Putri Nibung di Sarang Lanun merupakan cerita rakyat dari daerah Bangka Tengah, Kepulauan Bangka Belitung. Kisah ini berisi pesan moral tentang keberanian, pengorbanan, dan kekuatan cinta.
Cerita bermula dari pemuda bernama Bujang Limpau yang hidup di hutan, jauh dari peradaban.
Bujang Limpau hidup sebatangkara dan selalu merindukan kehadiran orang tua yang telah tiada. Ia sering kali memandang bulan dan bintang, berbisik dalam hati, “Jika saja aku masih memiliki ayah dan ibu, hidupku pasti tidak sepi seperti ini.”
Suatu malam, Bujang Limpau mendapat sebuah mimpi yang mengubah hidupnya. Dalam mimpinya, seorang wanita cantik jelita datang kepadanya, memintanya untuk mencari pohon Nibung. Bujang Limpau pun terpanggil untuk menjalankan pesan dari wanita dalam mimpinya.
Ia pun berkelana mencari pohon Nibung yang dimaksud. Namun, dalam perjalanannya, Bujang Limpau malah tersesat dan bertemu dengan seorang nenek tua bernama Nek Usang. Kemuian mereka memutuskan untuk hidup bersama dan saling membantu.
Baca juga: Legenda Batu Bagga, Cerita Anak Durhaka dan Kutukan Abadi
Kehidupan mereka menjadi lebih baik ketika suatu hari, anjing milik Bujang Limpau, Keling, menggonggong keras sambil mengelilingi pohon Nibung yang besar. Dari petunjuk, Nek Usang melakukan ritual di depan pohon Nibung sambil membaca mantra kuno yang diyakini memiliki kekuatan magis. Mantra itu bertujuan membuka rahasia yang tersembunyi dalam pohon Nibung.
Tak lama, Bujang Limpau menemukan sebuah umbut (ujung batang) di pohon, menyerupai boneka bayi. Umbut itu lantas dirawat Nek Usang dengan penuh kasih sayang. Seiring berjalannya waktu, umbut Nibung berubah menjadi wanita cantik yang kemudian dikenal sebagai Putri Nibung.
Bujang Limpau dan Putri Nibung pun semakin dekat, seolah mereka ditakdirkan untuk bersama. Namun, kebahagiaan mereka tak berlangsung lama. Suatu hari, Putri Nibung diculik sekelompok Lanun (bajak laut) dipimpin Datok Aek Bara.
Baca juga: Kisah Raden Segoro dan Awal Mula Pulau Madura
Tidak tinggal diam, Bujang Limpau melakukan perjalanan berbahaya untuk menyelamatkan Putri Nibung. Sebelum berangkat, Nek Usang memberikan Bujang Limpau garam yang telah dimantrai serta pesan dan pantangan yang harus ia perhatikan selama perjalanan.
Dalam perjalanannya, Bujang Limpau bertemu dengan Akek Sabak, seekor ular sabak yang telah disihir Datok Aek Bara menjadi ular. Bersama Akek Sabak, Bujang Limpau berjuang mengalahkan Datok Aek Bara yang sakti dan kejam.
Pertempuran sengit pun tak terhindarkan, namun keberanian dan tekad Bujang Limpau tak pernah surut. Ia bertekad untuk membebaskan Putri Nibung, tak peduli seberapa besar tantangan yang harus dihadapi. Akhirnya, setelah pertempuran yang melelahkan, Bujang Limpau berhasil mengalahkan Datok Aek Bara. Bersama Akek Sabak, ia membebaskan Putri Nibung dari pengaruh sihir.
Putri Nibung kembali bersama Bujang Limpau. Mereka berdua akhirnya hidup bahagia sebagai pasangan suami istri, jauh dari ancaman lanun dan kehidupan yang penuh kesulitan. (Diolah dari berbagai sumber)