Profil

8 Lukisan Seniman Indonesia Ini Terjual Milyaran Rupiah 

Indonesia memiliki banyak seniman lukisan yang terkenal, baik di kancah nasional maupun internasional. Lukisan-lukisan ini merupakan bukti bahwa seni di Indonesia ternyata mampu membawa nama Indonesia hingga ke mancanegara. Sederet lukisan karya seniman Indonesia ini bisa mencapai nilai fantastis di pasar seni internasional. Beberapa di antaranya bahkan terjual hingga miliaran rupiah. Berikut adalah tujuh lukisan […]

Oleh Anisa Kurniawati

8 Lukisan Seniman Indonesia Ini Terjual Milyaran Rupiah 
Lukisan “Wild Bull Hunt” atau “La Chasse au Taureau Sauvage” salah satu karya Raden Saleh yang terjual hampir 150M di Perancis. Foto: Wikimedia Commons
Diterbitkan

Indonesia memiliki banyak seniman lukisan yang terkenal, baik di kancah nasional maupun internasional. Lukisan-lukisan ini merupakan bukti bahwa seni di Indonesia ternyata mampu membawa nama Indonesia hingga ke mancanegara.

Sederet lukisan karya seniman Indonesia ini bisa mencapai nilai fantastis di pasar seni internasional. Beberapa di antaranya bahkan terjual hingga miliaran rupiah. Berikut adalah tujuh lukisan yang mencatat rekor penjualan tertinggi:

  • Perburuan Banteng oleh Raden Saleh

Lukisan yang juga disebut sebagai “Wild Bull Hunt” atau “La Chasse au Taureau Sauvage”, salah satu karya Raden Saleh yang sangat terkenal. Lukisan ini bertema perburuan yang memperlihatkan konflik antara manusia dan hewan yang liar. 

Perburuan Banteng karya Raden Saleh, ini terjual hampir Rp 150 miliar di Prancis, mencatat rekor penjualan yang menghebohkan dunia seni.

  • Pasukan Kita yang Dipimpin Pangeran Diponegoro oleh S. Sudjojono

S.Sudjojono dijuluki sebagai Bapak Seni Lukis Modern Indonesia. Dia juga pelukis yang kali memperkenalkan modernitas seni rupa Tanah Air dengan konteks kondisi faktual sekaligus pionir dari Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi).

Lukisan Pasukan Kita yang Dipimpin Pangeran Diponegoro menggambarkan kemenangan Pangeran Diponegoro dan pasukannya melawan Belanda dalam Perang Jawa.

Karya ini laku Rp 85,7 miliar di Balai Lelang Sotheby’s Hong Kong, tiga kali lipat dari estimasi awal.

  • A View of Mount Megamendung oleh Raden Saleh

Lukisan bertajuk ‘A View of Mount Megamendung’ ini merupakan salah satu karya langka dari Raden Saleh yang dituangkan dalam kanvas besar berukuran 134 x 165,5 cm. Lukisan ini terjual seharga Rp 36 miliar di Prancis dan dibeli oleh kolektor asal Inggris.

  • Lights for the Layer karya Ay Tjoe Christine

Lukisan ini terjual dengan harga fantastis, menembus Rp 36 miliar di  rumah lelang Sotheby’s Singapura, 18 Januari 2025.

Lights for the Layer adalah sebuah lukisan abstrak yang berenergi, didominasi warna merah dan dikelilingi warna palet merah tua, biru langit, oker, dan cokelat, dan di bagian tengah seperti ada goresan tangan tak beraturan.

  • Prosesi Warga Bali oleh Lee Man Fong

Lee Man Fong adalah seorang pelukis Indonesia yang dilahirkan di Tiongkok. Dia dikenal sebagai pelukis istana di era Presiden Soekarno. Lukisan Prosesi Warga Bali ini menggambarkan masyarakat Bali tentang upacara adat. Pada 2013, karya ini laku Rp 34 miliar melalui Lelang Christie’s Hong Kong. 

  • Bathing in the Shower oleh Hendra Gunawan

Lukisan ini menggambarkan tiga wanita yang tengah melakukan bersih diri. Bathing in the Shower terjual dengan harga 30 kali lebih tinggi dari lelang pertamanya di Singapura pada tahun 1996 silam.

Kemudian pada Oktober 2015, lukisan ini terjual Rp 18 miliar di Balai Lelang Sotheby’s Hong Kong. 

  • The Man From Bantul (The Final Round) oleh I Nyoman Masriadi

I Nyoman Masriadi adalah pelukis kelahiran Bali. Lukisan-lukisan Nyoman Masriadi sering menggambarkan tokoh-tokoh manusia super yang penuh dengan narasinya, meskipun berakar pada sejarah budaya Indonesia. 

Karya The Man From Bantul (The Final Round) menggambarkan peta perpolitikan Indonesia yang juga terinspirasi dari komik DC dan permainan game.

Karya ini terjual Rp 10 miliar di Hong Kong. Masriadi adalah pelukis Bali yang menetap di Yogyakarta.

  • Berburu Celeng oleh Djoko Pekik

Lukisan ini terjual seharga Rp 1 miliar. Djoko Pekik dikenal dengan gaya ekspresionis yang kuat dalam karyanya. Lukisan yang dibuat pada 1998 ini dianggap sebagai gambaran keadaan pemimpin Indonesia pada era Orde Baru. 

Para seniman ini memberikan kontribusi besar dalam perkembangan seni rupa di Indonesia dan menjadi inspirasi bagi generasi seniman berikutnya.

Di samping itu, prestasi ini menunjukkan apresiasi tinggi terhadap karya seni Indonesia di kancah internasional, sekaligus mengukuhkan posisi para seniman Indonesia dalam sejarah seni rupa dunia. (Dari berbagai sumber)

TopikProfil
Profil22 JAN 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Profil

Lihat semua →

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati