By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
emmanus.comemmanus.comemmanus.com
  • Beranda
  • Berita
  • Profil
  • Event
  • Tradisi
  • Warisan Budaya
  • Cerita Rakyat
  • Pariwisata
Reading: Rujak Soto, Kuliner Nyentrik Khas Banyuwangi
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
emmanus.comemmanus.com
Font ResizerAa
Search
  • Berita Kategori
    • Berita
    • Profil
    • Event
    • Tradisi
    • Pariwisata
    • Cerita Rakyat
    • Warisan Budaya
Follow US
©2024 PT Emma Media Nusantara. All Rights Reserved.
emmanus.com > Blog > Warisan Budaya > Rujak Soto, Kuliner Nyentrik Khas Banyuwangi
Warisan Budaya

Rujak Soto, Kuliner Nyentrik Khas Banyuwangi

Ridwan
Last updated: 24/10/2024 03:13
Ridwan
Share
3 Min Read
Foto: Pinterest/Widya
SHARE

Rujak soto, kuliner unik yang terdiri dari perpaduan rujak dengan soto. Meski terlihat tidak biasa, namun kuliner asal Banyuwangi, Jawa Timur ini menciptakan cita rasa yang luar biasa, sehingga banyak orang yang menyukainya. 

Tentu masyarakat Indonesia lebih familier dengan makanan soto atau rujak saja. Ketika mendengar kata soto rujak mungkin akan terlihat aneh. Namun, tenang saja, rujak yang dimaksud disini bukan buah melainkan rujak sayur. 

Perpaduan antara rujak petis dengan isian sayur dan soto babat berkuah kuning, menghasilkan cita rasa yang asin, gurih, pedas, dan segar, hingga memikat siapa saja yang mencobanya. Supaya terasa lebih lengkap, biasanya kuliner ini disajikan bersama es temulawak. 

Asal-Usul

Tak ada sumber pasti mengenai sejarah kemunculan kuliner ini. Ada yang mengatakan bahwa makanan ini berasal dari keinginan masyarakat Banyuwangi yang ingin memadukan rujak cingur dan soto. Dilansir dari laman Kemdikbud, dipercayai kuliner ini muncul pada tahun 1980-an. 

Namun, ada sumber yang menyebutkan bahwa rujak soto muncul berkat salah satu lagu tradisional Banyuwangi, yakni Rujak Singgul. Lirik lagu tersebut menyebutkan beberapa jenis rujak, seperti rujak uni, rujak locok, rujak lethok, rujak kecut, dan rujak cemplung. 

Semua nama-nama ini mengacu pada bahan atau pengolahan rujak itu sendiri. Pada bagian akhir lagu, ada penggalan lirik yang berbunyi durung weruh rasane mageh arane, nganeh anehi, yang berarti “belum tahu rasanya, masih namanya saja sudah aneh. Setelah 1970-an, berkat keisengan penikmat rujak Banyuwangi yang terinspirasi oleh lirik lagu tersebut, munculah kreasi rujak tradisional ini. 

Baca juga: Paket Wisata Banyuwangi-Bali Barat dan Utara Diluncurkan

Salah satu karakteristik kuliner yang berasal dari Banyuwangi ini adalah penggunaan petis dan pisang klutuk atau pisang batu untuk bumbunya. Petis sendiri merupakan produk olahan kepala udang yang memiliki tekstur seperti saus yang sangat kental, berwarna cokelat dan cenderung hitam. Rasanya ada yang manis, asin, dan gurih. 

Membuat rujak khas ini sendiri cukup mudah. Bahan-bahan yang digunakan mudah ditemukan. Bumbu yang digunakan antara lain kacang tanah yang sudah digoreng, garam, gula merah, terasi, petis, pisang batu, dan cabai rawit. 

Sementara itu, isian rujaknya terdiri atas tempe dan tahu goreng, taoge dan kangkung rebus, telur ayam rebus, mentimun, serta lontong. Bumbu sotonya terbuat dari bawang putih, kunyit, jahe, kemiri, merica, serai, daun bawang dan daun jeruk. Untuk dagingnya menggunakan daging sapi babat dan jeroan. 

Kuliner yang satu ini memiliki cita rasa gurih, asin, segar, dan pedas. Selain itu memadukan dua makanan yang unik. Tidak heran, rujak soto banyak diminati oleh warga lokal maupun wisatawan yang datang berkunjung. (Anisa Kurniawati-Berbagai Sumber)

You Might Also Like

Kesenian Dengklung, Dari Media Dakwah Hingga Hiburan 

Jejak Bakpia, Kuliner Bercita Rasa Otentik Yogyakarta

Kesegaran Es Dawet Siwalan, Sajian Kuliner Ikonik Lamongan

Makna di Balik Ragam Warna Manik-Manik Suku Dayak

Inilah 5 Warisan Budaya Indonesia yang Diklaim Malaysia

Sign Up For Daily Newsletter

Be keep up! Get the latest breaking news delivered straight to your inbox.
[mc4wp_form]
By signing up, you agree to our Terms of Use and acknowledge the data practices in our Privacy Policy. You may unsubscribe at any time.
Share This Article
Facebook X Copy Link Print
Share
By Ridwan
Content Editor
Previous Article Wayang Beber, Wayang Tertua di Indonesia
Next Article Sakombu Eco Basket, Kerajinan Ramah Lingkungan
Leave a comment Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media

2kFollowersLike
4kFollowersFollow
2.4kSubscribersSubscribe
18kFollowersFollow
- Advertisement -
Ad imageAd image

Berita Terbaru

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar
Berita 30/05/2025
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik
Berita 29/05/2025
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto
Berita 29/05/2025
penulisan ulang sejarah Indonesia
DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027
Berita 28/05/2025
- Advertisement -

Quick Link

  • Kontak Kami
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber

Top Categories

  • Profil
  • Event
  • Tradisi
  • Warisan Budaya

Stay Connected

200FollowersLike
4kFollowersFollow
2.4kSubscribersSubscribe
18kFollowersFollow
emmanus.comemmanus.com
Follow US
© 2024 PT Emma Media Nusantara. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Nama Pengguna atau Alamat Email
Kata Sandi

Lupa kata sandi Anda?