Budaya

Perjalanan Wayang Gagrag Banyumasan Mengikuti Zaman

Wayang kulit telah menjadi salah satu warisan budaya Indonesia yang unik, karena di setiap daerah memiliki ciri khasnya masing-masing, salah satunya seperti Wayang Gagrag Banyumasan. Wayang Gagrag dari daerah Banyumas ini, merupakan salah satu gaya pedalangan di tanah Jawa, yaitu pakeliran. Ciri utamanya adalah tokoh dan cerita dalam gaya pedalangan ini dekat dengan masyarakat Banyumas. […]

Oleh Anisa Kurniawati

Perjalanan Wayang Gagrag Banyumasan Mengikuti Zaman
Foto: wikimedia commons
Diterbitkan

Wayang kulit telah menjadi salah satu warisan budaya Indonesia yang unik, karena di setiap daerah memiliki ciri khasnya masing-masing, salah satunya seperti Wayang Gagrag Banyumasan.

Wayang Gagrag dari daerah Banyumas ini, merupakan salah satu gaya pedalangan di tanah Jawa, yaitu pakeliran. Ciri utamanya adalah tokoh dan cerita dalam gaya pedalangan ini dekat dengan masyarakat Banyumas.

Tokoh paling menonjol yang hanya ada di Banyumas adalah Bawor. Gaya pedalangan khas Banyumas menampilkan lebih banyak nilai kehidupan masyarakat Banyumas.

Meski gaya pedalangannya mendapat pengaruh dari kraton Yogyakarta dan Surakarta, wayang kulit gagrag tetap mempunyai ciri khasnya sendiri. Selain adanya penokohan Bawor, dilantunkan juga lagu Kembang Lepang serta Gendhing Banyumasan.

Tiga Gaya

Dilansir dari laman spektakel.id, Gagrag Banyumas merupakan pengembangan dari Gagrag Solo dan Gagrag Mataram (Yogyakarta) atau Gagrag Wetan. Pada saat Geger Mataram terjadi, banyak penduduk di wilayah Kesultanan Yogyakarta pindah ke berbagai penjuru, termasuk ke wilayah barat.

Beberapa seniman ada yang berpindah ke daerah Gombong di Kebumen yang kemudian menjadi cikal bakal munculnya Gagrag Banyumas. Wayang yang tadinya berada di wilayah dekat keraton beradaptasi dengan masyarakat Banyumas yang jauh dari penguasa. 

Salah satu dalang yang berhasil dalam proses adaptasi tersebut adalah Ki Dalang Menganti. Kemudian, salah satu keturunan Ki Dalang Menganti yaitu Ki Lebdo Jiwo mengembangkan Gagrag Banyumas meluas hingga ke Cilacap dan sampai ke wilayah Banyumas.

Baca juga: Wayang Kulit Cirebon, Media Diplomasi Dakwah Religi

Di Banyumas Ki Lebdo Jiwo mengembangkan cerita, penokohan, dan juga sulukan agar mudah diterima masyarakat. Gaya pedalangannya pun dinamakan Gagrag Banyumas Gaya Kidul Gunung.  

Seiring berjalannya waktu, gaya Kidul Gunung bertemu gaya yang sudah berkembang di bagian utara Pegunungan Kendeng. Gaya yang dipakai di wilayah Kendeng sendiri lebih dekat ke Gagrag Surakarta. Persinggungan ini kemudian dikenal dengan Gagrag Banyumas Lor Gunung.

Pendapat berbeda disampaikan Ki Citut Purbocarito, menurutnya Gagrag Banyumas ada tiga gaya, yaitu Kidul Gunung, Lor Gunung, dan Senawangi. Yang banyak dipakai dalang sekarang adalah gaya Senawangi. Sedangkan gaya Lor Gunung sudah punah. 

Lakon dan Penokohan 

Salah satu keunikan dari gagrag Banyumas adalah penokohan dan lakonnya. Beberapa dalang senior menciptakan tokoh dan cerita yang dekat dengan masyarakat Banyumas. Tokoh yang paling menonjol adalah Bawor, salah satu punakawan selain Semar, Petruk dan Gareng. 

Biasanya tokoh wayang di daerah lain menggunakan Bagong, namun di Banyumas yang menggunakan Tokoh Bawor. Jika Bagong anak bungsu Semar, maka Bawor adalah anak sulung. 

Bawor memiliki sifat jujur, tutur bahasanya khas, apa adanya, suka bercanda namun suka membela kebenaran. Sosok Bawor dianggap mempresentasikan karakter masyarakat Banyumas. Tokoh lainnya adalah Jaewana dan Sontoloyo, yang merupakan abdi dalem raksasa. 

Baca juga: Wayang Orang Sriwedari, Kesenian Solo yang Masih Lestari

Selain tokoh, lakon atau cerita juga sering disesuaikan dengan karakter dan selera orang Banyumas. Misalkan Bawor Dadi Ratu, Petruk Krama, Srikandi Mbarang Lengger dan Srenggini Takon Rama.

Pertunjukan wayang kulit Gragag sering kali mengisahkan seperti cerita lokal atau cerita-cerita yang lebih kontemporer mengikuti perkebangan zaman. Dengan lakon dan penokohan yang mendalam, pertunjukan wayang kulit Gragag mampu memberikan hiburan sekaligus pelajaran yang berharga.Wayang Kulit Gragag Asli Banyumas adalah bagian yang tak terpisahkan dari kekayaan budaya Indonesia. 

TopikBudaya
Budaya29 NOV 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Budaya

Lihat semua →
Tradisi makan bajamba

Makan Bajamba di Meja Diplomasi

Makan bajamba bukan sekadar tradisi bersantap bersama, melainkan cerminan kebersamaan dan penghormatan yang dapat menginspirasi jamuan diplomatik.

Ridwan
ampilan gim Kenupi karya U-Lika Studio yang mengangkat budaya Dayak Kenyah melalui seni piksel.

Petualangan Dayak Kenyah di Kenupi

Kenupi menghadirkan budaya Dayak Kenyah melalui gim berbasis seni piksel yang dikembangkan U-Lika Studio sebagai bagian dari kampanye Jejak: Jelajah Dayak Kenyah

Ridwan

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati