Di pesisir utara Aceh, di antara muara sungai dan jalur pelayaran Selat Malaka, pernah tumbuh sebuah kerajaan yang namanya dikenal jauh melampaui wilayah asalnya. Samudera Pasai berkembang sebagai salah satu pusat perdagangan dan pemerintahan Islam penting di Asia Tenggara pada abad ke-13 hingga abad ke-15. Sejarahnya dikenali melalui batu nisan, mata uang, catatan pengelana, dan naskah yang diwariskan kemudian.
Nama Samudera Pasai sering disebut ketika orang membicarakan kerajaan Islam awal di Nusantara. Namun, sebutan “yang pertama” perlu digunakan dengan hati-hati, sebab proses kedatangan Islam, tumbuhnya komunitas Muslim, dan berdirinya sebuah kesultanan bukanlah satu peristiwa yang selalu berlangsung bersamaan. Bukti yang paling kuat membawa kita ke akhir abad ke-13, sementara kisah tentang masa-masa sebelumnya masih menyisakan pertanyaan.
Malik al-Saleh dan Jejak Tahun 1297
Tokoh yang paling lekat dengan awal sejarah Samudera Pasai ialah Sultan Malik al-Saleh, yang dalam tradisi lokal juga dikenal sebagai Meurah Silu. Sejumlah kajian menyebut bahwa ia memeluk Islam dan kemudian memakai nama Malik al-Saleh, meskipun rincian biografinya banyak disusun dari gabungan tradisi tertulis dan pembacaan bukti material. Ia lazim ditempatkan sebagai penguasa awal yang mengukuhkan identitas Islam kerajaan tersebut.
Batu nisan yang dikaitkan dengan Malik al-Saleh mencantumkan tahun wafat 696 Hijriah, yang berpadanan dengan 1297 M. Inskripsi itu menjadi penanda penting karena menyebut nama penguasa dan memberikan tanggal yang dapat dikaji. Meski begitu, sejarawan Elizabeth Lambourn mengingatkan bahwa nisan tersebut perlu dibaca sebagai benda budaya secara utuh, bukan teks semata; ia mengajukan kemungkinan bahwa batu nisan yang sekarang dikenal merupakan pengganti yang dibuat kemudian untuk makam lebih tua.
Catatan ini tidak menghapus arti nisan Malik al-Saleh. Sebaliknya, ia memperlihatkan bagaimana sejarawan menguji benda bersejarah melalui tulisan, bentuk, bahan, dan konteks penemuannya. Bukti tersebut tetap menjadi salah satu jangkar penting dalam pembahasan Pasai, tetapi kesimpulan tentang tanggal dan legitimasi dinasti perlu mengikuti penelitian epigrafi dan arkeologi, bukan hanya pengulangan kisah populer.
Bandar, Pedagang, dan Dunia Maritim
Letak Samudera Pasai di pesisir utara Sumatra memberi kerajaan ini akses ke jalur perdagangan yang menghubungkan Samudra Hindia dengan Selat Malaka. Kapal-kapal membawa komoditas, tetapi juga berita, bahasa, kebiasaan, dan gagasan keagamaan. Dalam dunia pelabuhan, hubungan dagang dapat membangun jaringan diplomatik dan sosial yang melampaui batas kerajaan.
Catatan perjalanan Ibnu Battutah, yang singgah ke Pasai pada abad ke-14, menjadi salah satu sumber penting untuk memahami kerajaan pada masa itu. Ia menggambarkan penguasa dan lingkungan istana Muslim, serta menyebut praktik keagamaan yang dijumpainya. Kesaksiannya membantu memberi gambaran tentang Pasai yang masih hidup sebagai pusat pemerintahan, bukan sekadar nama yang ditemukan pada batu nisan.
Perdagangan juga tercermin melalui mata uang yang dikenal sebagai dirham atau deureuham. Kajian arkeologi mengenai mata uang Pasai menghubungkannya dengan kegiatan niaga maritim dan pengaruhnya terhadap kerajaan-kerajaan lain di kawasan Melayu. Mata uang bukan hanya alat tukar; nama dan gelar yang tertera padanya dapat menunjukkan otoritas penguasa, sementara persebarannya membantu menelusuri hubungan ekonomi.
Sultan Malik az-Zahir dan Perkembangan Pasai
Setelah Malik al-Saleh, tradisi sejarah menempatkan putranya, Sultan Muhammad Malik az-Zahir, sebagai penguasa penting pada generasi berikutnya. Kronologi pemerintahannya sering ditulis sekitar 1297 hingga 1326, walaupun urutan dan penanggalan dinasti awal harus dibaca dengan memperhatikan keterbatasan sumber. Pada masa para penerusnya, Pasai tampil dalam catatan luar sebagai kerajaan Muslim yang memiliki kedudukan berarti di jalur perdagangan regional.
Ibnu Battutah menyebut Sultan al-Malik az-Zahir sebagai penguasa yang saleh dan memperhatikan kehidupan keagamaan. Gambaran seorang pengelana tentu mencerminkan pengalaman dan sudut pandangnya sendiri, tetapi catatan itu bernilai karena memberi kesaksian tentang praktik istana dan hubungan kerajaan dengan dunia Islam yang lebih luas. Dari sana, Pasai tampak bukan hanya sebagai tempat singgah pedagang, melainkan juga sebagai pusat pemerintahan yang terhubung dengan jaringan ulama dan pelabuhan lain.
Pengaruh Pasai tidak perlu digambarkan sebagai kekuasaan yang mengendalikan seluruh perdagangan Asia Tenggara. Bukti yang ada lebih mendukung gambaran tentang sebuah pelabuhan penting yang ikut membentuk hubungan dagang dan budaya di kawasan Selat Malaka. Penelitian arkeologi mengenai hubungan Pasai dengan Brunei, misalnya, menunjukkan bahwa hubungan antarkerajaan dapat ditelusuri melalui temuan material dan catatan mengenai pertukaran, bukan semata-mata kisah penaklukan.
Warisan yang Tak Selesai Dibaca
Samudera Pasai tidak meninggalkan istana utuh yang dapat memperlihatkan seluruh bentuk kehidupan kerajaannya. Jejak yang tersisa antara lain kompleks makam, inskripsi, mata uang, serta benda-benda yang kini disimpan atau dipamerkan sebagai warisan sejarah. Karena itu, rekonstruksi kota dan sistem pemerintahannya masih bergantung pada pembacaan silang antara tinggalan arkeologis, sumber tertulis, dan kajian tentang lanskap pesisir.
Kerajaan ini kemudian mengalami perubahan politik seiring persaingan antarpusat kekuasaan di Sumatra dan Selat Malaka. Dalam sejarah yang lebih luas, Pasai kerap dihubungkan dengan kebangkitan Kesultanan Aceh Darussalam, tetapi hubungan tersebut tidak sebaiknya dipahami sebagai perpindahan kekuasaan yang sederhana dan langsung. Perubahan dinasti, jaringan dagang, dan pergeseran pusat politik berlangsung melalui proses yang lebih rumit daripada satu tanggal keruntuhan.
Hari ini, makam Malik al-Saleh menjadi salah satu situs yang paling dikenal dalam ingatan sejarah Pasai. Situs itu menghubungkan masyarakat masa kini dengan masa ketika penguasa Muslim, pedagang, dan pelaut membangun jaringan di pesisir utara Sumatra. Namun, warisan terpenting Pasai bukan hanya gelar sebagai kerajaan Islam awal, melainkan juga bukti tentang bagaimana perdagangan, kekuasaan, dan agama bertemu dalam sejarah maritim Nusantara.
Membaca Samudera Pasai berarti menerima dua hal sekaligus: kerajaan ini meninggalkan bukti nyata tentang keberadaan kekuasaan Muslim pada akhir abad ke-13, dan sejumlah rincian tentang asal-usul maupun urutan penguasanya masih terbuka untuk penelitian. Sikap hati-hati bukanlah cara mengecilkan sejarah Aceh. Justru dengan membedakan bukti, tafsir, dan tradisi, kisah Pasai dapat diwariskan secara lebih jujur kepada generasi berikutnya.
CATATAN REDAKSI
Artikel ini mengulas Samudera Pasai sebagai salah satu pusat awal pemerintahan Islam di Nusantara, dengan perhatian pada Sultan Malik al-Saleh, perdagangan maritim, mata uang, dan bukti arkeologis.
Tahun wafat Malik al-Saleh, 696 Hijriah atau 1297 M, dikenal melalui inskripsi makam yang dikaitkan dengannya. Namun, kajian Elizabeth Lambourn dalam Journal of the Economic and Social History of the Orient (2008) mengajukan kemungkinan bahwa batu nisan yang kini dikenal merupakan pengganti bagi makam yang lebih tua. Karena itu, artikel ini tidak menyederhanakan persoalan tersebut sebagai kesepakatan mutlak di kalangan peneliti.
Catatan perjalanan Ibnu Battutah memberikan gambaran tentang Pasai pada abad ke-14. Kajian mengenai mata uang dan hubungan budaya dengan Brunei membantu menjelaskan peran perdagangan dan hubungan antarpelabuhan. Namun, sumber-sumber tersebut tidak cukup untuk merekonstruksi seluruh bentuk kota, struktur pemerintahan, atau urutan dinasti secara lengkap.
Artikel juga tidak menyatakan bahwa Samudera Pasai tanpa perdebatan merupakan kerajaan Islam pertama di seluruh Nusantara. Klaim itu harus dibaca sesuai definisi dan bukti yang digunakan, terutama karena sejarah awal Islam di wilayah ini melibatkan proses yang bertahap.
Sebelum publikasi, redaksi perlu memeriksa kembali pembacaan inskripsi makam, kronologi Sultan Muhammad Malik az-Zahir, dan detail tentang mata uang melalui sumber akademik lengkap. Batas antara bukti material, catatan pengelana, dan interpretasi sejarawan harus dipertahankan agar artikel tidak mengubah dugaan menjadi ke pastian.
Sumber referensi
1. Hasbullah. (2023).
Leaflet Makam Sultan Al-Malik Ash-Shalih (Malikussaleh).
Seri Informasi Cagar Budaya No. 11/2023.
Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah I, Aceh.
https://repositori.kemendikdasmen.go.id/30917/
2. Elizabeth Lambourn. (2008).
“Tombstones, Texts, and Typologies: Seeing Sources for the Early History of Islam in Southeast Asia.”
Journal of the Economic and Social History of the Orient, 51(2), 252–286.
https://doi.org/10.1163/156852008X307447
3. Fitriani, Andini, Isrina Siregar, dan Supian Ramli. (2022).
“Peran Sultan Malikussaleh dalam Perkembangan Kerajaan Samudera Pasai 1297–1326M.”
JEJAK: Jurnal Pendidikan Sejarah & Sejarah, 2(1), 11–22.
https://doi.org/10.22437/jejak.v2i1.18539
4. Ambary, Hasan Muarif, dan Achmad Cholid Sodrie.
“Hubungan Budaya antara Kesultanan Samudra Pasai dan Kesultanan Brunei Darussalam dilihat dari Data Arkeologi.”
Buletin Al-Turas.
https://doi.org/10.15408/bat.v1i1.6767
5. Purnawibowo, Stanov. (2009).
“Deureuham dan Aktivitas Perdagangan Maritim di Samudera Pasai.”
Berkala Arkeologi Sangkhakala, 12(24).
https://doi.org/10.24832/bas.v12i24.220
6. Studia Islamika. (2025).
Artikel penelitian tentang perdagangan, penggunaan mata uang, dan perkembangan ekonomi Samudera Pasai.
https://studiaislamika.ppimcensis.or.id/index.php/studia-islamika/article/download/46440/15858/140456
7. Direktorat Pelindungan Kebudayaan. (2016).
“Monumen Islam Samudera Pasai, Menciptakan Kebanggaan Sekaligus Kecintaan pada Sejarahnya.”
https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/dpk/monumen-islam-samudera-pasai-menciptakan-kebanggaan-sekaligus-kecintaan-terhadap-sejarahnya/
8. Wikimedia Commons.
“Makam Sultan Malik As-Shalih (Malikussaleh).”
Informasi fotografer, resolusi, dan lisensi CC BY-SA 4.0.
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Makam_Sultan_Malik_As-Shalih_(Malikussaleh).jpg







