Pariwisata

Perjalann Panjang Perpustakaan Klenteng Hok An Kiong Magelang

Perpustakaan Klenteng Hok An Kiong boleh dibilang istimewa. Hal ini karena menjadi bagian dari Klenteng Hok An Kiong dan merupakan salah satu dari sedikit Tempat Ibadah Tri Dharma berusia ratusan tahun yang memiliki perpustakaan. Letaknya berada di Balerejo, Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Bangunan klenteng ini telah berdiri sejak 1911. Lokasi awalnya di dekat Pasar […]

Oleh Anisa Kurniawati

Perjalann Panjang Perpustakaan Klenteng Hok An Kiong Magelang
Klenteng Hok An Kiong. Foto: wisato.id
Diterbitkan

Perpustakaan Klenteng Hok An Kiong boleh dibilang istimewa. Hal ini karena menjadi bagian dari Klenteng Hok An Kiong dan merupakan salah satu dari sedikit Tempat Ibadah Tri Dharma berusia ratusan tahun yang memiliki perpustakaan.

Letaknya berada di Balerejo, Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Bangunan klenteng ini telah berdiri sejak 1911. Lokasi awalnya di dekat Pasar Muntilan sejak 1878. 

Sekilas Tentang Perpustakaan Klenteng Hok An Kiong

Perpustakaan ini awalnya merupakan bagian sekolah Tiong Hwa Hak Hauw (THHH) yang berdiri 1912.

Sekolah berubah nama menjadi Sekolah Rakyat Setia Dharma akibat kebijakan nasionalisasi sekolah asing pada tahun 1959, sebelum akhirnya ditutup pada 1965.

Seiring berjalannya waktu, koleksi perpustakaan ini terus bertambah melalui donasi, terutama pada era 1980-an. Buku-buku yang ditemukan mencakup berbagai topik, mulai dari pendidikan hingga filsafat dan ajaran Tridharma. 

Koleksi penting adalah bundel majalah Moestika Dharma yang membahas filsafat Tridharma

Dampak Peristiwa 1965

Peristiwa 1965 memberikan dampak besar terhadap kebebasan komunitas Tionghoa di Indonesia. Dalam hal ini termasuk akses dan penyebaran literatur mereka. Banyak buku keagamaan yang terbit setelah 1965 diberi label “kalangan sendiri”.

Hal ini sebagai strategi menghindari sensor dan pembatasan dari pemerintah saat itu.

Meski mengalami tekanan politik yang signifikan, komunitas Tionghoa tetap berusaha menjaga warisan literatur mereka. Caranya dengan berbagi buku secara diam-diam di berbagai daerah. 

Tekanan terhadap komunitas Tionghoa mulai mereda setelah Reformasi 1998. Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000 yang mengakui Konghucu sebagai agama resmi di Indonesia menjadi titik balik bagi kebebasan beragama mereka. 

Namun, dampak dari represi politik selama Orde Baru masih terasa. Banyak generasi muda keturunan Tionghoa yang tidak lagi memiliki ikatan kuat dengan tradisi leluhur mereka.

Program Digitalisasi Koleksi

Berbagai upaya dilakukan untuk melestarikan sejarah dan budaya Tionghoa di Indonesia. Salah satunya dengan melakukan digitalisasi koleksi buku di Perpustakaan Klenteng Hok An Kiong.

Proyek ini dijalankan Astrid Siva Salsabila, Revan Aditya, dan Reza Maulana dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, bekerja sama dengan Modern Endangered Archives Program (MEAP) dari Universitas California Los Angeles (UCLA). 

Sejak 2023, mereka menargetkan pemindaian 10.000 lembar buku yang telah teridentifikasi.

Menurut Astrid, dikutip dari beritamagelang.id, hingga awal Februari 2025, sebanyak 200 buku telah dipindai, sementara ribuan lainnya masih menunggu proses digitalisasi. 

Koleksi perpustakaan ini mencakup buku pendidikan, agama Tionghoa, dan majalah keagamaan, dengan beberapa di antaranya berusia sangat tua, bahkan ada yang berasal dari tahun 1938. 

Perpustakaan Klenteng Hok An Kiong. Foto: Kompas.com

Sebagian besar buku dan majalah merupakan edisi terbatas yang hanya diedarkan di kalangan komunitas Tionghoa.

Saat ini, program digitalisasi fokus pada buku agama Tionghoa yang berkaitan dengan ajaran Tri Dharma, termasuk Buddhisme, Taoisme, dan Konghucu, khususnya terbitan sebelum tahun 1998. 

Karena kendala bahasa, tim memprioritaskan pemindaian buku berbahasa Indonesia-Melayu.

Salah satu temuan menarik dalam proses digitalisasi ini adalah sebuah buku cetakan tahun 1920 yang diperkirakan bukan yang tertua dalam koleksi perpustakaan.

Meskipun program digitalisasi telah berjalan dengan baik, perpustakaan Klenteng Hok An Kiong masih menghadapi berbagai tantangan seperti kurangnya tenaga pengurus yang peduli terhadap revitalisasi perpustakaan. 

Selain itu, keberadaan perpustakaan ini masih kurang dikenal masyarakat luas. Dengan adanya program digitalisasi ini, diharapkan koleksi buku langka dan berharga yang tersimpan di Klenteng Hok An Kiong dapat terjaga dan diakses lebih banyak orang. 

TopikPariwisata
Pariwisata10 FEB 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Pariwisata

Lihat semua →

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati