Tradisi

Tradisi Mangain, Cara Suku Batak Mejaga Identitas Marganya

Tradisi Mangain merupakan tradisi masyarakat suku Batak di Sumatera Utara, yang dilakukan untuk mengangkat seorang anak dengan memberikan marga. Tradisi ini biasanya dilakukan di kalangan pasangan suami-istri baru yang melakukan pernikahan campuran. Bagi orang Batak pernikahan bukan hanya mengikat seorang laki-laki dan perempuan, namun juga turut mengikat dalam sistem kekerabatan. Pernikahan idealnya dilakukan oleh sesama […]

Oleh Anisa Kurniawati

Tradisi Mangain, Cara Suku Batak Mejaga Identitas Marganya
Pemberian ulos oleh pihak Tulang yang dianggap sebagai orangtua kedua bagi mereka yang menjalani Mangain. Foto: bent4indonesa.wordpress.com/ Anton Purba
Diterbitkan

Tradisi Mangain merupakan tradisi masyarakat suku Batak di Sumatera Utara, yang dilakukan untuk mengangkat seorang anak dengan memberikan marga. Tradisi ini biasanya dilakukan di kalangan pasangan suami-istri baru yang melakukan pernikahan campuran. 

Bagi orang Batak pernikahan bukan hanya mengikat seorang laki-laki dan perempuan, namun juga turut mengikat dalam sistem kekerabatan. Pernikahan idealnya dilakukan oleh sesama suku batak, karena keduanya memiliki marga yang diturunkan dari ayah mereka.

Akulturasi kebudayaan menjadi alasan di balik Tradisi Mangain yang dilakukan keenam suku Batak. Tradisi digelar bila ada keturunan Batak hendak menikahi seseorang yang bukan keturunan batak.

Tradisi Mangain bertujuan sebagai penguatan ikatan antar keluarga dan melestarikan keturunan. Selain itu supaya kedua keluarga saling dihargai keberadaannya atau di akui menjadi anggota dalam masyarakat Batak Toba. 

Prosesi Tradisi Mangain 

Tradisi Mangain dimulai dari Natorasna (orang tua). Prosesi ini yaitu sepasang orang tua disuapkan makanan sebanyak tiga kali. Makanan berupa nasi, ikan mas dan air jernih dari mata air.

Kemudian orang tua meletakkan ulos (selendang dari kain tenun khas batak) di pundak calon Mangain. ProsesI upacara dilanjutkan Hulahula alias pihak tulang (paman). Dari pihak hulahula dimulai dengan menyampaikan/memberikan ikan dilanjutkan memakaikan ulos. 

Tahapan selanjutnya yaitu Marsipanganon atau makan bersama seluruh tetamu atau pihak hadir. Kegiatan ini sebagai penguatan ikatan antar keluarga. Lalu dilanjutkan dengan penyiapan uang penggembira bagi mereka yang datang namun tidak dalam posisi sebagai pemberi ulos.

Upacara lainnya yaiatu memberi izin kepada Hulahula (keluarga laki-laki dari pihak istri atau ibu) untuk memberikan nasehat dan restu, lalu menutup acara Mangain dengan nyanyian atau doa. 

Tradisi Mangain Saat Ini

Upacara adat Mangain masih dilakukan sebagai masyarakat suku Batak di Sumatera Utara. Namun, beberapa memiliki kendala. Diantaranya yaitu membutuhkan dana yang besar. 

Kemudian terkait marga bagi pihak yang bukan dari suku batak. Mereka harus terlebih dahulu mencari pihak marga yang bersedia memberikan marga sesuai prosedur adat batak. Proses ini cukup sulit dilakukan. Alasannya karena tidak semua masyarakat siap menjadi orang tua angkat. 

Perubahan zaman membawa tantangan tersendiri bagi kelangsungan tradisi mangain. Tradisi ini merupakan warisan berharga yang telah diwariskan secara turun-temurun. Maka dari itu, menjaga kelestarian tradisi ini menjadi semakin penting. (Diolah dari berbagai sumber)

TopikTradisi
Tradisi16 DES 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Tradisi

Lihat semua →

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati