Budaya

Tari Topeng Cirebon, Bermula Dari Keraton

Salah satu kesenian yang dikenal di Cirebon, Jawa Barat adalah tari Topeng Cirebon. Tarian ini menggunakan topeng sebagai propertinya. Topeng Cirebon sendiri terdiri dari lima pokok topeng yang disebut juga Topeng Panca Wanda. Kelima topeng tersebut adalah Topeng Panji berwarna putih yang melambangkan kesucian bayi yang baru lahir. Topeng Samba (Pamindo), topeng anak-anak yang berwajah […]

Oleh Anisa Kurniawati

Tari Topeng Cirebon, Bermula Dari Keraton
Foto: wikimedia commons/ Rifki H.I
Diterbitkan

Salah satu kesenian yang dikenal di Cirebon, Jawa Barat adalah tari Topeng Cirebon. Tarian ini menggunakan topeng sebagai propertinya.  Topeng Cirebon sendiri terdiri dari lima pokok topeng yang disebut juga Topeng Panca Wanda. 

Kelima topeng tersebut adalah Topeng Panji berwarna putih yang melambangkan kesucian bayi yang baru lahir. Topeng Samba (Pamindo), topeng anak-anak yang berwajah ceria, lucu, dan lincah. Rumyang, wajahnya menggambarkan seorang remaja. 

Topeng Patih (Tumenggung), menggambarkan orang dewasa yang berwajah tegas, serta Kelana (Rahwana), topeng yang menggambarkan seseorang yang sedang marah. Topeng tersebut menggambarkan perjalanan dan karakter manusia dalam kehidupan sehari-hari.

Selain lima topeng, Ki Waryo (maestro Tari Topeng Cirebon gaya Palimanan) menyebutkan, pada masa silam di dalam gaya Palimanan juga dipentaskan tarian Ratu Kencana Wungu. Hal ini dibuktikan dengan keberadaan topeng Kencana Wungu yang masih disimpan hingga kinu.

Topeng tersebut mempresentasikan bahwa setiap manusia seperti mengenakan topeng. Misalkan jika ada orang dewasa yang sikapnya kekanak-kanakan maka ia seperti sedang mengganti topeng dewasanya dengan topeng anak-anak.

Baca juga: Museum Topeng Cirebon, Unik dan Edukatif

Berpusat di Keraton

Dilansir dari laman cirebonkota.go.id, Topeng Cirebon semula berpusat di Keraton-keraton, kemudian tersebar di lingkungan rakyat. Diketahui, tari topeng sudah dikenal sejak zaman Raja Majapahit, Hayam Wuruk, antara tahun 1300 sampai 1400 Masehi. 

Dalam Negarakertagama dan Pararaton dikisahkan raja ini menari dengan menggunakan topeng  emas. Hayam Wuruk menarikan topeng ini di lingkungan kaum perempuan istana Majapahit. Jadi Tari topeng Cirebon ini semula hanya ditarikan untuk penonton perempuan keluarga kerajaan. 

Setelah jatuhnya Majapahit (1525), tarian ini dihidupkan Sultan-sultan Demak. Hal ini diceritakan dalam babad, Raden Patah menari Klana di kaki Gunung Lawu dihadapan Raja Majapahit, Brawijaya. 

Tarian ini kemudian terbawa bersama penyebaran pengaruh politik Demak. Ketika itu Demak memperluas kekuasaannya di seluruh daerah pesisir Jawa, hingga sampai di Keraton Cirebon dan Keraton Banten. Topeng Majapahit ini hanya hidup di daerah pesisir Jawa Barat.

Baca juga: Wayang Kulit Cirebon, Media Diplomasi Dakwah Religi

Topeng Cirebon adalah simbol penciptaan semesta yang didasarkan pada sistem kepercayaan Indonesia purba dan Hindu-Budha-Majapahit. Topeng ini menyimbolkan bagaimana asal mula Sang Hyang Tunggal memecahkan diri-Nya. 

Pemecahan tersebut dibuat dalam pasangan-pasangan kembar yang saling bertentangan. Misalkan seperti terang dan gelap, lelaki dan perempuan, daratan dan laut. Dalam tarian ini digambarkan lewat tari Panji, yakni tarian yang pertama. 

Tari Panji menyimbolkan terciptanya alam semesta beserta manusia. Tarian ini mengulangi peristiwa primordial umat manusia, bagaimana “penciptaan” terjadi. Jadi tidak mengherankan jika di zaman dahulu hanya ditarikan oleh para raja untuk saudara-saudara perempuan saja.

TopikBudaya
Budaya10 NOV 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Budaya

Lihat semua →
Tradisi makan bajamba

Makan Bajamba di Meja Diplomasi

Makan bajamba bukan sekadar tradisi bersantap bersama, melainkan cerminan kebersamaan dan penghormatan yang dapat menginspirasi jamuan diplomatik.

Ridwan
ampilan gim Kenupi karya U-Lika Studio yang mengangkat budaya Dayak Kenyah melalui seni piksel.

Petualangan Dayak Kenyah di Kenupi

Kenupi menghadirkan budaya Dayak Kenyah melalui gim berbasis seni piksel yang dikembangkan U-Lika Studio sebagai bagian dari kampanye Jejak: Jelajah Dayak Kenyah

Ridwan

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati