Pemulihan Desa Adat Sade, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, memasuki tahap baru. Setelah kebakaran pada 22 Agustus 2026, pemerintah tidak hanya menyiapkan pembangunan kembali kawasan yang terdampak, tetapi juga membantu masyarakat menghidupkan kembali mata pencaharian.
Kementerian Pariwisata pada 30 September 2026 menyalurkan bantuan pemulihan usaha senilai Rp817,5 juta berupa alat tenun, modal kerja bagi 69 UMKM, bahan baku tenun, serta peralatan kerajinan non-tenun.
Dukungan senilai total Rp1 miliar juga mencakup penguatan kapasitas pemandu lokal, promosi, katalog produk, branding, dan pemasaran digital.
Langkah tersebut memperlihatkan bahwa pemulihan Sade tidak berhenti pada membangun kembali rumah dan fasilitas yang terbakar. Yang juga perlu dipulihkan adalah kehidupan masyarakat yang selama ini membuat kawasan adat tersebutasi, drainase, dan infrastruktur dasar.
Rancangan tersebut diarahkan agar Sade menjadi lebih tangguh menghadapi risiko bencana tanpa kehilangan karakter. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut penataan ulang perlu memperhatikan jarak antarrumah dan instalasi listrik serta tetap mempertahankan identitas kawasan tetap hidup.
Membangun kembali tanpa menghapus identitas
Data sementara per 27 Agustus 2026 mencatat 189 kepala keluarga dan 320 pelaku pariwisata terdampak. Kebakaran juga berdampak pada 75 rumah adat, 69 artshop, delapan lumbung alang, serta sejumlah fasilitas lain.
Pemerintah kemudian menyiapkan rekonstruksi dengan perhatian pada keselamatan, antara lain proteksi kebakaran, penataan instalasi listrik, sanitasi, drainase, dan infrastruktur dasar.
Rancangan tersebut diarahkan agar Sade menjadi lebih tangguh menghadapi risiko bencana tanpa kehilangan karakter arsitektur tradisional Sasak.
Kementerian Kebudayaan sebelumnya memperkirakan kebutuhan rekonstruksi mencapai Rp25 miliar hingga Rp30 miliar. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut penataan ulang perlu memperhatikan jarak antarrumah dan instalasi listrik serta tetap mempertahankan identitas kawasan.
Revitalisasi sendiri masih membutuhkan proses perancangan lebih lanjut.
Pada awal September, Kementerian Kebudayaan menyatakan desain dan konsep penataan kawasan masih disusun sehingga progres revitalisasi belum dapat dipastikan.
Yang Diselamatkan Bukan Hanya Bangunan
Desa Sade memiliki nilai yang jauh melampaui deretan rumah tradisional yang menjadi pemandangan wisatawan.
Di kawasan ini, arsitektur bale, tradisi menenun yang diwariskan antargenerasi, kehidupan masyarakat Sasak, hingga pengetahuan dan kebiasaan sehari-hari membentuk satu kesatuan warisan budaya yang masih dijalankan dalam kehidupan nyata.
Sade bukan sekadar replika masa lalu, melainkan ruang hidup tempat tradisi terus dipraktikkan, dipelajari, dan diperkenalkan kepada pengunjung.
Karena itu, pemulihan pascakebakaran bukan hanya tentang mengembalikan bangunan yang rusak, tetapi memastikan masyarakat kembali memiliki ruang untuk menjalankan tradisi, berkarya, menerima wisatawan, dan memperoleh penghidupan dari kekayaan budaya yang mereka rawat.
Menyelamatkan Sade berarti menjaga agar warisan tersebut tidak berhenti sebagai cerita tentang masa lalu, tetapi tetap hidup bersama masyarakat yang menjadi penjaganya.

Menjaga Warisan Tetap Hidup
Di titik ini, pemulihan Sade memiliki makna yang lebih luas. Rumah adat, tenun, kerajinan, pengetahuan lokal, dan aktivitas pariwisata saling berkaitan dengan kehidupan masyarakat yang menjalaninya setiap hari.
Karena itu, bantuan alat tenun dan modal usaha bukan sekadar pemulihan ekonomi. Keberlangsungan pekerjaan masyarakat ikut menjaga pengetahuan dan tradisi yang diwariskan, sekaligus menghidupkan kembali ekosistem pariwisata berbasis masyarakat.
Pemulihan Sade pada akhirnya perlu menjaga dua hal sekaligus: masyarakat tetap memiliki penghidupan, sementara warisan budaya tetap memiliki ruang untuk dipraktikkan dan diteruskan.
Keberhasilan pemulihan bukan hanya ketika wisatawan kembali datang, tetapi ketika masyarakat Sade kembali menjadi bagian utama dari kehidupan kawasan dan tetap mampu merawat warisan yang mereka miliki.
Sade Bukan Sekadar Destinasi
Pemulihan Sade pada akhirnya bukan pekerjaan untuk mengembalikan sebuah kawasan persis seperti sebelum kebakaran. Rekonstruksi justru menjadi kesempatan untuk memperbaiki keselamatan dan tata kelola tanpa memutus hubungan dengan sejarah dan kehidupan masyarakat.
Rumah dapat dibangun kembali. Infrastruktur dapat diperbaiki. Aktivitas wisata dapat diluncurkan kembali.
Namun warisan budaya hanya benar-benar bertahan apabila pengetahuan, keterampilan, tradisi, dan kehidupan masyarakat yang menopangnya juga terus berjalan. Karena itu, menyelamatkan Sade berarti memastikan masyarakatnya dapat kembali bekerja, menenun, berkarya, menerima pengunjung, dan meneruskan pengetahuan kepada generasi berikutnya.
Warisan budaya tidak hanya diselamatkan dari kehilangan bentuk, tetapi juga dijaga agar tetap memiliki kehidupan.






