Budaya

Tari Suling Dewa, Tarian Pemanggil Hujan dari Lombok Utara

Tarian Suling Dewa berasal dari Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Kesenian ini menggunakan seruling yang terbuat dari bambu Buluh. Uniknya, tarian ini hanya ditampilkan selama musim kemarau, dengan tujuan utama memohon hujan. Menurut beberapa sumber, tari Suling Dewa berasal dari Desa Bayan, Nusa Tenggara Barat. Tarian Komunikasi Pada zaman dahulu kala desa ini mengalami kekeringan […]

Oleh Anisa Kurniawati

Tari Suling Dewa, Tarian Pemanggil Hujan dari Lombok Utara
Tiupan seruling dalam tarian ini dipercaya sebagai sarana komunikasi antara langit dan air hujan. Foto: Tangkapan layar Youtube Pelecing Official
Diterbitkan

Tarian Suling Dewa berasal dari Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Kesenian ini menggunakan seruling yang terbuat dari bambu Buluh. Uniknya, tarian ini hanya ditampilkan selama musim kemarau, dengan tujuan utama memohon hujan.

Menurut beberapa sumber, tari Suling Dewa berasal dari Desa Bayan, Nusa Tenggara Barat.

Tarian Komunikasi 

Pada zaman dahulu kala desa ini mengalami kekeringan parah hingga tiga tahun. Kekeringan itu menyebabkan tanaman gagal panen, mengancam kehidupan masyarakat dengan kelaparan. 

Dalam kondisi darurat ini, seorang sesepuh mendapat pencerahan dari suara langit. Komunitas atau masyarakat setempat diminta untuk melakukan ritual pemanggilan hujan melalui Tarian Suling Dewa.

Tiupan seruling dalam tarian ini dipercaya sebagai sarana komunikasi antara langit dan air hujan. Masyarakat setempat menganggap seruling ini keramat.

Mereka menyamakannya dengan manusia. Maknanya tanpa tiupan, seruling ini tidak menghasilkan suara, seperti manusia yang tidak bisa hidup tanpa roh.

Baca juga: Imunisasi Tradisional Balita Buton Melalui Tradisi Pedole-dole

Prosesi dan Ritual Tarian

Sebelum tarian dimulai, masyarakat menentukan hari, waktu, dan tempat yang baik. Disiapkan juga sesaji meliputi bunga, gula merah, ayam hitam, uang bolong, beras kuning, dan kapur sirih. 

Kapur sirih dianggap elemen terpenting yang diyakini bisa mendatangkan hujan. Prosesi dimulai dengan para sesepuh membawa sesaji ke dalam bale. Kemudian dilanjutkan membacakan mantra, termasuk beberapa ayat Al-Qur’an.

Hal ini dilakukan untuk meminta izin memulai ritual. Setelah izin didapatkan, para penari dan pembawa sesaji membentuk formasi tarian dengan kepala tertunduk sebagai penghormatan. Setelah itu, barulah ritual Tari Suling Dewa dilaksanakan.

Tarian ini diiringi suling dan syair atau tembang yang dibawakan Inan Gending. Kostumnya menggunakan sarung dan kain di pinggang untuk penari pria. Sementara penari wanita mengenakan sarung, kemben, dan selendang.

Tarian Suling Dewa tidak hanya untuk memohon hujan, tetapi juga dipercaya bisa mengusir hama dan binatang buas yang mengganggu. Ritual Suling Dewa juga kerap digunakan untuk mengiringi ritual-ritual adat tertentu, seperti ritual adat Ngasah Ngaponin Sesinggan atau cuci pusakan.

TopikBudaya
Budaya10 JAN 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Budaya

Lihat semua →
Tradisi makan bajamba

Makan Bajamba di Meja Diplomasi

Makan bajamba bukan sekadar tradisi bersantap bersama, melainkan cerminan kebersamaan dan penghormatan yang dapat menginspirasi jamuan diplomatik.

Ridwan
ampilan gim Kenupi karya U-Lika Studio yang mengangkat budaya Dayak Kenyah melalui seni piksel.

Petualangan Dayak Kenyah di Kenupi

Kenupi menghadirkan budaya Dayak Kenyah melalui gim berbasis seni piksel yang dikembangkan U-Lika Studio sebagai bagian dari kampanye Jejak: Jelajah Dayak Kenyah

Ridwan

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati