Komunitas Bugis memberikan kontribusi signifikan terhadap tradisi dan budaya di Balikpapan.
Meskipun Balikpapan terkenal dengan keanekaragaman etnisnya, sekitar 30 persen penduduknya berasal dari suku Bugis, yang datang ke kota ini pada tahun 1960-an ketika industri minyak mulai berkembang pesat.
Selain dalam aspek kuliner dan bahasa, mereka juga mempertahankan berbagai upacara tradisional. Melansir dari literasikalbar.com, salah satu tradisi yang menarik untuk disaksikan adalah “Bebuang”.
Upacara ini bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga mencerminkan kepercayaan dan hubungan kultural yang erat antara masyarakat Bugis dengan lingkungan mereka.
Bebuang, yang berarti “membuang,” adalah upacara yang dilakukan oleh komunitas Bugis sebagai bentuk penghormatan kepada nenek moyang mereka yang diyakini bersaudara dengan buaya.
Dalam tradisi Bugis, buaya merupakan hewan yang dihormati dan memiliki posisi penting dalam berbagai peristiwa.
Dalam pelaksanaan upacara Bebuang, keluarga akan mengenakan pakaian adat dan menuju pantai, membawa nampan yang terbuat dari batang dan daun pisang yang dibentuk menyerupai kapal.
Nampan tersebut berisi sesaji, seperti ketan putih, ketan kuning, ketan hitam, ayam putih, telur, rokok, lilin, uang, dan bahkan buaya kecil yang terbuat dari tepung.
Setelah ritual selesai, akan ada orang yang berenang mendekati sesaji untuk mengambil beberapa persembahan, seperti uang, pisang, dan ayam putih.
Sisa sesaji dibiarkan hanyut ke tengah laut, melambangkan penghormatan kepada nenek moyang.
Upacara Bebuang tidak dilaksanakan pada hari tertentu, melainkan dilakukan dalam momen-momen penting seperti kehamilan, pernikahan, dan persalinan.
Masyarakat Bugis percaya bahwa melewatkan ritual ini dapat membawa kemalangan, karena dianggap tidak menghormati nenek moyang.
Tempat-tempat populer seperti Pantai Monpera, Pantai Manggar, dan Pantai Lamaru seringkali menjadi lokasi ritual ini.
Para pelaksana upacara biasanya mengenakan pakaian adat yang mencolok, sehingga mudah dikenali oleh wisatawan yang ingin menyaksikan tradisi ini.
Untuk melihat tradisi Bebuang secara dekat, ada beberapa etika yang perlu diperhatikan. Penting untuk meminta izin dengan sopan kepada peserta ritual sebelum mengambil foto.
Menghargai privasi keluarga dan menunggu hingga upacara selesai adalah tindakan yang baik, serta bersikap sabar jika mereka tidak ingin menjawab pertanyaan.
Dengan segala keunikan dan maknanya, tradisi Bebuang menjadi salah satu warisan budaya yang memperkaya kehidupan masyarakat Balikpapan.
Selain itu, tradisi ini juga memberikan kesempatan bagi wisatawan untuk merasakan dan memahami lebih dalam tentang keberagaman budaya di Indonesia. (Diolah dari berbagai sumber)