Tradisi

Tari Topeng Patengteng, Tradisi Kawinkan Sumber Mata Air

Di antara kekayaan budaya Indonesia yang belum banyak diketahui, “Tari Topeng Patengteng” dari Desa Patengteng, Kecamatan Modung, Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur, menempati tempat khusus. Tarian ini bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan bagian dari tradisi sakral yang bertujuan untuk memohon kelimpahan air bagi masyarakat setempat. Setiap tahun, Tari Topeng Patengteng ditampilkan pada momen-momen tertentu dan menjadi […]

Oleh Achmad Aristyan

Tari Topeng Patengteng, Tradisi Kawinkan Sumber Mata Air
Beberapa topeng yang dipakai dalam ritual Tari Topeng Patengteng. Foto: desapatengteng.blogspot.com
Diterbitkan

Di antara kekayaan budaya Indonesia yang belum banyak diketahui, “Tari Topeng Patengteng” dari Desa Patengteng, Kecamatan Modung, Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur, menempati tempat khusus. 

Tarian ini bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan bagian dari tradisi sakral yang bertujuan untuk memohon kelimpahan air bagi masyarakat setempat. Setiap tahun, Tari Topeng Patengteng ditampilkan pada momen-momen tertentu dan menjadi salah satu bagian dari pagelaran budaya tahunan yang dinantikan oleh warga.

Tari Topeng Patengteng menggunakan lima topeng yang masing-masing mewakili sosok dengan karakteristik mistis berbeda. Dalam tarian ini, dua topeng putih berperan sebagai “punokawan” atau pengawal. Dua topeng lainnya berwarna kuning, menggambarkan “cokro panji”, sosok yang mewakili raja dan ratu. 

Sementara itu, satu topeng berwarna hijau melambangkan roh lokal yang dipercaya memiliki keterkaitan khusus dengan alam sekitar. Melalui simbolisme topeng-topeng ini, tarian tidak hanya menyuguhkan estetika, tetapi juga menyampaikan pesan spiritual yang dalam. Setiap gerakan mencerminkan penghormatan masyarakat kepada alam dan harapan akan keberlanjutan sumber daya air di daerah mereka.

Kearifan Lokal Desa Patengteng

Tari Topeng Patengteng selalu digelar dalam upacara “mengawinkan” dua sumber mata air.  Ritual ini dimaksudkan untuk menyatukan air dari dua sumber sebagai simbol keberlimpahan dan keberkahan. Ritual ini dilakukan di tiga tempat: diawali di rumah seorang tokoh masyarakat, dilanjutkan di sebuah sumur yang dipercaya sebagai “jantan”, dan berakhir di sumber air Sungai Langkap, yang dianggap sebagai “betina”. 

Setelah tarian selesai, air dari kedua sumber ini digabungkan sebagai simbol penyatuan. Menurut tokoh masyarakat setempat, upacara ini adalah cara untuk memohon keberkahan agar desa selalu mendapatkan pasokan air yang cukup. Melalui doa dan penghormatan kepada Sang Maha Kuasa, warga berharap sumber air yang ada akan tetap mengalir deras sepanjang tahun, memenuhi kebutuhan mereka.

Setiap gerakan dalam Tari Topeng Patengteng dipenuhi dengan pujian dan doa kepada Sang Pencipta. Tarian ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga perwujudan harapan warga agar sumber daya air di Desa Patengteng selalu terjaga. Dalam setiap pagelaran, para penari dan warga yang hadir turut larut dalam kekhusyukan, memohon agar tahun berikutnya tetap diberkahi kelimpahan air.

Ritual ini memang telah menjadi tradisi tahunan. Namun, untuk tahun ini, pelaksanaannya masih dalam penantian, sebab hingga kini debit air di desa masih melimpah, sehingga warga belum merasa perlu mengadakan upacara ini kembali. 

Tradisi ini juga menunjukkan bagaimana kearifan lokal dan rasa syukur masyarakat Patengteng kepada alam telah menjadi bagian penting dalam keseharian mereka. Tari Topeng Patengteng adalah warisan budaya yang tidak hanya memperkaya seni tradisional Indonesia, tetapi juga mengingatkan kita tentang pentingnya menjaga hubungan harmonis dengan alam. (Sumber: lontarmadura.com)

TopikTradisi
Tradisi04 NOV 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Tradisi

Lihat semua →

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan