digunakan sebagai media komunikasi antara raja dan rakyatnya, serta untuk menyampaikan pesan-pesan spiritual dan moral.  

Perubahan Cerita dalam Wayang Topeng  

Pada masa kekuasaan Kertanegara di Kerajaan Singasari, cerita Wayang Topeng bergeser ke kisah Panji yang menceritakan kepahlawanan dan kebesaran para kesatria Jawa, khususnya dari era Jenggala dan Kediri.

Pergeseran ini bertujuan memperkuat identitas kekuasaan Singasari.

Ketika Islam masuk ke Jawa, Wayang Topeng diadaptasi untuk menyampaikan nilai-nilai Islam. Para wali memanfaatkan seni ini untuk menampilkan kisah-kisah seperti Marmoyo Sunat dan cerita Menak, yang mengajarkan ajaran Islam. 

Dengan demikian, Wayang Topeng menjadi sarana akulturasi budaya antara tradisi Jawa dan ajaran Islam. Wayang Topeng tidak hanya menjadi seni pertunjukan, tetapi juga sarana edukasi dan penyampaian nilai-nilai luhur. 

TopikBudaya
Budaya28 JAN 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Budaya

Lihat semua →
Tradisi makan bajamba

Makan Bajamba di Meja Diplomasi

Makan bajamba bukan sekadar tradisi bersantap bersama, melainkan cerminan kebersamaan dan penghormatan yang dapat menginspirasi jamuan diplomatik.

Ridwan
ampilan gim Kenupi karya U-Lika Studio yang mengangkat budaya Dayak Kenyah melalui seni piksel.

Petualangan Dayak Kenyah di Kenupi

Kenupi menghadirkan budaya Dayak Kenyah melalui gim berbasis seni piksel yang dikembangkan U-Lika Studio sebagai bagian dari kampanye Jejak: Jelajah Dayak Kenyah

Ridwan

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan