Budaya

Tari Lenggang Nyai Betawi, Kisah Perjuangan Nyai Dasimah

Jakarta, sebagai tanah leluhur orang Betawi, sejak lama menjadi kawasan yang dipenuhi dengan keberagaman suku dan etnis yang datang dari berbagai penjuru Nusantara. Berbagai kelompok yang datang dengan kepentingannya masing-masing berbaur dengan masyarakat Betawi, menciptakan suatu bentuk akulturasi budaya yang khas. Proses ini kemudian melahirkan seni dan tradisi yang unik, salah satunya adalah Tari Lenggang […]

Oleh Achmad Aristyan

Tari Lenggang Nyai Betawi, Kisah Perjuangan Nyai Dasimah
Tari Lenggang Nyai dari Betawi yang menggambarkan kisah hidup Nyai Dasimah. Foto: Wikimedia Commons/Fery Hartono
Diterbitkan

Jakarta, sebagai tanah leluhur orang Betawi, sejak lama menjadi kawasan yang dipenuhi dengan keberagaman suku dan etnis yang datang dari berbagai penjuru Nusantara.

Berbagai kelompok yang datang dengan kepentingannya masing-masing berbaur dengan masyarakat Betawi, menciptakan suatu bentuk akulturasi budaya yang khas. 

Proses ini kemudian melahirkan seni dan tradisi yang unik, salah satunya adalah Tari Lenggang Nyai.

Tari Perjuangan Wanita

Melansir dari Kumparan, Tari Lenggang Nyai, meskipun belum berusia lama, telah menjadi salah satu seni tradisi Betawi yang banyak dikenal, selain ondel-ondel. Tari ini diciptakan Wiwiek Widiastuti terinspirasi perjuangan gadis Betawi bernama Nyai Dasimah. 

Kisah hidup Nyai Dasimah mencerminkan pergolakan batin seorang wanita yang terjebak dalam dilema antara memilih pasangan hidup yang sesuai dengan kehendaknya atau mengikuti harapan keluarga dan tradisi.

Gerakan Tari Lenggang Nyai

Dilansir dari journal.unnes.ac.id, Nyai Dasimah dilanda kegalauan saat harus memilih antara dua pilihan hidup yaitu seorang pemuda Indonesia atau pemuda Belanda.

Setelah memutuskan untuk menikah dengan pemuda Belanda, Nyai Dasimah justru mengalami pengekangan dan perlakuan tidak menyenangkan dari suaminya. 

Pemberontakan dan perjuangan untuk mendapatkan kebebasan dan haknya sebagai seorang wanita yang dapat menentukan pilihannya inilah yang menginspirasi diciptakannya Tari Lenggang Nyai.

Musik Gambang Kromong

Secara umum, gerakan Lenggang Nyai menggambarkan keluwesan namun tetap mantap. Tari ini mencerminkan perasaan galau seorang gadis yang bingung menghadapi keputusan hidup, dengan gerakan yang bermakna kebimbangan. 

Namun, di sisi lain, gerakan ini juga mencerminkan keceriaan dan kebebasan tentang perasaan seseorang yang akhirnya mampu menentukan sikap hidupnya sendiri dengan penuh keyakinan.

Tari Lenggang Nyai, seperti tari tradisi Betawi lainnya, tidak terlepas dari iringan musik gambang kromong yang khas. 

Musik ini memberikan nuansa yang hidup, menggambarkan suasana hati dan semangat perjuangan yang terdapat dalam kisah Nyai Dasimah.

Baca juga:Tari Maengket Simbolisasi Syukur dalam Budaya Minahasa

Kostum Bernuansa Pecinan

Dalam segi kostum, tarian ini kental dengan pengaruh budaya Pecinan, terlihat dari warna-warna cerah yang mendominasi busana serta tutup kepala yang menyerupai kebudayaan Tionghoa. 

Kostum ini menjadi simbol dari akulturasi budaya yang tercipta di Jakarta, di mana berbagai elemen budaya saling mempengaruhi dan melahirkan sebuah karya seni yang unik.

Tari Lenggang Nyai pun dianggap menjadi simbol perjuangan seorang wanita dalam menentukan pilihannya di tengah konflik budaya dan sosial. 

Melalui gerakannya yang luwes dan penuh makna, tari ini mengingatkan kita akan pentingnya kebebasan dan hak individu untuk memilih jalan hidupnya sendiri. (Diolah dari berbagai sumber)

TopikBudaya
Budaya06 JAN 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Budaya

Lihat semua →
Tradisi makan bajamba

Makan Bajamba di Meja Diplomasi

Makan bajamba bukan sekadar tradisi bersantap bersama, melainkan cerminan kebersamaan dan penghormatan yang dapat menginspirasi jamuan diplomatik.

Ridwan
ampilan gim Kenupi karya U-Lika Studio yang mengangkat budaya Dayak Kenyah melalui seni piksel.

Petualangan Dayak Kenyah di Kenupi

Kenupi menghadirkan budaya Dayak Kenyah melalui gim berbasis seni piksel yang dikembangkan U-Lika Studio sebagai bagian dari kampanye Jejak: Jelajah Dayak Kenyah

Ridwan

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan