Berita

Warga Pagerejo Usulkan Nama R.M. Sundoro untuk Jalan Candiyasan–Keseneng

Warga Desa Pagerejo, Kecamatan Kertek, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, bersama masyarakat dari delapan desa lain di lereng Gunung Sindoro, mengusulkan perubahan nama jalan Koridor Candiyasan–Keseneng. Jalan sepanjang kurang lebih 4 hingga 5 kilometer itu diharapkan bisa berganti nama menjadi Jalan Raden Mas Sundoro. Usulan ini dimunculkan sebagai bentuk penghormatan terhadap tokoh sejarah yang memiliki ikatan […]

Oleh Achmad Aristyan

Warga Pagerejo Usulkan Nama R.M. Sundoro untuk Jalan Candiyasan–Keseneng
Jalan Candiyasan–Keseneng dengan pemandangan alam berupa hamparan kebuh teh. Foto: Aristyan
Diterbitkan

Warga Desa Pagerejo, Kecamatan Kertek, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, bersama masyarakat dari delapan desa lain di lereng Gunung Sindoro, mengusulkan perubahan nama jalan Koridor Candiyasan–Keseneng.

Jalan sepanjang kurang lebih 4 hingga 5 kilometer itu diharapkan bisa berganti nama menjadi Jalan Raden Mas Sundoro.

Usulan ini dimunculkan sebagai bentuk penghormatan terhadap tokoh sejarah yang memiliki ikatan kuat dengan desa itu.

Mereka menginginkan agar jejak sejarah tokoh itu diabadikan melalui penamaan jalan.

Gagasan itu disampaikan dalam pertemuan pengembangan kawasan lereng Sindoro Candiyasan–Keseneng yang digelar pada Kamis, 17 April 2025.

Baca Juga: Candiyasan-Keseneng Disiapkan Jadi 5 Dieng Baru, Warga Diminta Pertahankan Tanah

Pertemuan itu turut dihadiri Sekretaris Daerah Kabupaten Wonosobo, One Andang Wardoyo, serta perwakilan Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama).

Sekretaris Desa Pagerejo, Tuwat Muh. Handoyo, menjelaskan bahwa warga Pagerejo telah mengusulkan nama itu sejak setahun lalu.

Menurutnya, nama Jalan R.M. Sundoro dipilih karena merupakan nama kecil atau nama lahir dari Sultan Hamengku Buwono II yang lahir di Desa Pagerejo.

“Warga Pagerejo sendiri sudah sejak setahun lalu mengusulkan untuk penamaan jalan Koridor Candiyasan–Keseneng itu menjadi Jalan R.M. Sundoro. Sesuai dengan nama kecil atau nama lahir dari Sultan Hamengku Buwono II yang lahir di desa Pagerejo ini,” ujar Tuwat saat ditemui pada 19 April 2025, dikutip dari Kabar Wonosobo.

Tuwat juga mengungkapkan bahwa pada tahun 2024 lalu, warga telah memasang plang penanda nama sebagai bentuk awal pengusulan.

Hal ini dilakukan dalam rangkaian proses pengusulan Sultan HB II sebagai Pahlawan Nasional.

Ia menyebut, pemilihan nama Raden Mas Sundoro dilandasi nilai-nilai sejarah yang diyakini masih hidup di tengah masyarakat.

“Menurut keterangan dari keluarga Trah HB II, dulunya Raden Mas Sundoro tinggal di sini sampai usia sekitar 12–14 tahun di masa peperangan. Sehingga harapan dari warga kami, kesejarahan itu diabadikan dengan nama jalan baru yang kini jadi atraksi wisata,” imbuhnya.

Senada dengan itu, Kepala Desa Pagerejo, Nurwadi, menilai bahwa penamaan Raden Mas Sundoro tidak hanya penting secara historis.

Menurutnya, nama R.M. Sundoro juga memperkuat peran jalan itu sebagai jalur wisata.

“Pemberian nama jalan R.M. Sundoro selain dilatarbelakangi menjadi tempat lahirnya Sultan Hamengkubuwono II juga menjadi Jalur Wisata. Sehingga Desa Pagerejo khususnya dan desa sekitarnya menerima pemanfaatannya,” ungkap Nurwadi.

Dukungan terhadap usulan ini juga datang dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo.

Baca Juga: Pemkab Wonosobo Gelar Bimtek Penyusunan Pohon Kinerja dan Cascading

Kepala dinas, Agus Wibowo, pada 2024 lalu pernah menyebut bahwa penamaan jalan itu sangat relevan dengan kearifan lokal.

“Lokasi tersebut ada sejarah yang menguatkan. Terlebih lagi, jalan baru itu merupakan jalan kabupaten yang memiliki kondisi aspal bagus, dan menghubungkan jalan utama Wonosobo–Semarang ke jalan lingkar utara (arah Dieng),” ujarnya.

Adapun terkait prosedur administratif, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Wonosobo, Nurudin Ardiyanto, mengatakan bahwa proses penggantian nama jalan harus mengikuti aturan yang berlaku.

“Karena nama yang sekarang sudah di-Perdakan (Koridor Candiyasan–Keseneng), maka pengusulan nama baru harus diawali dengan pencabutan Perda yang lama lalu diusulkan nama baru,” jelas Nurudin saat ditemui pada 21 April 2025.

Sampai saat ini, warga Pagerejo dan pemerintah desa masih menantikan tindak lanjut dari pemerintah daerah.

Mereka berharap, nama baru itu tidak hanya memperkuat identitas kawasan, tetapi juga menjaga warisan sejarah yang berakar dari lereng Gunung Sindoro.

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT

Lainnya dari Berita

Lihat semua →
Ikan arwana Super Red asal Kalimantan Barat yang dikenal dari kawasan Kapuas Hulu dan Danau Sentarum.

Kearifan Lokal Menjaga Arwana Super Red Kalbar

Arwana Super Red Kalimantan Barat dikenal di pasar ikan hias internasional. Di sekitar Danau Sentarum, pengetahuan dan keterlibatan masyarakat berperan menjaga kelestarian ikan kebanggaan daerah ini.

Ridwan
Budaya Batang Menelusuri Jejak Mataram

Budaya Batang Menelusuri Jejak Mataram

Dialog budaya Batang dan DI Yogyakarta membuka kembali pembahasan hubungan sejarah pesisir utara Jawa dengan Mataram Islam yang menjadi bagian dari upaya penelitian serta pelestarian warisan sejarah.

Ridwan

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan