By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
emmanus.comemmanus.comemmanus.com
  • Beranda
  • Berita
  • Profil
  • Event
  • Tradisi
  • Warisan Budaya
  • Cerita Rakyat
  • Pariwisata
Reading: Saat Warga Dua Desa Bersatu Berburu Ikan dalam Tradisi Tubo
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
emmanus.comemmanus.com
Font ResizerAa
Search
  • Berita Kategori
    • Berita
    • Profil
    • Event
    • Tradisi
    • Pariwisata
    • Cerita Rakyat
    • Warisan Budaya
Follow US
©2024 PT Emma Media Nusantara. All Rights Reserved.
emmanus.com > Blog > Tradisi > Saat Warga Dua Desa Bersatu Berburu Ikan dalam Tradisi Tubo
Tradisi

Saat Warga Dua Desa Bersatu Berburu Ikan dalam Tradisi Tubo

Anisa Kurniawati
Last updated: 15/02/2025 03:26
Anisa Kurniawati
Share
Warga berebut ikan di Sungai Tuntang dalam tradisi tubo Foto: Infogrobogan.id
SHARE

Sebuah tradisi unik bernama Tubo, sejak lama eksis di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Tradisi ini dilakukan setiap dua tahun sekali di Desa Ngombak dan Desa Karanglangu, Kecamatan Kedungjati.

Ribuan warga dari kedua desa itu berburu ikan menggunakan metode tradisional. 

Tradisi Tubo tidak hanya berburu ikan, tetapi juga memiliki latar belakang mitologis yang dipercayai masyarakat setempat. Menurut cerita rakyat, tradisi ini berakar dari kisah Kedhana dan Kedhini, dua bersaudara yang terpisah sejak kecil. 

Kedhana menetap di Desa Karanglangu, sementara Kedhini tinggal di Desa Ngombak. Tanpa mengetahui hubungan darah mereka, keduanya hampir menikah hingga akhirnya terungkap bahwa mereka adalah saudara kandung.

Sebagai bentuk perayaan atas pertemuan mereka, masyarakat mengadakan syukuran yang berkembang menjadi Tradisi Tubo. Hingga kini, tradisi ini tetap dipertahankan sebagai simbol persatuan dan toleransi antara kedua desa.

Ritual Awal Tradisi Tubo

Sebelum acara perburuan ikan dimulai, para tokoh masyarakat mengadakan ritual doa sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan untuk memohon keselamatan. Mereka juga menyiapkan racun alami yang disebut “Racun Tubo”. 

Racun ini berasal dari tumbuhan tuba (Derris elliptica), yang akarnya mengandung rotenone, zat yang efektif untuk melumpuhkan ikan tanpa mencemari air secara permanen.

Akar tuba dicampur dengan ketela pohon dan bahan alami lainnya sebelum direndam dalam air. 

Setelah ritual doa selesai, ramuan ini dituangkan ke dalam beberapa gentong dan galon, lalu dipecahkan di tengah sungai agar racun tersebar merata.

Dalam beberapa jam, ikan yang berada di sungai muncul ke permukaan akibat efek racun alami itu. Begitu ikan mulai mengapung, ribuan warga langsung menceburkan diri untuk menangkap ikan.

Baik anak-anak, remaja, hingga orang tua, semuanya ikut serta dalam tradisi ini. Mereka menggunakan berbagai alat seperti jaring, keranjang, dan bahkan tangan kosong untuk mengumpulkan ikan sebanyak mungkin.

Tradisi digelar di Sungai Tuntang. Sepanjang kurang lebih tiga kilometer, mereka berdesakan dalam perburuan ikan. Ikan hasil tangkapan kemudian dibawa pulang untuk dimasak dan dinikmati bersama keluarga dan tetangga.

Baca juga: Mengenal Lasmi Sulastri Penari Tayub Legendaris Grobogan

Menarik Wisatawan

Selain menjadi bagian dari budaya lokal, Tradisi Tubo juga menarik perhatian wisatawan dari berbagai daerah. Banyak orang yang datang untuk menyaksikan secara langsung bagaimana ribuan warga berpartisipasi dalam tradisi ini. 

Meskipun Tradisi Tubo memiliki nilai budaya tinggi, penggunaan racun tuba dalam perburuan ikan menjadi polemik terkait dampak terhadap lingkungan. Karena jika digunakan dalam skala besar berpotensi mengganggu ekosistem sungai. 

Oleh karena itu, beberapa pihak mengusulkan agar tradisi ini dapat tetap dilestarikan dengan cara yang lebih ramah lingkungan. Harapannya, tradisi ini tetap bisa dipertahankan tanpa mengorbankan keseimbangan alam. (Dari berbagai sumber)

You Might Also Like

Desa Wisata Aeng Tong-tong, Empu Terbanyak di Dunia!

Ritual Tolak Bala di Klenteng Hok Tek Tong Parakan

Nyadran, Warisan Masa Depan Suku Tengger

Tradisi Bekayat Cara Membaca Hikayat Masyarakat Suku Sasak

Baayun Maulid, Seremoni Mengayun Bayi Jadi Tradisi

Sign Up For Daily Newsletter

Be keep up! Get the latest breaking news delivered straight to your inbox.
[mc4wp_form]
By signing up, you agree to our Terms of Use and acknowledge the data practices in our Privacy Policy. You may unsubscribe at any time.
Share This Article
Facebook X Copy Link Print
Share
By Anisa Kurniawati
Content Writer
Previous Article Emmavoice Meriahkan Expo KKN Mahasiswa UMP di Wonosobo
Next Article Legenda Ki Ageng Selo, Sang Penangkap Petir dari Majapahit
Leave a comment Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media

2kFollowersLike
4kFollowersFollow
2.4kSubscribersSubscribe
18kFollowersFollow
- Advertisement -
Ad imageAd image

Berita Terbaru

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar
Berita 30/05/2025
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik
Berita 29/05/2025
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto
Berita 29/05/2025
penulisan ulang sejarah Indonesia
DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027
Berita 28/05/2025
- Advertisement -

Quick Link

  • Kontak Kami
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber

Top Categories

  • Profil
  • Event
  • Tradisi
  • Warisan Budaya

Stay Connected

200FollowersLike
4kFollowersFollow
2.4kSubscribersSubscribe
18kFollowersFollow
emmanus.comemmanus.com
Follow US
© 2024 PT Emma Media Nusantara. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Nama Pengguna atau Alamat Email
Kata Sandi

Lupa kata sandi Anda?