Budaya

Menelusuri Akar Budaya dan Tradisi Kesenian Jaranan Kediri

Kesenian Jaranan Kediri adalah bentuk tarian daerah yang sangat khas, ditandai iringan gamelan yang meriah, bunyi gendang, gong, dan tiupan terompet yang menggugah semangat. Kesenian tersebut jadi salah satu pertunjukan kerakyatan yang digemari di Jawa Timur. Pementasan Jaranan Kediri biasanya diselenggarakan pada acara-acara khusus, seperti bersih desa, nyadranan, perayaan Hari Kemerdekaan, atau acara tasyakuran. Yang […]

Oleh Achmad Aristyan

Menelusuri Akar Budaya dan Tradisi Kesenian Jaranan Kediri
Pertunjukan kesenian kerakyatan Jaranan Kediri yang cukup populer di masyarakat Jawa Timur. Foto: Wikipedia/Ditta Alfianto
Diterbitkan

Kesenian Jaranan Kediri adalah bentuk tarian daerah yang sangat khas, ditandai iringan gamelan yang meriah, bunyi gendang, gong, dan tiupan terompet yang menggugah semangat.

Kesenian tersebut jadi salah satu pertunjukan kerakyatan yang digemari di Jawa Timur.

Pementasan Jaranan Kediri biasanya diselenggarakan pada acara-acara khusus, seperti bersih desa, nyadranan, perayaan Hari Kemerdekaan, atau acara tasyakuran.

Yang menarik dari kesenian ini bukan hanya alur ceritanya, tetapi juga unsur magis dan akrobatik yang bisa membuat penonton tegang.

Bagi Anda yang tinggal di kota, mungkin nama Jaranan Kediri terdengar asing.

Namun, kali ini kita akan menjelajahi kesenian ini lebih dalam, sehingga meskipun belum pernah melihatnya secara langsung, kamu bisa mengenalnya lebih dekat.

Seni yang Lahir dari Sayembara

Kesenian Jaranan Kediri berasal dari abad ke-10 Hijriah, tepatnya pada tahun 1041, saat Kerajaan Kahuripan dibagi menjadi dua bagian: Jenggala dan Panjalu.

Raja Airlangga memiliki seorang putri cantik bernama Dewi Sangga Langit, yang banyak dilirik oleh para pemuda, tetapi memilih untuk hidup sebagai petapa.

Meskipun Prabu Airlangga berusaha menjodohkannya, Dewi Sangga Langit akhirnya setuju untuk menikah dengan satu syarat: barang siapa yang mampu menciptakan kesenian yang belum pernah ada di Pulau Jawa, akan menjadi suaminya.

Banyak pelamar yang datang, termasuk Klono Sewandono dari Wengker, Toh Bagus dari Singo Barong, Kalawraha dari pesisir kidul, dan empat prajurit dari Blitar.

Mereka mengikuti sayembara yang diadakan Dewi Sangga Langit dan berangkat ke Kediri untuk memenangkan hati sang putri.

Namun, di perjalanan, beberapa pelamar bertemu dan terlibat pertikaian. Klana Sewandono atau Pujangganom berhasil mengalahkan Singo Ludoyo, yang meskipun kalah, mengajukan permohonan agar tidak dibunuh.

Pujangganom pun setuju, namun dengan syarat bahwa Singo Barong harus mengiringi pernikahan mereka ke Wengker. Iringan pernikahan ini dilaksanakan dengan pertunjukan jaranan yang menampilkan alat musik dari bambu dan besi.

Kesenian Jaranan kinu menjadi tradisi masyarakat Kediri untuk mengenang sayembara Dewi Sangga Langit dan pernikahan itu. Kesenian ini sekarang masih dilestarikan sebagai warisan budaya yang telah ada selama ribuan tahun.

Ada empat jenis Jaranan yang sering dipentaskan di Kediri yakni:

  • Jaranan Jowo
  • Jaranan Dor
  • Jaranan Pegon, dan
  • Jaranan Senterewe.

Meskipun memiliki banyak kesamaan, masing-masing variasi juga memiliki perbedaan dalam hal pakaian, atribut, alat musik, dan tarian. Berikut penjelasan lebih lanjut:

  1. Jaranan Jowo

Jaranan Jowo dikenal dengan kesederhanaannya dalam peralatan dan kostum.

Kesenian ini sarat dengan elemen mistis; pada puncak pertunjukan, para penari seringkali mengalami trance atau “ndadi” dalam bahasa Jawa, di mana mereka bisa kerasukan roh halus yang membuat pertunjukan semakin menegangkan.

  1. Jaranan Dor

Jaranan Dor menawarkan humor dalam bentuk tarian. Kesenian ini menggunakan alat musik khas Jedor, sehingga memiliki nuansa musik berbeda dibandingkan dengan variasi lainnya.

Bagi yang menyukai seni musik dan komedi, Jaranan Dor bisa menjadi pilihan menarik untuk ditonton.

  1. Jaranan Pegon  

Dikenal karena kreativitas gerakannya yang dinamis, Jaranan Pegon menampilkan busana dan aksesori yang lebih meriah dibandingkan dengan jenis lainnya. Iringan musiknya juga sangat energik, menciptakan suasana yang ceria.

  1. Jaranan Senterewe

Jaranan Senterewe menggambarkan cerita prajurit berkuda, dengan kostum yang unik menyerupai wayang orang. Penari biasanya mengenakan aksesori seperti kacamata hitam, kaos kaki, dan sepatu, memberikan sentuhan modern.

Kesenian ini sangat populer karena memadukan elemen modern, seperti dangdut dan campur sari.

TopikBudaya
Budaya31 OKT 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Budaya

Lihat semua →
Tradisi makan bajamba

Makan Bajamba di Meja Diplomasi

Makan bajamba bukan sekadar tradisi bersantap bersama, melainkan cerminan kebersamaan dan penghormatan yang dapat menginspirasi jamuan diplomatik.

Ridwan
ampilan gim Kenupi karya U-Lika Studio yang mengangkat budaya Dayak Kenyah melalui seni piksel.

Petualangan Dayak Kenyah di Kenupi

Kenupi menghadirkan budaya Dayak Kenyah melalui gim berbasis seni piksel yang dikembangkan U-Lika Studio sebagai bagian dari kampanye Jejak: Jelajah Dayak Kenyah

Ridwan

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan