Tradisi

Tradisi Badabus Dari Ritual Kebatinan Ke Seni Beladiri

Badabus atau dabus merupakan ritual kebatinan yang digunakan untuk kekuatan dan kekebalan tubuh. Kemudian ritual ini dikembangkan menjadi karya seni beladiri. Warisan budaya ini tersebar hampir di seluruh wilayah Maluku. Masyarakat Maluku dan Maluku Utara menyebut Dabus atau Badabus sebagai Ratib Taji Besi. Tradisi ini berawal dari perkembangan Islam awal, dibawa para mubaligh dan pedagang […]

Oleh Anisa Kurniawati

Tradisi Badabus Dari Ritual Kebatinan Ke Seni Beladiri
Tradisi Badabus. Foto: infopublik.id
Diterbitkan

Badabus atau dabus merupakan ritual kebatinan yang digunakan untuk kekuatan dan kekebalan tubuh. Kemudian ritual ini dikembangkan menjadi karya seni beladiri. Warisan budaya ini tersebar hampir di seluruh wilayah Maluku. 

Masyarakat Maluku dan Maluku Utara menyebut Dabus atau Badabus sebagai Ratib Taji Besi. Tradisi ini berawal dari perkembangan Islam awal, dibawa para mubaligh dan pedagang dari Arab yang berada di Ternate dan beberapa daerah di Maluku Utara. 

Pada waktu itu, pendekatan ketika menyebarkan Islam adalah dengan mengenalkan kebudayaannya terlebih dahulu. Tentunya kebudayaan tersebut tak terlepas dari nilai-nilai Islam. Tradisi ini diajarkan oleh khalifah, atau guru ngaji. 

Saat ini, di beberapa wilayah di Maluku Utara, termasuk Ternate, Tidore, dan Makian, dabus dilaksanakan dalam rangka memperingati hajatan tertentu. Misalkan seperti naik haji, orang meninggal, hingga pengobatan secara keagamaan.

Baca juga: Maelo Jalur, Tradisi Gotong Royong Menyeret Kayu dari Hutan

Atraksi Dabus

Ritual Dabus menggunakan properti utama berupa sepotong besi tajam. Salah satu ujung besi tersebut dipasang kayu dan rantai untuk pemberat. Selain itu, perlengkapan lainnya yang digunakan yaitu tempat pembakaran dupa, mangkuk putih yang berisi air dan bantal. Kemudian ada kitab amalan (Lefo) yang berisi ajaran Islam dalam tingkatan syariat, tharikat, hakikat, dan marifat. 

Setelah ritual selesai, biasanya terdapat minuman sarabati. Minuman ini terbuat dari jeruk nipis, jahe dan gula merah. Tradisi badabus dipimpin Joguru atau Syekh yaitu guru yang memiliki kemampuan dalam ilmu agama yang sudah mencapai ilmu Thariqat. 

Badubus diawali dengan pembacaan doa sebelum besi debus digunakan. Kemudian para jamaah memainkan badabus diiringi dengan zikir yang saling bersahut-sahutan. Setelah lantunan zikir selesai syekh membacakan syair-syair yang mengandung nasihat.

Proses selanjutnya yaitu syekh dan jamaah berdiri untuk melakukan munajjah kepada yang bersangkutan sesuai dengan niat dan hajatan. Kemudian syekh membacakan ayat Al-Qur’an untuk mendapatkan hidayah dari sang Khalid.  Selanjutnya dibacakan surat Al-Fatihah membacakan niat dan hajatan kemudian dilanjutkan dengan doa ungkapan syukur dan terima kasih. 

Baca juga: Upacara Belian Tradisi Pengobatan Suku Petalangan

Serupa Bekam

Besi untuk ritual debus digunakan setelah pembacaan doa. Syekh akan mengasapi si pelakon dengan asap kemenyan yang telah dibakar. Kemudian pelakon mengusapkan besi tersebut dari pundak kanannya ke atas kepala dan kemudian turun ke pundak kiri.

Besi atau ada yang menyebutnya alwan dihujamkan ke dadanya beberapa kali sebagai percobaan. Sebelumnya, sang Syekh telah melakukan percobaan tersebut dengan menikam dirinya sendiri. Setelah itu, pelakon berdiri dan menikamkan alwan ke dada, bahkan pahanya, sembari menari-nari. 

Ritual dabus dilakukan sekitar lima hingga sepuluh menit. Anehnya dalam sejarah ritual dabus, tidak ada seorang pun yang pernah terluka parah. Luka yang didapat terkadang hanya berupa luka lecet dengan sedikit darah. 

Menurut masyarakat setempa, dabus juga dapat difungsikan serupa bekam untuk mengeluarkan darah kotor dari tubuh. Konon, setelah melakukan ritual dabus, emosi negatif dalam diri seseorang akan hilang dan merasa damai. Dalam hukum Islam, dabus merupakan amalan tarekat. (Diolah dari berbagai sumber)

TopikTradisi
Tradisi02 DES 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Tradisi

Lihat semua →

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati