Makanan kecil Brem merupakan penganan legendaris yang berasal dari Madiun, Jawa Timur. Kudapan ini terbuat fermentasi tape ketan. Kini brem tidak hanya dapat ditemukan di Jawa Timur, tetapi juga di banyak daerah lain juga seperti Jawa Tengah dan Bali.
Bentuk Brem umumnya persegi panjang, berwarna putih gading, tersusun rapi simetris dalam kemasan. Rasanya asam manis.
Nama brem berasal dari kata peram. Dalam bahasa Jawa, istilah peram berarti proses menyimpan bahan dalam waktu tertentu. Hal ini dikarenakan proses pembuatannya harus diperam.
Proses peram atau fermentasi tape ketan ini berlangsung selama tujuh hari tujuh malam. Istilah prem kemudian dilafalkan menjadi “prem,” yang kemudian berubah menjadi “brem.”
Sejarah Brem
Brem sudah ada sejak masa kolonial. Pada saat itu, brem merupakan makanan yang tergolong mewah. Hanya segelintir orang yang mampu membelinya, mengingat saat itu kebutuhan pokok seperti nasi pun sulit terpenuhi.
Menurut beberapa sumber, brem berasal dari Dusun Bodang. Kudapan ini dibuat Marsiyem yang telah menguasai teknik pembuatan brem sejak usianya masih belasan tahun. Ia mempelajari cara membuat brem dari Mbah Lurah Dusun Bodang.
Pada masa lalu, mendapatkan bahan baku dan alat untuk membuat brem bukanlah perkara mudah. Marsiyem harus menempuh perjalanan jauh ke pusat kota Madiun.
rem yang awalnya hanya diproduksi di Dusun Bodang kemudian menyebar ke beberapa dusun lain.
Baca juga: Kuliner Legendaris Bubur Gunting Warisan Leluhur Singkawang
Proses Pembuatan Brem
Pembuatan brem diawali dengan mencuci beras ketan hingga bersih, lalu dikukus selama 20 menit. Setelah itu, beras ketan dicuci kembali dan dikukus lagi selama 1,5 jam untuk memastikan warna brem nantinya tetap putih.
Setelah matang, nasi ketan didinginkan di atas kain, kemudian ditaburi ragi untuk fermentasi. Pemberian ragi harus dilakukan saat nasi benar-benar dingin, karena jika masih hangat, brem yang dihasilkan akan memiliki rasa kecut.
Fermentasinya selama tujuh hari hingga ketan berubah menjadi tape dengan tekstur lunak dan berair.
Air tape inilah yang menjadi bahan utama brem. Tape ketan kemudian diperas untuk mendapatkan sari tape yang lebih jernih, lalu direbus hingga sarinya terpisah.
Setelah itu, adonan diaduk menggunakan mesin hingga berbentuk pasta. Adonan ini kemudian dicetak sesuai selera, baik dalam bentuk persegi panjang pipih maupun bulat pipih.
Langkah terakhir adalah menjemur atau memanggang brem hingga kering sebelum dikemas.
Ampas tape ketan yang tersisa tidak dibuang begitu saja. Teksturnya yang lunak namun kering biasanya dimanfaatkan untuk membuat bolu kukus dengan aroma khas tape. Cukup dengan mencampurkannya dengan telur, gula, garam, dan tepung, lalu dikukus hingga matang.
Seiring perkembangannya, brem juga dibuat dengan berbagai rasa seperti cokelat, stroberi, melon, jeruk, bahkan durian. Hal ini dilakukan supaya Brem lebih bervariasi dan tidak hanya menjadi makanan khas Indonesia tapi juga bisa mendunia.
