By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
emmanus.comemmanus.comemmanus.com
  • Beranda
  • Berita
  • Profil
  • Event
  • Tradisi
  • Warisan Budaya
  • Cerita Rakyat
  • Pariwisata
Reading: Tari Cokek, Tari Pergaulan Khas Betawi
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
emmanus.comemmanus.com
Font ResizerAa
Search
  • Berita Kategori
    • Berita
    • Profil
    • Event
    • Tradisi
    • Pariwisata
    • Cerita Rakyat
    • Warisan Budaya
Follow US
©2024 PT Emma Media Nusantara. All Rights Reserved.
emmanus.com > Blog > Warisan Budaya > Tari Cokek, Tari Pergaulan Khas Betawi
Warisan Budaya

Tari Cokek, Tari Pergaulan Khas Betawi

Ridwan
Last updated: 15/10/2024 12:09
Ridwan
Share
3 Min Read
Foto: pinterest
SHARE

Tari Cokek merupakan hasil perpaduan antara unsur tari tradisional Tiongkok, Sunda-Betawi, dan pencak silat. Tari yang berasal dari Betawi ini dulunya sering disebut sebagai Tari Sipatmo. Biasanya tarian ini dipertunjukkan di vihara atau klenteng.

Tarian ini diperkirakan ada pada sekitar awal abad ke 19 yang dibawa oleh para pedagang dari Tiongkok bersama dengan Tan Sio Kek.  Pedagang tersebut sering mengadakan pesta dan menampilkan permainan Tiongkok yang dipadukan dengan menggunakan instrumen rebab dua dawai serta alat-alat musik tradisional khas Betawi, seperti gong, kendang dan suling.

Iringan musik tersebut menghasilkan irama yang membuat para tamu undangan ikut menari. Oleh karena itulah, tercipta sebuah tari Cokek yang diciptakan oleh Tan Sio Kek. Nama Cokek sendiri diambil dari kata cukin yang artinya adalah selendang. 

Menurut sumber lain ada yang mengatakan bahwa tari Cokek mulanya dikembangkan oleh para tuan tanah China. Selain itu ada juga yang mengartikan kata cokek sebagai seorang penyanyi yang merangkap tugas sebagai seorang penari. 

Sesaat sebelum tari Cokek mulai dikenal secara lebih luas dengan sebutan Cokek, pada mulanya tari ini lebih dikenal dengan nama tari Sipatmo yang dipentaskan ketika upacara adat di Vihara maupun Klenteng.

Tari Pergaulan

Tari cokek berkembang menjadi tari pergaulan yang berfungsi sebagai hiburan. Dalam tari cokek, dikenal istilah ngibing yang sering dipandang negatif oleh banyak orang. Istilah ini terjadi ketika tamu diserahi selendang oleh penari bersedia ikut menari bersama. 

Gerakan tari ini menampilkan gerak-gerak lucu; saling memegang dagu, memegang telinga, memegang bahu, dan menunjuk hidung. Selain itu juga mengendurkan lutut, dan menggoyangkan pinggang serta pinggul. 

Goyang pinggul dan saweran tamu ini memunculkan penilaian negatif terhadap tari cokek. Namun para seniman Betawi berupaya merekonstruksi tari cokek menjadi tari tradisi yang adiluhung. 

Perubahan dilakukan pada kostum, instrumen, dan gerakan tariannya. Baju kurung dan celana sutera digantikan dengan kebaya modern. Tatanan rambut penarinya dibiarkan terurai, tak seperti sebelumnya yang selalu diikat atau dikonde

Biasanya wayang cokek akan menyanyikan lagu-lagu yang diminta para tamu. Misalkan seperti lagu Jali-jali, Lenggang Kangkung, Matojin (Pendeta Wanita), Lui Kong (Dewa Halilintar), dan sebagainya. 

Sebagai tari pergaulan yang memadukan nilai kebudayaan Betawi dan budaya luar, pemerintah juga mulai menampilkan tari cokek pada acara-acara promosi pariwisata Betawi. Bahkan tari cokek dijadikan tarian penyambutan tamu dan mengisi acara-acara di Tangerang. Upaya tersebut dilakukan untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya. 

Tarian ini sendiri cukup populer dan berkembang di Jakarta dan daerah sekitar, seperti Tangerang maupun Bekasi. Kini, tari Cokek tidak hanya didominasi oleh masyarakat keturunan China saja, tetapi juga warga pribumi yang berbaur dengan warga dari keturunan China, baik sebagai pemainnya dalam grup seni maupun sebagai penonton tari Cokek. 

(Anisa Kurniawati-Berbagai Sumber)

You Might Also Like

Museum Topeng Cirebon, Unik dan Edukatif

Drumblek, Kesenian Drumband Tradisional dari Salatiga

Lomba Permainan Tradisional, Lestarikan Budaya Kalimantan

Sasando, Alunan Suara Indah dari Daun Lontar

Kolaborasi Musik, Tari dan Religi dalam Rampak Bedug Banten

Sign Up For Daily Newsletter

Be keep up! Get the latest breaking news delivered straight to your inbox.
[mc4wp_form]
By signing up, you agree to our Terms of Use and acknowledge the data practices in our Privacy Policy. You may unsubscribe at any time.
Share This Article
Facebook X Copy Link Print
Share
By Ridwan
Content Editor
Previous Article Dayak Wehea Penjaga Hutan Tropis Kalimantan
Next Article Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Lestarikan Bahasa Bali
Leave a comment Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media

2kFollowersLike
4kFollowersFollow
2.4kSubscribersSubscribe
18kFollowersFollow
- Advertisement -
Ad imageAd image

Berita Terbaru

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar
Berita 30/05/2025
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik
Berita 29/05/2025
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto
Berita 29/05/2025
penulisan ulang sejarah Indonesia
DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027
Berita 28/05/2025
- Advertisement -

Quick Link

  • Kontak Kami
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber

Top Categories

  • Profil
  • Event
  • Tradisi
  • Warisan Budaya

Stay Connected

200FollowersLike
4kFollowersFollow
2.4kSubscribersSubscribe
18kFollowersFollow
emmanus.comemmanus.com
Follow US
© 2024 PT Emma Media Nusantara. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Nama Pengguna atau Alamat Email
Kata Sandi

Lupa kata sandi Anda?