Profil

Suparno, Perajin Dandang Tradisional di Wonosobo yang Tersisa

Dandang tradisional menjadi salah satu alat rumah tangga di Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah yang memiliki nilai budaya dan sejarah. Sayangnya, keberadaan perajin dandang tradisional kini berada di ambang kepunahan. Seperti halnya yang terjadi di Dusun Cawet, Desa Surengede, Kecamatan Kertek, Wonosobo. Dahulu, Dusun Cawet dikenal sebagai salah satu pusat kerajinan dandang tradisional. Sebagian besar […]

Oleh Anisa Kurniawati

Suparno, Perajin Dandang Tradisional di Wonosobo yang Tersisa
Suparno perajin dandang yang sedang memperbaiki kenceng. Foto: Anisa
Diterbitkan

Dandang tradisional menjadi salah satu alat rumah tangga di Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah yang memiliki nilai budaya dan sejarah.

Sayangnya, keberadaan perajin dandang tradisional kini berada di ambang kepunahan. Seperti halnya yang terjadi di Dusun Cawet, Desa Surengede, Kecamatan Kertek, Wonosobo.

Dahulu, Dusun Cawet dikenal sebagai salah satu pusat kerajinan dandang tradisional. Sebagian besar mata pencaharian warga Dusun Cawet membuat Dandang tembaga. Kini beberapa saja yang masih bertahan. Salah satunya yaitu Suparno. 

Menurunnya Peminat Dandang Wonosobo

Menurut Suparno, sebagian besar perajin dandang tradisional telah beralih profesi karena menurunnya permintaan. Faktor utamanya adalah perubahan preferensi masyarakat yang lebih memilih dandang berbahan aluminium. 

“Orang dusun Cawet kebanyakan bekerja sebagai perajin dandang, dulu satu kampung buat seperti ini semua. Namun, sekarang kebanyakan sudah pakai alumunium,” kata Suparno, salah satu perajin dandang di Dusun Cawet.

Padahal, di masa kejayaannya, hampir seluruh warga kampung Cawet menjadi perajin dandang tembaga. Tak terkecuali Suparno. Dirinya sendiri mengaku keahliannya dalam membuat dandang diturunkan orang tuanya.

Sejak tahun 1979, Suparno mulai membuat kerajinan dari tembaga. Menurut penuturannya,masa keemasan penggunaan dandang tembaga terjadi tahun 80-an hingga 90-an. Kala itu Suparno bisa setiap hari membuat dandang. 

Proses pembakaran dandang bekas. Foto: Anisa

Namun saat ini dalam satu bulan hanya menjual beberapa buah saja. Itupun tidak membuat dari awal menggunakan bahan tembaga. Namun, saat ini Suparno hanya melakukan jual beli dandang bekas. 

Dandang yang rusak dia perbaiki dan dijual kembali. Selain itu, dia hanya membuat dandang pesanan saja. Harganya sendiri dihitung berdasarkan berat. Untuk perkilonya Rp 200.000 ribu. 

“Kalau dulu ya lumayan, soalnya  kalau bawa berapa kilo, misal setengah kwuintal, bisa dibagi dua penjual, kadang kurang. Kalau saat ini bawa sepuluh kilo, itu sudah dibawa dua penjual, dan juga tidak mesti pulang bawa uang,” kata Suparno. 

Teknologi dan Proses Pembuatan

Dandang tradisional basanya digunakan untuk menanak nasi. Alat masak ini memiliki keunggulan, yaitu daya tahan hingga puluhan tahun. Sebaliknya, dandang aluminium cenderung lebih cepat rusak.

Namun saat ini, pemintanya turun. Selain harganya yang relatif tinggi, juga alatnya juga berat.

Saat ini sudah jarang pembuatannya karena bahan baku yaitu tembaga juga sudah mulai langka. Sehingga banyak perajin dandang beralih profesi ke yang lainnya. 

Meski demikian, Suparno, masih semangat menekuni pekerjaan ini. Tidak hanya membuat dandang, dia juga membuat kenceng, tutup kenceng, ceret, kendi dan lainnya.

TopikProfil
Profil26 JAN 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Profil

Lihat semua →

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati