Tradisi

Tradisi Dhukutan Simbol Kerukunan Akhiri Tawuran

Di Kabupaten Karaganyar, Jawa Tengah terdapat ritual tradisional bernama tradisi Dhukutan. Hingga kini tradisi ini masih lestari dan digelar masyarakat di Kampung Nglurah, Desa Nglurah, Kecamatan Tawangmangu. Daerah ini berjarak 35 km dari Kota Solo dan menjadi destinasi wisata budaya. Dahulu, Dhukutan digelar untuk merukunkan dusun karena sering tawuran yakni Nglurah Lor (Utara) dan Nglurah […]

Oleh Anisa Kurniawati

Tradisi Dhukutan Simbol Kerukunan Akhiri Tawuran
Diterbitkan

Di Kabupaten Karaganyar, Jawa Tengah terdapat ritual tradisional bernama tradisi Dhukutan. Hingga kini tradisi ini masih lestari dan digelar masyarakat di Kampung Nglurah, Desa Nglurah, Kecamatan Tawangmangu. Daerah ini berjarak  35 km dari Kota Solo dan menjadi destinasi wisata budaya.

Dahulu, Dhukutan digelar untuk merukunkan dusun karena sering tawuran yakni Nglurah Lor (Utara) dan Nglurah Kidul (Selatan).  Tradisi rutin digelar tiap Selasa Kliwon di wuku Dukut (kalender Jawa). Acara tradisi ini melibatkan para pemuda dan warga dari dua pedukuhan.

Kini prosesi Dhukutan sebagai simbol kedua desa telah kembali rukun dan membangun kebersamaan. Ritual Dhukutan ini simbol pemersatu antara kedua dusun. Kedua dusun kini selalu rukun dan hidup berdampingan.

Dukutan berlangsung di situs Candi Menggung yang merupakan leluhur Dusun Nglurah. Situs ini dikeramatkan warga Nglurah. Warga meyakini leluhur mereka – yang dipertemukan permusuhan dan diakhiri dengan perdamaian- yakni Kyai dan Nyai Menggung, bersemayam di punden itu.

Baca juga: Upacara Jembul Tulakan, Tradisi Turun-Temurun di Jepara

Warisan Budaya TakBenda

Dikutip dari Infopublik.id, Ritual Dhukutan dimulai dengan makanan dari nasi jagung yang didoaakan bersama. Usai didoakan, kemudian para pemuda yang membawa nasi jagung tersebut berputar-putar keliling desa. Kemudian melempar nasi jagung ke setiap orang yang ditemuinya. Namun akibat pelemparan itutidak ada warga yang marah atau dendam.

Upacara tradisi ini dilakukan setiap 7 bulan sekali. Tradisi dhukutan sudah dilakukan secara turun-temurun dari nenek moyang warga desa setempat. Saat ini, tradisi Dhukutan digelar dengan atraksi seni dari warga serta seni pertunjukkan reog, pakaian tradisional dan tarian.

Di setiap pergelaran tradisi ini, masyarakat dari berbagai daerah datang untuk menyaksikan. Tradisi ini pun telah menjadi salah satu wisata budaya yang dinantikan di daerah Karangayar dan sekitarnya.

Tradisi Dhukutan saat ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) pada tahun 2021 bersama tradisi Mondosiyo yang juga berasal dari Kabupaten Karanganyar.

TopikTradisi
Tradisi25 NOV 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Tradisi

Lihat semua →

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati