Profil

Raden Tjetje Somantri, Pelopor Modernisasi Tari Sunda

Pelopor tari kreasi Sunda ini bernama Raden Tjetje Somantri. Namanya dikenal sebagai pencipta Tari Merak, Tari Sekar Putri, Tari Sulintang, Tari Kandagan, Tari Kupu-kupu. Hingga kini tari kreasi ciptaannya masih dipelajari pecinta tari. Memiliki nama asli Raden Rusdi Somantri yang lahir di Purwakarta, Jawa Barat, tahun 1892. Dia berasal dari keluarga ningrat. Ibunya, Nyi Raden […]

Oleh Anisa Kurniawati

Raden Tjetje Somantri, Pelopor Modernisasi Tari Sunda
Gambar Raden Tjetje Somantri (Kiri) pada sampul buku R. Tjetje Somantri (1892-1963). Pertunjukan Tari Merak karya Tjetje Somantri. Foto: Wikimedia Commons/Irhanz
Diterbitkan

Pelopor tari kreasi Sunda ini bernama Raden Tjetje Somantri. Namanya dikenal sebagai pencipta Tari Merak, Tari Sekar Putri, Tari Sulintang, Tari Kandagan, Tari Kupu-kupu. Hingga kini tari kreasi ciptaannya masih dipelajari pecinta tari.

Memiliki nama asli Raden Rusdi Somantri yang lahir di Purwakarta, Jawa Barat, tahun 1892. Dia berasal dari keluarga ningrat. Ibunya, Nyi Raden Siti Munigar, keturunan bangsawan Bandung. Ayahnya, Raden Somantri, berasal dari keluarga terpandang.

Belajar dari Banyak Guru

Sejak usia muda, Somantri sudah menunjukkan minat besar terhadap seni tari. Ketika usia 19 tahun, dia mulai belajar tari tayub di Purwakarta dari R. Gandakusumah (Aom Doyot). Setelah itu dia banyak belajar dari guru-guru tari lainnya. 

Tjetje mempelajari tari topeng Cirebon dari dua seniman topeng terkenal, Wentar dan Koncer. Dia juga belajar tari wayang wong dari Aom Menim. Di tahun 1925, Tjetje Somantri mulai berkenalan dengan kesenian Cirebon. 

Ia berguru pada Pangeran Elang Oto Denda Kusumah, guna memperdalam tarian Menak Jingga, Anjasmara, dan tarian lainnya. Tidak hanya itu, Tjetje mulai menciptakan kreasi sendiri.

Dia menggabungkan unsur-unsur tradisi dengan inovasi baru yang kemudian dikenal sebagai “tari kreasi”. Pada tahun yang sama, ia mulai mengajar tari di OSVIA.

Kiprah di Dunia Tari

Pada tahun 1935 Tjetje bertemu dengan Tb. Umay Martakusumah, seorang pegawai Jawatan Kebudayaan Jawa Barat dan pemimpin Badan Kesenian Indonesia (BKI). Pertemuan ini menjadi titik penting dalam karir Tjetje.

Demi meningkatkan bakatnya, Tb. Umay memberinya ruang untuk berkreativitas di BKI.

Selain menjadi pengajar, Tjetje juga menciptakan banyak tarian baru yang terus memperkaya seni tari Sunda. Karyanya terutama dalam genre tari kreasi, sangat populer di berbagai kalangan. 

Pada periode 1940-an, Tjetje Somantri fokus menciptakan tari kreasi untuk wanita. Beberapa karya besarnya yaitu Tari Anjasmara I dan II (1946), Puragabaya (1947), dan Tari Kendit Birayung (1947). 

Salah satu karyanya yang paling terkenal yaitu Tari Merak. Tarian ini diciptakan pada tahun 1955 dan masih diajarkan di berbagai sanggar tari hingga kini. 

Pelopor Tari Modern

Tjetje juga berperan dalam mengubah pandangan masyarakat terhadap profesi penari wanita. Pada saat itu, penari wanita sering dikaitkan dengan stereotip negatif.

Akan tetapi melalui karya-karyanya, Tjetje berhasil mengangkat citra  dan imej penari wanita menjadi lebih terhormat dan dihargai di masyarakat. 

Sebagai pengakuan atas dedikasi dan kontribusinya, Somantri menerima penghargaan dari pemerintah dan institusi seni. Salah satunya yaitu penghargaan Piagam Wijaya Kusumah dari pemerintah Indonesia pada tahun 1961. 

Raden Tjetje Somantri meninggal dunia pada tahun 1963 di Bandung, Jawa Barat. Hingga kini, nama beliau tetap dikenang sebagai salah satu pelopor seni tari modern di Indonesia.

Melalui inovasi dan dedikasinya, tari Sunda tidak hanya bertahan tetapi juga mendapatkan tempat yang lebih luas di dunia seni pertunjukan. Karyanya menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya untuk terus mencintai dan mengembangkan seni budaya bangsa. (Dari berbagai sumber)

TopikProfil
Profil03 JAN 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Profil

Lihat semua →

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati