Budaya

Tradisi Pengusir Pageblug Melalui Kesenian Dongkrek Madiun

Dongkrek adalah kesenian tradisional khas dari Desa Mejayan, Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Kesenian ini memadukan tarian dan musik untuk mengisahkan perjuangan Raden Ngabei Lo Prawirodipuro dalam mengatasi wabah penyakit mematikan yang melanda wilayahnya tahun 1867. Wabah yang dikenal dengan istilah pageblug mayangkoro ini digambarkan menyebabkan kematian mendadak pada masyarakat, baik di pagi maupun […]

Oleh Achmad Aristyan

Tradisi Pengusir Pageblug Melalui Kesenian Dongkrek Madiun
Kesenian Dongkrek pernah mencapai masa kejayaannya pada periode 1867–1902. Foto: Tangkapan layar youtube Agoy Creative
Diterbitkan

Dongkrek adalah kesenian tradisional khas dari Desa Mejayan, Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur.

Kesenian ini memadukan tarian dan musik untuk mengisahkan perjuangan Raden Ngabei Lo Prawirodipuro dalam mengatasi wabah penyakit mematikan yang melanda wilayahnya tahun 1867. 

Wabah yang dikenal dengan istilah pageblug mayangkoro ini digambarkan menyebabkan kematian mendadak pada masyarakat, baik di pagi maupun sore hari.

Dalam pencariannya, Raden Ngabei Lo Prawirodipuro bermeditasi dan bertapa hingga mendapat wangsit untuk menciptakan tarian sebagai simbol pengusiran roh-roh jahat pembawa pageblug. 

Dengan mengadaptasi pesan itu, ia memperkenalkan Dongkrek sebagai media ritual untuk mengusir bala sekaligus menjadi bentuk hiburan rakyat.  

Makna di Balik Kesenian Dongkrek  

Melansir dari goodnewsfromindonesia.id, kesenian ini memiliki elemen naratif yang kuat, dengan tokoh-tokoh simbolis dalam setiap pertunjukannya.

Para pemain menggambarkan roh-roh jahat yang disebut buto kolo, dua perempuan tua yang melambangkan kelemahan manusia, dan lelaki tua sakti sebagai simbol kebajikan dan kebenaran. 

Dalam pementasan, roh-roh jahat digiring keluar lelaki tua dari desa itu setelah melalui pertempuran.

Dongkrek menjadi lambang kemenangan kebaikan atas kejahatan, sejalan dengan nilai filosofis Jawa seperti surodiro joyoningrat, ngasto tekad darmastuti, yang bermakna kebenaran pada akhirnya akan menang melawan kebatilan. 

Dalam Islam, ini sejalan ayat Ja’al Haq wa zahaqal Bathil. Innal Bathila Kaana Zahuqa (Kebenaran telah datang dan kebatilan lenyap; sesungguhnya kebatilan itu sesuatu yang pasti lenyap).  

Asal Nama Dongkrek  

Nama “Dongkrek” berasal dari bunyi alat musik yang dipakai  dalam pertunjukan. “Dong” berasal dari bunyi kendang atau bedug, sementara “krek” dari suara gesekan alat bernama korek, yaitu kayu berbentuk persegi dengan tangkai bergerigi. 

Kini, kesenian ini diperkaya instrumen lain seperti gong, kenong, kentongan, dan gong berry.  

Masa Kejayaan dan Pasang Surut  

Dilansir dari detik.com, Dongkrek mencapai masa kejayaannya pada periode 1867–1902. Namun, perjalanan kesenian ini tidak selalu mulus. 

Pada masa penjajahan Belanda, Dongkrek sempat dilarang karena dianggap membangkitkan semangat perlawanan rakyat.

Di era kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI), Dongkrek juga terstigma sebagai seni propaganda, sehingga popularitasnya mengalami pasang surut.  

Komposisi Seni dan Pesan Moral  

Setiap pertunjukan Dongkrek melibatkan tiga jenis topeng dengan makna simbolis:

Pertama, Topeng Buto yang memiliki wajah menyeramkan dan melambangkan roh jahat. 

Kedua, Topeng Perempuan yang menggambarkan tokoh sedang mengunyah kapur sirih, simbol kelemahan manusia. Ketiga, Topeng Orang Tua, sebagai lambang kebajikan dan kebijaksanaan.  

Melalui interaksi antara tokoh-tokohnya, Dongkrek menyampaikan pesan moral tentang pentingnya kebajikan dan kerja sama untuk menghadapi berbagai cobaan dalam kehidupan.

Keunikan dan Relevansi Saat Ini  

Sebagai seni tradisional, Dongkrek memiliki nilai budaya yang luar biasa. Selain sebagai media hiburan, kesenian ini juga merupakan pengingat pentingnya doa, usaha, dan kepercayaan pada nilai-nilai luhur dalam menghadapi tantangan. 

Hingga kini, Dongkrek sering ditampilkan dalam berbagai acara budaya, syukuran, dan pertunjukan seni di Madiun dan sekitarnya. 

TopikBudaya
Budaya02 FEB 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Budaya

Lihat semua →
Tradisi makan bajamba

Makan Bajamba di Meja Diplomasi

Makan bajamba bukan sekadar tradisi bersantap bersama, melainkan cerminan kebersamaan dan penghormatan yang dapat menginspirasi jamuan diplomatik.

Ridwan
ampilan gim Kenupi karya U-Lika Studio yang mengangkat budaya Dayak Kenyah melalui seni piksel.

Petualangan Dayak Kenyah di Kenupi

Kenupi menghadirkan budaya Dayak Kenyah melalui gim berbasis seni piksel yang dikembangkan U-Lika Studio sebagai bagian dari kampanye Jejak: Jelajah Dayak Kenyah

Ridwan

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan