Budaya

Perpaduan Dua Budaya Dalam Seni Tari Jalungmas Cilacap

Kolaborasi antara seni tari jaipong khas Sunda dengan kesenian Lengger Calung Banyumas akhirnya melahirkan kesenian barnama Tari Jalungmas. Kesenian ini menjadi kreasi baru yang berkembang di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Nama Jalungmas sendiri merupakan akronim dari jaipong dan calung Banyumas. Hal ini mencerminkan kombinasi antara dua budaya yang berbeda. Istilah Jalungmas muncul tahun 1980-an. Sejarah Seni […]

Oleh Achmad Aristyan

Perpaduan Dua Budaya Dalam Seni Tari Jalungmas Cilacap
Foto: Espos.id
Diterbitkan

Kolaborasi antara seni tari jaipong khas Sunda dengan kesenian Lengger Calung Banyumas akhirnya melahirkan kesenian barnama Tari Jalungmas. Kesenian ini menjadi kreasi baru yang berkembang di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. 

Nama Jalungmas sendiri merupakan akronim dari jaipong dan calung Banyumas. Hal ini mencerminkan kombinasi antara dua budaya yang berbeda. Istilah Jalungmas muncul tahun 1980-an. 

Sejarah Seni Tanpa Nama

Pada masa itu, sejumlah seniman Cilacap menggelar pelatihan untuk menggali seni tradisional lokal sebagai sumber inspirasi penciptaan karya tari baru. Tari Jalungmas pun diciptakan untuk memenuhi estetika tari lengger Banyumas.

Dalam proses pembentukannya, taraian ini lebih menekankan pada gerak tari yang mengadopsi gaya tari jaipong dan gending tradisional yang disebut gamelan calung Banyumas. 

Tahun 1993, Menteri Koordinator Politik dan Keamanan, Soesilo Soedarman, meminta Dinas Pendidikan Cilacap menciptakan tarian untuk dipentaskan di Senayan, Jakarta, dalam acara Paguyuban Serulingmas se-Jabodetabek.

Versi lain mengatakan, tarian ini diciptakan Tiek Entarti, seorang guru seni budaya di SMP N 1 Cilacap. Tarian ini mulai dikenal pada tahun 1996, saat hasil karyanya diakui dengan nama Jalungmas. Awalnya tarian ini tidak memiliki nama. 

Kemudian, nama itu muncul secara spontan pada rapat panitia Paguyuban Serulingmas. Rapat itu dipersiapkan untuk menyelenggarakan gelar budaya Banyumasan di Kabupaten Cilacap. 

Baca juga: Perjalanan Wayang Gagrag Banyumasan Mengikuti Zaman

Bukti Budaya yang Berasimilasi

Tari Jalungmas menjadi salah satu tarian tradisional khas Cilacap yang memikat dengan keindahan gerakannya. Tarian ini bukan hanya sekadar pertunjukan seni, tetapi juga sarana untuk memelihara kekayaan warisan budaya lokal. 

Tari Jalungmas menggambarkan kehidupan nelayan tradisional dengan gerakan gemulai yang mencerminkan aktivitas nelayan menangkap ikan. Tarian ini juga bermakna religius sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil laut melimpah. 

Upacara kecil sebagai ungkapan terima kasih kepada para dewa laut sering mengakhiri pertunjukan. Hal ini menunjukkan bahwa Tari Jalungmas adalah simbol rasa syukur dan keselarasan dengan alam.

Pentas Hormati Nenek Moyang

Gerakan tari khas Cilacap ini lebih menitikberatkan pada gerak tari yang mengadopsi gaya jaipong serta iringan musik tradisional Banyumas yang dimainkan dengan gamelan calung.

Iringan ini memberikan melodi khas yang menciptakan atmosfer magis dalam setiap pertunjukan.

Tari Jalungmas diiringi alat musik tradisional Jawa seperti gamelan calung, yang merupakan kekhasan dari tarian ini. Alat musik yang menonjol meliputi saron, gendang, dan terompet dengan nada tinggi. 

Kostum para penari juga menarik perhatian. Para penari menggunakan baju tradisional berwarna cerah yang dihiasi payet dan manik-manik emas. Kemudian juga disertai lonceng kecil yang menghasilkan suara menggoda saat penari bergerak.

Melalui Tari Jalungmas, generasi muda dapat terhubung dengan akar budaya mereka. Selain itu juga dapat melestarikan tarian ini sebagai penghormatan kepada nenek moyang dan budaya lokal. 

Tari Jalungmas juga menjadi daya tarik pariwisata, mengundang wisatawan untuk menyaksikan keindahannya. Dengan melestarikan Tari Jalungmas, generasi mendatang dapat terus merasakan keajaiban dan kekayaan budaya tradisional Indonesia. (Dari berbagai sumber)

TopikBudaya
Budaya12 JAN 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Budaya

Lihat semua →
Tradisi makan bajamba

Makan Bajamba di Meja Diplomasi

Makan bajamba bukan sekadar tradisi bersantap bersama, melainkan cerminan kebersamaan dan penghormatan yang dapat menginspirasi jamuan diplomatik.

Ridwan
ampilan gim Kenupi karya U-Lika Studio yang mengangkat budaya Dayak Kenyah melalui seni piksel.

Petualangan Dayak Kenyah di Kenupi

Kenupi menghadirkan budaya Dayak Kenyah melalui gim berbasis seni piksel yang dikembangkan U-Lika Studio sebagai bagian dari kampanye Jejak: Jelajah Dayak Kenyah

Ridwan

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan