Setiap dua tahun sekali, warga Desa Somongari, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, menggelar tradisi Jolenan. Tradisi ini digelar sebagai bentuk ungkapan rasa syukur atas limpahan hasil bumi.
Nama “Jolenan” berasal dari kata “jolen” dalam bahasa Jawa. Kata ini memiliki makna “ojo kelalen” atau “jangan lupa.” Filosofi ini mengajarkan agar masyarakat selalu mengingat Tuhan yang telah memberikan rezeki berupa hasil pertanian dan kesehatan.
Acara ini diselenggarakan pada hari Selasa Wage di bulan Sapar dalam kalender Jawa dan telah berlangsung turun-temurun sejak zaman kolonial Belanda. Tradisi ini juga menjadi simbol persatuan dan kebersamaan antar warga.
Prossesi Arak-arakan Jolenan
Jolenan dilaksanakan setiap dua tahun sekali, bertempat di desa Kelahiran WR Supratman yaitu Desa Sommongari. Jolen sendiri terbuat dari rangka bambu berbentuk piramida yang dihiasi berbagai makanan dan hasil panen.
Makan itu seperti tumpeng, ayam panggang, tempe bacem, serta gorengan seperti ledre, rengginang, dan geblek. Di puncaknya, terdapat buah-buahan khas seperti durian, manggis, dan rambutan.
Jolen dibuat di setiap lingkungan RT yang kemudian diarak di Balai Desa Somongari untuk bersama-sama dilakukan kirab. Sebelum prosesi arak-arakan dimulai, seluruh jolen atau gunungan hasil bumi dikumpulkan di halaman balai desa.
Arak-arakan jolen dimulai dari balai desa dan berkeliling sejauh empat kilometer melintasi berbagai pedukuhan di Somongari. Perjalanan ini diiringi kesenian tradisional, seperti jaran kepang, reog, incling, ndolalak, dan hadroh, yang semakin memeriahkan suasana.
Setibanya di Pesarean Eyang Kedhono-Kedhini, dilakukan ritual kenduri dan doa bersama. Kemudian jolen diperebutkan warga, mereka meyakini bahwa bagian dari jolen dapat membawa berkah.
Puncak Perayaan dan Hiburan Rakyat
Setelah prosesi utama selesai, dilanjutkan pentas seni tayub hingga dini hari. Tayub dalam bahasa Jawa berarti “ditata supaya guyub,” simbol keharmonisan dan kebersamaan masyarakat.
Selain tayub, malam selanjutnya juga dimeriahkan dengan pertunjukan hiburan rakyat seperti orkes dangdut. Tradisi Jolenan yang hanya ditemukan di Desa Somongari telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada tahun 2016.
Dengan tagline “Perbawa Adiluhung Kaloka,” Jolenan mencerminkan karakter budaya yang luhur dan dikenal luas. Harapannya, tradisi ini dapat terus dilestarikan dan dipromosikan sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia. (Dari berbagai sumber)