Cerita Rakyat

Sepuluh Pulau untuk Boki Dehegila, Kisah Cinta dari Morotai

Putri Dei meminta pulau-pulau sebagai mas kawin, dan usaha Kapita Sopi melahirkan legenda tentang bentang alam Morotai.

Oleh Narendra

Sepuluh Pulau untuk Boki Dehegila, Kisah Cinta dari Morotai
Lanskap kepulauan Morotai, wilayah yang dikaitkan dengan legenda Putri Dei dan Kapita Sopi.
Diterbitkan

Dahulu kala, di Pulau Morotai berdiri sebuah kerajaan yang makmur. Tanahnya subur, lautnya kaya ikan, dan penduduknya hidup dari pertanian serta hasil laut. Di bawah pemerintahan seorang raja yang dihormati, kehidupan berjalan tenteram dan rakyat dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sang raja mempunyai seorang putri bernama Dewi, tetapi masyarakat lebih mengenalnya sebagai Putri Dei. Ia bukan hanya dikenal karena parasnya yang cantik, melainkan juga karena tutur katanya yang lembut dan sikapnya yang ramah. Putri Dei bergaul dengan banyak orang tanpa membedakan apakah mereka berasal dari lingkungan istana atau rakyat biasa.

Kabar tentang kecantikan dan kebaikan hatinya menyebar hingga ke negeri-negeri seberang. Para pangeran dan pemuda dari berbagai tempat mulai membayangkan bisa mempersunting sang putri. Namun, bagi Putri Dei, pernikahan bukan sekadar urusan memilih seseorang yang memiliki kedudukan tinggi.

Di antara para pemuda yang mengabdi kepada kerajaan, ada seorang panglima bernama Kapita Sopi. Ia bertugas menjaga wilayah Sopi dan dikenal sebagai sosok yang tangguh dalam pertempuran. Meski memiliki kesaktian dan disegani banyak orang, ia tetap rendah hati serta menjalankan tugasnya dengan sungguh-sungguh.

Putri Dei diam-diam menaruh hati kepada Kapita Sopi. Namun, ia tidak berani menyampaikan perasaannya kepada sang ayah. Kapita Sopi merupakan hulubalang kepercayaan raja, dan Putri Dei khawatir kejujurannya justru mendatangkan masalah bagi lelaki yang dicintainya.

Sayembara Sang Raja

Melihat putrinya semakin dewasa, sang raja mulai memikirkan siapa yang pantas menjadi pendampingnya. Ia ingin Putri Dei menikah dengan seseorang yang mampu menjaga kerajaan dan menghadapi tantangan yang mungkin datang pada masa mendatang.

Sang raja kemudian mengadakan sayembara. Para pendekar dari dalam maupun luar kerajaan dipersilakan ikut serta. Mereka harus beradu kesaktian dan bertarung satu lawan satu sampai tersisa seorang pemenang. Raja menetapkan bahwa pemenang sayembara akan menjadi suami Putri Dei.

Berita itu segera menyebar ke berbagai penjuru. Para pendekar berdatangan ke istana, membawa kemampuan dan kebanggaan masing-masing. Penduduk Morotai pun berbondong-bondong menyaksikan pertandingan yang akan menentukan masa depan sang putri.

Putri Dei menyambut sayembara itu dengan perasaan bercampur aduk. Ia ingin melihat Kapita Sopi ikut bertanding, tetapi tidak mengetahui apakah panglima itu akan mengambil kesempatan tersebut. Ketika akhirnya melihat Kapita Sopi memasuki gelanggang, harapannya tumbuh kembali.

Pertarungan berlangsung sengit. Para peserta bergantian menghadapi lawan, dan satu demi satu tersingkir. Kapita Sopi berhasil mengalahkan pendekar-pendekar yang dihadapinya. Ia bertarung dengan tangkas, tetapi tidak kehilangan ketenangan yang selama ini membuatnya dihormati.

Kemenangan Kapita Sopi

Pertandingan berlanjut hingga hanya Kapita Sopi dan seorang pendekar dari negeri seberang yang masih bertahan. Lawannya bukan orang sembarangan. Ia memiliki kesaktian yang sebanding dan mampu menyingkirkan banyak peserta sebelum mencapai babak terakhir.

Karena hari telah menjelang malam, pertandingan dihentikan sementara. Kedua pendekar diberi waktu untuk beristirahat sebelum melanjutkan pertarungan keesokan harinya. Penduduk yang datang menyaksikan sayembara pulang dengan rasa penasaran, menunggu siapa yang akhirnya akan keluar sebagai pemenang.

Pagi berikutnya, gelanggang kembali dipenuhi penonton. Sang perdana menteri mengingatkan kedua peserta agar bertarung secara jujur dan menaati peraturan. Semua orang mengetahui bahwa kemenangan hari itu bukan hanya menentukan siapa pendekar terkuat, melainkan juga siapa yang akan menjadi suami Putri Dei.

Pertarungan pun dimulai kembali. Pukulan dan tendangan datang silih berganti. Kedua pendekar bergerak cepat, saling membaca serangan dan mencari celah. Untuk beberapa waktu, tidak seorang pun tampak lebih unggul daripada lawannya.

Akhirnya, Kapita Sopi menemukan kesempatan ketika lawannya kehilangan keseimbangan. Ia melancarkan serangan bertubi-tubi hingga lawannya jatuh dan tidak sanggup melanjutkan pertandingan. Kapita Sopi dinyatakan sebagai pemenang. Putri Dei merasa lega, sedangkan penduduk bersorak karena putri yang mereka cintai akan tetap tinggal di Morotai.

Sang raja menepati janjinya. Ia mengumumkan bahwa Kapita Sopi akan menjadi menantunya. Pertunangan kemudian diselenggarakan di istana, dan kedua keluarga mulai mempersiapkan pernikahan. Namun, sebelum upacara berlangsung, Putri Dei menyampaikan sebuah permintaan yang tidak biasa.

Mas Kawin yang Tidak Biasa

Putri Dei meminta agar laut di depan kerajaan dihiasi pulau-pulau yang berada di sebelah utara. Ia membayangkan pemandangan yang lebih indah di sekitar istana, dengan pulau-pulau yang tampak di kejauhan. Permintaan itu ia ajukan sebagai mas kawin kepada Kapita Sopi.

Kapita Sopi menyanggupi permintaan tersebut. Ia berjanji akan memindahkan pulau-pulau dari utara ke perairan di selatan, di depan istana. Namun, Putri Dei menetapkan satu syarat: pekerjaan itu harus selesai hanya dalam satu malam.

Setelah meninggalkan istana, Kapita Sopi pergi ke sebuah gua di hutan. Di tempat sunyi itu, ia bersemedi untuk mencari petunjuk. Ia harus menemukan cara agar pekerjaan besar tersebut dapat diselesaikan sebelum pagi tiba.

Dalam penuturannya, Kapita Sopi memperoleh petunjuk untuk meminta bantuan para jin. Pulau-pulau yang hendak dipindahkan akan diubah terlebih dahulu menjadi bongkahan batu, lalu diangkut dengan kapal. Setelah tiba di lokasi tujuan, bongkahan itu akan dikembalikan menjadi pulau.

Ketika malam yang ditentukan tiba, Kapita Sopi mulai melaksanakan rencananya. Para jin membantunya mengubah dua belas pulau di utara menjadi bongkahan batu. Kapal-kapal pun disiapkan, lalu berangkat membawa muatan menuju perairan di depan kerajaan. Pekerjaan itu berjalan tanpa hambatan pada awalnya.

Sepuluh Pulau Sebelum Fajar

Malam semakin larut. Kapal-kapal bergerak melintasi laut, sementara Kapita Sopi terus mengawasi pekerjaan tersebut. Ia berharap seluruh pulau dapat dipindahkan sesuai permintaan Putri Dei sebelum cahaya pagi muncul di ufuk timur.

Menjelang subuh, sepuluh kapal berhasil mencapai tujuan. Bongkahan batu yang dibawanya kembali diubah menjadi pulau oleh para jin. Laut di depan wilayah kerajaan mulai dihiasi pulau-pulau yang sebelumnya berada di sebelah utara.

Namun, dua kapal masih tertinggal. Keduanya telah berangkat dari utara, tetapi perjalanan mereka terhambat oleh badai yang sangat dahsyat. Para awak berusaha melawan angin dan gelombang, tetapi waktu terus berjalan. Ketika pagi datang, pekerjaan itu belum selesai.

Satu kapal akhirnya berhenti di depan Desa Bere-Bere. Bongkahan batu yang dibawanya dilepaskan ke laut dan berubah menjadi pulau yang kemudian dikenal sebagai Pulau Tabailenge. Kapal lainnya terdampar di Tanjung Pinang, antara Desa Sambiki dan Desa Daeo. Bongkahan batu yang dibawanya terlempar ke daratan dan tetap berbentuk batu, bukan pulau.

Kapita Sopi kecewa karena tidak dapat menyelesaikan seluruh pekerjaannya. Ia memikirkan kegagalan dua kapal tersebut dan merasa telah mengecewakan calon istrinya. Sementara itu, Putri Dei menunggu dengan gelisah karena Kapita Sopi belum juga kembali ke istana hingga hari beranjak siang.

Permaisuri yang Dikenang

Putri Dei akhirnya mencari Kapita Sopi dan menemukannya duduk termenung di tepi pantai. Sang panglima menceritakan bahwa ia hanya berhasil memindahkan sepuluh pulau, sedangkan dua lainnya gagal mencapai tujuan akibat badai dan datangnya pagi.

Putri Dei mendengarkan penjelasan itu dengan tenang. Ia mengatakan bahwa sejak awal dirinya tidak pernah meminta semua pulau dipindahkan. Ia hanya ingin beberapa pulau menghiasi laut di depan kerajaan. Karena itu, sepuluh pulau yang berhasil dipindahkan sudah cukup untuk memenuhi keinginannya.

Mendengar perkataan Putri Dei, beban di hati Kapita Sopi pun berkurang. Ia tidak lagi menganggap pekerjaannya sebagai kegagalan. Putri Dei menegaskan bahwa pernikahan mereka tetap akan dilangsungkan dan tidak ada alasan untuk membatalkannya hanya karena dua pulau tidak berhasil dipindahkan.

Pernikahan mereka kemudian dirayakan dengan meriah selama tujuh hari tujuh malam. Kapita Sopi menjadi raja, sedangkan Putri Dei mendampinginya sebagai permaisuri. Mereka hidup bersama dan dikaruniai keturunan.

Sejak itulah Putri Dei dikenal dengan sebutan Boki Dehegila. Dalam penjelasan yang menyertai cerita, kata “Boki” berarti permaisuri, sedangkan nama Dehegila terbentuk dari nama Dei dan Gila, nama yang dikaitkan dengan Kapita Sopi. Kisah mereka pun dihubungkan dengan pulau-pulau di sekitar Morotai, Tanjung Dehegila, dan batu yang dikenal masyarakat setempat sebagai tetototame.

Nama Boki Dehegila tetap hidup dalam ingatan masyarakat melalui legenda ini. Kisahnya bukan hanya tentang sayembara dan pernikahan kerajaan, melainkan juga tentang seorang putri yang mengajukan keinginannya sendiri dan seorang panglima yang berusaha memenuhinya dengan segenap kemampuan.

CATATAN REDAKSI

ASAL CERITA

Boki Dehegila merupakan tokoh perempuan dalam legenda yang dikaitkan dengan Pulau Morotai, Maluku Utara. Dalam versi yang digunakan, tokoh yang dikenal sebagai Putri Dei menikah dengan Kapita Sopi setelah sang panglima memenangkan sayembara kerajaan.

TOKOH UTAMA

Putri Dei / Boki Dehegila

Putri kerajaan Morotai yang dikenal karena kecantikan dan budi pekertinya. Dalam legenda, ia meminta pulau-pulau sebagai mas kawin dan kemudian menjadi permaisuri.

Kapita Sopi

Panglima yang bertugas di wilayah Sopi. Ia memenangkan sayembara untuk menjadi suami Putri Dei dan berusaha memenuhi permintaan mas kawin sang putri.

Sang Raja

Ayah Putri Dei yang mengadakan sayembara untuk menentukan calon suami putrinya.

ALUR VERSI SUMBER

Putri Dei diam-diam menyukai Kapita Sopi. Setelah raja mengadakan sayembara, Kapita Sopi menang dan berhak menikahi sang putri. Putri Dei kemudian meminta pulau-pulau di utara dipindahkan ke perairan di depan kerajaan sebagai mas kawin.

Kapita Sopi meminta bantuan para jin untuk memindahkan dua belas pulau. Sepuluh berhasil sampai ke tujuan, sedangkan dua kapal lainnya terhambat badai dan datangnya pagi. Putri Dei menerima hasil tersebut dan tetap menikah dengan Kapita Sopi. Pada akhir kisah, ia dikenal sebagai Boki Dehegila.

KONTEKS BUDAYA DAN GEOGRAFI

Cerita menghubungkan asal-usul nama Boki Dehegila dengan tradisi kerajaan Morotai. Kisah pemindahan pulau, bantuan jin, dan perubahan bongkahan batu menjadi pulau merupakan unsur legenda, bukan keterangan geologi atau sejarah yang telah dibuktikan secara ilmiah.

Dalam versi yang didokumentasikan, sepuluh pulau berhasil dipindahkan. Dua peristiwa yang tidak selesai dikaitkan dengan Pulau Tabailenge dan batu tetototame di kawasan Tanjung Pinang. Nama-nama tempat ini perlu dipahami sebagai bagian dari penjelasan folklor dalam sumber, bukan bukti bahwa seluruh peristiwa tersebut berlangsung secara historis.

CATATAN VARIAN

Naskah ini mengikuti alur cerita Putri Dei dan Kapita Sopi dalam Antologi Cerita Rakyat Maluku Utara 2011. Ejaan nama dalam sumber bervariasi, termasuk Deigila dan Dehegila. Naskah ini memakai bentuk “Boki Dehegila” sesuai judul materi EMMANUS.

Naskah ini merupakan adaptasi naratif baru. Dialog, suasana, dan transisi dikembangkan untuk kenyamanan membaca; bukan kutipan verbatim dari sumber.

Tentang Penulis

Narendra

Narendra

Pendiri EMMANUS, platform media dan pengetahuan yang berfokus pada pelestarian, pengembangan, dan pewarisan sejarah serta kebudayaan Nusantara. Berkomitmen menghadirkan informasi, cerita, dan pengetahuan yang bermakna melalui jurnalisme, teknologi digital, dan literasi budaya agar warisan leluhur tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang.

Lihat semua tulisan

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT

Lainnya dari Cerita Rakyat

Lihat semua →

Lainnya dari Narendra

Lihat semua →