By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
emmanus.comemmanus.comemmanus.com
  • Beranda
  • Berita
  • Profil
  • Event
  • Tradisi
  • Warisan Budaya
  • Cerita Rakyat
  • Pariwisata
Reading: Perbedaan Proses Pernikahan Adat Baduy Luar dan Baduy Dalam
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
emmanus.comemmanus.com
Font ResizerAa
Search
  • Berita Kategori
    • Berita
    • Profil
    • Event
    • Tradisi
    • Pariwisata
    • Cerita Rakyat
    • Warisan Budaya
Follow US
©2024 PT Emma Media Nusantara. All Rights Reserved.
emmanus.com > Blog > Tradisi > Perbedaan Proses Pernikahan Adat Baduy Luar dan Baduy Dalam
Tradisi

Perbedaan Proses Pernikahan Adat Baduy Luar dan Baduy Dalam

Achmad Aristyan
Last updated: 10/02/2025 05:13
Achmad Aristyan
Share
Pasangan mempelai pernikahan Suku Baduy. Foto: depok.inews.id
SHARE

Suku Baduy dikenal sebagai masyarakat adat yang teguh dalam menjaga tradisi leluhur mereka. Berada di Kabupaten Lebak, Banten, suku ini terbagi dua kelompok yakni Baduy Dalam dan Baduy Luar. 

Kedua kelompok ini memiliki aturan ketat dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pernikahan. Proses pernikahan mereka memiliki syarat dan tata cara khusus yang diwariskan turun-temurun.  

Tahapan Lamaran dalam Pernikahan Baduy  

Melansir dari kanal YouTube Ayi Astaman, sebelum upacara pernikahan berlangsung, terdapat tiga tahapan yang harus dilakukan calon mempelai laki-laki.

Tahapan ini merupakan bentuk penghormatan terhadap adat serta simbol keseriusan dalam mempersunting calon istri.  

  1. Melapor ke Pu’un (Kepala Adat): calon pengantin laki-laki bersama keluarganya wajib melapor kepada Pu’un atau kepala adat. Dalam prosesi ini, mereka membawa daun sirih, pinang, dan gambir sebagai tanda kesungguhan dalam melamar calon mempelai wanita.  
  2. Membawa Mas Kawin Berupa Cincin: setelah mendapat izin dari Pu’un, calon pengantin pria harus membawa cincin dari baja putih sebagai mas kawin. Cincin ini memiliki makna khusus dalam adat Baduy sebagai simbol ketulusan dan keteguhan dalam membangun rumah tangga.  
  3. Menyediakan Perlengkapan Rumah Tangga: sebagai bagian dari prosesi lamaran, calon pengantin laki-laki juga wajib membawa alat rumah tangga dan pakaian untuk calon istrinya. Hal ini menunjukkan kesiapan dalam menjalani kehidupan berumah tangga.  

Baca juga: Sikap Masyarakat Baduy Hadapi Modernisasi dan Teknologi

Waktu dan Prosesi Pernikahan  

Dilansir dari megatrust.co.id, pernikahan dalam adat Baduy hanya boleh diselenggarakan pada bulan kelima, keenam, dan ketujuh dalam kalender adat mereka. 

Aturan ini merupakan bagian dari pikukuh, yaitu ketentuan adat yang telah diwariskan leluhur dan harus ditaati seluruh masyarakat Baduy.

Prosesi pernikahan sendiri memiliki perbedaan antara Baduy Dalam dan Baduy Luar, terutama dalam pelaksanaan ijab kabul:  

  1. Baduy Luar: Masyarakat Baduy Luar melaksanakan ijab kabul sebanyak dua kali. Pertama, mereka melakukan ijab kabul secara resmi di Kantor Urusan Agama (KUA) sesuai dengan hukum negara. Setelah itu, mereka akan mengulang prosesi ijab kabul dalam upacara adat yang dipimpin Naib atau penghulu setempat.
  1. Baduy Dalam: Berbeda dengan Baduy Luar, masyarakat Baduy Dalam hanya melakukan ijab kabul sekali saja, yaitu dalam upacara adat yang sakral sesuai dengan ajaran Sunda Wiwitan. Mereka tidak terikat pada ketentuan negara dalam hal pernikahan, melainkan mengikuti aturan adat yang telah diwariskan secara turun-temurun. 

Kesakralan Tradisi Pernikahan Suku Baduy  

Pernikahan dalam masyarakat Baduy bukan sekadar penyatuan dua individu, tetapi juga bagian dari pelestarian adat dan budaya mereka.

Kesederhanaan dalam prosesi pernikahan mencerminkan prinsip hidup suku Baduy yang menjunjung tinggi nilai-nilai kesederhanaan, kebersamaan, dan ketaatan terhadap tradisi. (Dari berbagai sumber)

You Might Also Like

Tradisi Makan Yu Sheng dalam Perayaan Tahun Baru Imlek

Bagagap Iwak, Tradisi Menangkap Ikan di Kalimantan Selatan

Tradisi Memitu, Syukuran 7 Bulan Ibu Hamil Di Indramayu

Tradisi Lisan Lamut Banjarmasin yang Diambang Kepunahan

Rokat Tase, Tradisi Para Nelayan Madura

Sign Up For Daily Newsletter

Be keep up! Get the latest breaking news delivered straight to your inbox.
[mc4wp_form]
By signing up, you agree to our Terms of Use and acknowledge the data practices in our Privacy Policy. You may unsubscribe at any time.
Share This Article
Facebook X Copy Link Print
Share
By Achmad Aristyan
Content Writer
Previous Article Perjalann Panjang Perpustakaan Klenteng Hok An Kiong Magelang
Next Article Rencana Pemekaran Wilayah Provinsi Jawa Utara Terus Bergulir
Leave a comment Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media

2kFollowersLike
4kFollowersFollow
2.4kSubscribersSubscribe
18kFollowersFollow
- Advertisement -
Ad imageAd image

Berita Terbaru

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar
Berita 30/05/2025
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik
Berita 29/05/2025
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto
Berita 29/05/2025
penulisan ulang sejarah Indonesia
DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027
Berita 28/05/2025
- Advertisement -

Quick Link

  • Kontak Kami
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber

Top Categories

  • Profil
  • Event
  • Tradisi
  • Warisan Budaya

Stay Connected

200FollowersLike
4kFollowersFollow
2.4kSubscribersSubscribe
18kFollowersFollow
emmanus.comemmanus.com
Follow US
© 2024 PT Emma Media Nusantara. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Nama Pengguna atau Alamat Email
Kata Sandi

Lupa kata sandi Anda?